Home >  Berita >  Peristiwa

Simpati Indonesia Untuk Para Korban Ledakan Lebanon

Simpati Indonesia Untuk Para Korban Ledakan Lebanon
Anggota Komisi 1 DPR RI, Sukamta. (Ist)
Jum'at, 07 Agustus 2020 10:16 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Menanggapi peristiwa ledakan yang terjadi di pelabuhan Beirut (4/8/2020) yang hingga Kamis (6/8/2020) menyebabkan sedikitnya 135 korban jiwa dan 5000 orang alami luka-luka, Anggota Komisi 1 DPR RI, Sukamta menyampaikan rasa duka cita dan keprihatinan yang mendalam.Peristiwa ledakan itu tentu akan menambah derita masyarakat Lebanon yang tengah dirundung krisis politik dan ekonomi serta pandemi Covid-19. Untuk itu, Indonesia perlu memberikan bantuan untuk meringankan derita masyarakat Lebanon yang menjadi korban.

"Meski saat ini Indonesia juga sedang alami kondisi ekonomi yang berat akibat pandemi Covid-19, saya kira tetap perlu kita sebagai negara sahabat memberikan bantuan kepada masyarakat Lebanon yang menjadi korban ledakan. Dalam hal ini Kedubes RI di Lebanon bisa memberikan ilustrasi kebutuhan apa saja yang diperlukan di sana," kata Sukamta dalam pesan tertulis kepada media, Jumat (7/8/2020). 

Lebih lanjut Wakil Ketua Fraksi PKS ini juga memberikan apresiasi kepada Kedubes RI di Lebanon yang telah bertindak cepat untuk memantau kondisi WNI di sana. Apresiasi juga diberikan Sukamta kepada Kontingen Garuda yang tergabung dalam Misi Perdamaian PBB UNIFIL yang ikut membantu penanganan pasca ledakan dengan melakukan evakuasi korban.

Ads
"Kita harapkan KBRI di Lebanon terus memantau kondisi WNI dan memberikan bantuan yang memadai jika diperlukan. Mengingat peristiwa ledakan ini mungkin akan membuat situasi krisis di Lebanon lebih buruk. KBRI perlu antisipasi hal ini, meski kita tentu tidak berharap hal ini terjadi," ujarnya. 

Menurut Sukamta, peristiwa ledakan yang diduga terkait penyimpanan 2.700 ton amonium nitrat secara tidak aman ini juga perlu menjadi kewaspadaan supaya tidak terjadi di Indonesia.

"Beberapa peristiwa serupa pernah terjadi, seperti di Tianjin China pada tahun 2015, Ryongchon Korea Utara tahun 2004 dan di Texas Amerika Serikat pada 1947. Saya kira pemerintah perlu pastikan jika ada penyimpanan zat yang mudah meledak, harus tersimpan sesuai standar pengamanan dan ditempatkan di gudang yang jauh dari permukiman penduduk," tegasnya. ***

www www