Home >  Berita >  Peristiwa

Effisensi dan Transformasi, Langkah Konsisten Erick Tohir Bangun BUMN

Effisensi dan Transformasi, Langkah Konsisten Erick Tohir Bangun BUMN
Senin, 15 Juni 2020 00:39 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Semenjak dilantik menjadi Menteri BUMN, Erick Thohir (ET) tak pernah henti bergerak dan mencipta langkah strategis di tubuh kementriannya. Ia benar-benar menunjukkan taringnya.

Atas nama efisiensi dan efektifitas, ET bahkan memangkas empat jabatan deputi di kementeria yang di era Rini Soemarno diisi oleh tujuh orang menjadi hanya tiga orang.

Demikian diungkapkan Ketua Dewan Pakar IMI (Indonesia Maju Institut), Lukman Edy kepada GoNews.co melalui siaran persnya, Minggu (14/6/2020).

"Alasan yang dikemukakan Erick Tohir adalah arahan Presiden Joko Widodo untuk mempercepat gerak dalam membangun bangsa, serta penyederhanaan birokrasi yang sudah dicanangkan Presiden Jokowi dalam pidato pelantikan Presiden 2019-2024 di hadapan Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI," ujarnya.

Ads
Selesai melakukan perampingan di tubuh kementrian, pada bulan April lalu kata LE sapaan akrab Lukman Edy, ET resmi memulai penutupan total 51 anak dan cucu perusahaan BUMN dari 3 perusahaan, yakni Garuda Indonesia, pertamina dan Telkom.

"Dari Garuda Indonesia, 6 anak perusahaan ditutup, dari pertamina 25 anak usaha perusahaan akan ditutup dalam kurun waktu 2 tahun ini, dan dari Telkom ditargetkan tahun ini 20 anak perusahaan akan segera ditutup. Kebijakan ini merupakan bagian dari rasionalisasi dan efisiensi perusahaan-perusahaan BUMN," urainya.

Masih kata Lukman Edy, Erik Tohir juga berencana menggabungkan PTPN, Perum Bulog, dan Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) ke dalam klaster BUMN pangan.

Hal ini dilakukan untuk mendorong terbentuknya rantai industri pangan yang terkonsolidasi di BUMN. "Saat ini BUMN pangan memiliki 130.000 hektare tanah di bawah PTPN. Selain itu, ada 140.000 lahan yang dimiliki oleh rakyat yang dikelola BUMN," tukasnya.

Dengan aset seluas itu kata Lukman Edy, seharusnya dapat untuk menyeimbangkan kebutuhan 3,5 juta ton gula di Indonesia, yang mana 36 persen di antaranya dipenuhi oleh swasta dan 800.000-900.000 ton dari impor.

" Pak Erick berharap dengan penggabungan klaster pangan ini, BUMN dapat mengurangi impor dan ke depannya bisa mewujudkan ketahanan pangan menuju Indonesia Emas tahun 2045," tegasnya.

Sementara untuk di tubuh pengelola BUMN pangan, PT Perkebunan Nusantara III (PTPN-III Persero) selaku holding juga dilakukan perombakan susunan organisasi dengan merampingkan seluruh jumlah Direksi anak perusahaan di bawah Grupnya. Perombakan mulai dilakukan dari PTPN I, II, IV sampai dengan PTPN XIV.

"Setelah melakukan perombakan di BUMN pangan dan perkebunan, berikutnya dalam waktu beberapa hari saja, pak Erick telah merombak seluruh direksi BUMN Karya. Kader-kader muda dan enginer-enginer muda mewarnai susunan direksi. Beberapa petinggi BUMN Karya yang sudah mengabdi lebih dari 30 tahun, seperti Bintang Perbowo (HK), Lukman (PP), Tumiyono (Wika), dan Gusti Ngurah Putra (Waskita) diganti dengan generasi yang lebih baru," tukasnya.

Enginer muda dan professional muda yang selama ini menjadi "talent bank" dilingkungan BUMN, dirotasi antar BUMN, disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuannya masing-masing, terutama pada jajaran BOD (Board of Director). "Jadi tidak hanya di Direktur Utama, tetapi banyak pula pergantian di tubuh direksi lainnya," tandasnya.

