Merger antara XL Axiata dan Smartfren telah resmi rampung, menandai lahirnya perusahaan telekomunikasi baru bernama XLSmart. Nilai gabungan kedua perusahaan ini mencapai lebih dari Rp 104 triliun, menciptakan entitas yang kuat di industri telekomunikasi Indonesia.
Axiata Group dan Sinar Mas Group, masing-masing akan memegang 34,8 persen saham di XLSmart. Kesepakatan ini telah mendapatkan restu dari Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, menunjukkan dukungan pemerintah terhadap konsolidasi di sektor ini.
Susunan Direksi dan Komisaris XLSmart
Keberhasilan merger ini juga ditandai dengan kehadiran figur-figur terkemuka di jajaran direksi dan komisaris XLSmart. Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk membangun manajemen yang solid dan berpengalaman.
Retno Lestari Priansari Marsudi, mantan Menteri Luar Negeri, ditunjuk sebagai Komisaris Independen. Sementara Arsjad Rasjid, mantan Kepala KADIN, dipercaya untuk memimpin sebagai Presiden Komisaris.
Jajaran Direksi XLSmart:
Jajaran Komisaris XLSmart:
Presiden Komisaris XLSmart dijabat oleh Arsjad Rasjid. Ia akan bekerja sama dengan komisaris lainnya, termasuk Vivek Sood, L Krisnan Cahya, Nik Rizal Kamil, Sean Quek, David R Dean, Retno Lestari Priansari Marsudi (Komisaris Independen), Robert Pakpahan (Komisaris Independen), dan Willem Lucas Timmermans (Komisaris Independen).
Proses Merger XL Axiata dan Smartfren
Proses merger ini dimulai dengan pengumuman resmi pada akhir tahun lalu dan membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk mencapai tahap final. Penandatanganan persetujuan penggabungan XL Axiata, Smartfren Telecom, dan Smart Telcom dilakukan pada 10 Desember 2024.
Franky Oesman Widjaja, Chairman Sinar Mas Telecommunications & Technology, menjelaskan bahwa dukungan dari Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Anwar Ibrahim melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada 27 Januari lalu sangat krusial dalam keberhasilan merger ini.
MoU tersebut menandai kolaborasi antara Axiata Group Berhad dan Sinar Mas, meliputi persetujuan atas merger dan kerjasama lainnya. Ini menunjukkan dukungan kuat dari pemerintah terhadap konsolidasi industri telekomunikasi di Indonesia.
Tujuan dan Dampak Merger
Vivek Sood, Group Chief Executive Officer Axiata Group, mempercayai bahwa konsolidasi ini akan mendorong konektivitas yang lebih baik di Indonesia dan ASEAN, sekaligus membantu mengatasi kesenjangan digital.
“Merger XL Axiata dan Smartfren ini merupakan langkah penting dalam membangun fondasi ekonomi digital yang tangguh,” kata Vivek. Pernyataan ini menekankan tujuan strategis merger untuk memperkuat infrastruktur digital Indonesia.
Franky Oesman Widjaja, Chairman Sinar Mas Telecommunication and Technology, menambahkan bahwa merger ini bertujuan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan. Ia menargetkan peningkatan layanan, konektivitas, dan inovasi, serta mendukung program pemerintah untuk transformasi digital.
“Antara lain melalui layanan yang prima, konektivitas digital, dan inovasi, termasuk untuk mendukung upaya Pemerintah Indonesia dalam mendorong transformasi digital,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan komitmen perusahaan untuk berkontribusi pada pembangunan ekonomi digital Indonesia.
Secara keseluruhan, merger XL Axiata dan Smartfren merupakan tonggak penting bagi industri telekomunikasi Indonesia. Dengan dukungan pemerintah dan tim manajemen yang kompeten, XLSmart diharapkan dapat menjadi pemain utama dalam mendorong transformasi digital dan meningkatkan konektivitas di Indonesia.





