Home >  Berita >  Peristiwa

Untuk Pertama Kalinya Nusantara Mengaji Gelar MKK Virtual dengan Tafsir Bahasa Daerah

Untuk Pertama Kalinya Nusantara Mengaji Gelar MKK Virtual dengan Tafsir Bahasa Daerah
Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid. (Dok. MPR)
Selasa, 23 Juni 2020 17:43 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Nusantara Mengaji kembali bikin hajatan besar guna mencetak generasi pecinta dan penghafal Alquran di Indonesia.

Namun kali ini, agenda Nusantara Mengaji mengadakan kegiatan Musabaqoh Kitab Kuning (MKK) dengan cara yang berbeda dari biasanya.

Di mana saat Pandemi Covid-19 masih melanda Tanah Air, kegiatan lomba Musabaqoh Kitab Kuning (MKK) dilaksankan dengan metode virtual.

Demikian diungkapkan Koordiantor Nasional Nusantara Mengaji, Jazilul Fawaid, Senin (22/6/2020) malam.

Ads
"Acara ini mencetak sejarah baru bagi kami. Selain dilakukan virtual, peserta diwajibkan membaca Ayat, mengartikan dan menjelaskanya dengan memakai bahasa Ibu," ujarnya.

Bahasa Ibu yang Ia maksud adalah bahasa warisan atau bahasa daerah masing-masing asal peserta. "Jika sebelumnya menggunakan bahasa Indonesia, MKK kali ini wajib menggunakan bahasa daerah," tandasnya.

Alasanya kata Gus Jazil, sapaan akrabnya. Karena Nusantara ini kaya akan ragam bahasa, dan Alquran katanya lagi, juga bisa dijelaskan dengan bahasa daerah seperti Sunda, Madura, Jawa, Bugis, Batak, Melayu dan daerah lainnya.

"Kita perlu menjaga kelestarian bahasa yang ada di Indonesia. Dengan menjelaskan isi Alquran menggunakan bahasa daerah, masyarakat setempat juga bakal lebih paham dan mudah untuk menyerapnya," katanya.

Kegiatan MKK itu kata Wakil Ketua MPR RI ini, saat ini sudah diikuti 785 yang sudah mendaftar dari seantero Nusantara.

"Dan kurang lebih ada 50 peserta yang sudah tampil dalam bahasa daerah yang berbeda, dari aceh, palembang, Jawa, Jawa Ngapak, Sunda, Madura, Kalimantan, Bugis dan Kaili. Kebanyakan peserta masih dari daerah jawa," urainya.

"Saya berharap Alquran akan lebih dicintai oleh segenap suku di Negara kita. Saya pun berharap Alquran bisa menjadi daya perekat kebhinekaan Nusantara, jadikan sarana pemersatu, bukan jadi alat adu domba. Jika kita cinta Alquran maka kita akan cinta Indonesia Nusantara," paparnya.***
www www