Setelah memangkas sejumlah Deputi di kementrian, membongkar Holding PTPN, BUMN kekaryaan, terakhir ET merombak direksi Pertamina. Susunan direksi PT Pertamina yang semula 11, kini jumlahnya tinggal separo, hanya 6 jabatan. Perombakan ini dilakukan dalam rapat umum pemegang saham tahunan PT Pertamina beberapa hari yang lalu.

Jika ditarik benang merah dari sekian rentetan kebijakan yang diambil oleh ET, sesungguhnya akan ditemukan suatu pola kebijakan yang konsisten dan terukur. Dari sudut pandang reformasi birokrasi, apa yang dilakukan oleh ET sesungguhnya merupakan bagian dari apa yang disebut dengan efisiensi dan transformasi (ET).

Atas beberapa kebijakan tersebut Lukman Edy memberikan catatan sebagai berikut:

1.Menteri BUMN konsisten melakukan pemangkasan struktur yang menyebabkan biaya tinggi serta lebih menggambarkan rumitnya birokrasi dibanding effisiennya bisnis dijalankan. Menteri BUMN sedang menjalankan dua ajaran David Osborne, yakni Efisiensi dengan cara memangkas birokrasi, dan Transformasi dengan cara mewirausahakan birokrasi.

Dua kaca pandang dalam karya masterpiece David Osborne, 'Banishing Bureucracy' dan 'reinventing Goverment' akan mudah digunakan dalam melihat langkah-langkah yang dilakukan oleh ET. Gagasan dasar Osborne sesungguhnya adalah mencangkok manajemen bisnis profesional ke dalam tubuh birokrasi dan pemerintahan. Tubuh birokrasi yang selama ini cenderung gemuk dan malfungsi, dirampingkan agar dapat berjalan secara efektif dan lincah. Sedangkan kebijakan yang diambil dengan pola penataan profesional diharapkan membawa transformasi visi pemerintahan menjadi lebih efisien dan produktif.

2.Sebagai seorang profesional, sebenarnya apa yang dilakukan oleh ET tidaklah mengherankan; sebab profesionalisme bagi ET sudah menjadi habbit, karenanya nalar bisnis efisiensi dan transformasi dipastikan akan mewarnai kebijakannya. Ibarat gerak tubuh, ia sudah menjadi 'gerak reflek' dari seorang profesional.

3.Menteri BUMN menunjukkan integritasnya, dengan tidak terpengaruh berbagai tekanan internal maupun eksternal. Bukan tidak sedikit tekanan di internal BUMN yang merasa tidak nyaman dengan kencangnya menteri ET. Kasak kusuk di internal sudah seperti lebah, mendengung. Begitu juga eksternal tidak kurang banyaknya yang membebani menteri ET, tapi beliau konsisten mengeksekusi visi transformasinya. Seperti batu karang, tak tergoyahkan, walau angin dan ombak menerpa. Sikap integritas seperti ini tentunya ditempa oleh kecerdasan dan pengalaman yang mumpuni dalam dunia bisnis.

4.Pada aspek operasional dengan kebijakan mengganti figur2 senior dengan yang lebih muda, adalah gambaran keinginan Menteri Erik, agar BUMN2 lebih progresif dan bergerak cepat, apalagi hari ini BUMN menjadi andalan untuk bangkitnya ekonomi nasional, paska krisis akibat Covid-19.

5.Yang saya dengar, yang bisa mengerem langkah cepat, progresif dan konsisten Menteri ET dalam melakukan effisiensi dan transformasi ala beliau adalah hanya Presiden Jokowi, oleh sebab itu jangan coba coba mengganggu konsentrasinya, pasti tidak diindahkannya, kecuali ada perintah langsung dari Presiden Jokowi.

6.Kita tunggu langkah berikutnya, menteri ET adalah Effisiensi dan Transformasi, dan kita doakan semoga BUMN kita benar benar berubah dimasa akan datang, dan memberikan kontribusi yang optimal dalam pertumbuhan ekonomi secara khusus dan kesejahteraan rakyat Indonesia secara umum.***
www www