Home >  Berita >  Olahraga
Kompetisi Sepakbola Liga 1 2020

Suporter Asing Rindu Stadion Kapten I Wayan Dipta

Suporter Asing Rindu Stadion Kapten I Wayan Dipta
Senin, 11 Mei 2020 20:58 WIB
Penulis: Azhari Nasution
DENPASAR - Saat Bali United FC memulai petualangannya di Indonesia pada tahun 2015 ketika mengikuti Kompetisi 2015, Stadion Kapten I Wayan Dipta Bali tidak terisi penuh. Begitupun setelah liga dihentikan dan banyak turnamen tidak resmi yang diikuti Serdadu Tridatu.

Seiring berjalannya waktu, memang cukup banyak yang menonton pertandingan Bali United, namun tidak seramai dalam tiga musim terakhir. Dalam tiga musim terakhir, suporter membludak untuk mendukung Serdadu Tridatu.

Tidak hanya Semeton Dewata dan Brigaz Bali yang menjadi basis suporter, tetapi juga muncul beberapa basis suporter dengan sub-sub suporter milik mereka masing-masing.

North Side Boys 12 (NSB12), Basudewa Curva Sud, hingga Bali Tridatu Revoution (BTR). Lambat laun, suporter tidak hanya berasal dari Pulau Dewata dan sekitarnya. Suporter mancanegara juga semakin bermunculan. Terutama ketika ada The Dutch Connection di skuad Bali United di Liga 1 2017.

Ketika itu, suporter Bali United asal mancanegara semakin banyak, terutama dari Negeri Kincir Angin – julukan Belanda. Sudah pasti mereka ingin melihat pemain-pemain asal Belanda yang moncer bersama Bali United.

Apalagi suporter tersebut sudah mengenal sosok Nick van Der Velden yang sempat menjuarai Eredivisie bersama AZ Alkmaar yang diarsiteki Louis van Gaal. Di tahun-tahun berikutnya, bukan hanya suporter dari Belanda saja yang banyak.

Tetapi dari negara-nagara lain seperti Australia, Inggris Raya, hingga Amerika Serikat. Awalnya mereka nyaman duduk di tribun VIP, tapi lama-kelamaan mereka memilih merasakan atmosfer pertandingan dari tribun ekonomi. Entah dari tribun timur yang dihuni Semeton Dewata atau tribun utara yang dikuasai NSB12.

Banyak suporter lokal menyebut suporter tersebut dengan sebutan Bule United. Sekarang suporter masih bisa mengunjungi Stadion Dipta, tapi hanya untuk melihatnya dari luar saja. Suporter pun sedih tidak ada sepak bola, namun rata-rata semua legowo karena ini untuk kebaikan bersama.

Dari sekian banyak suporter mancanegara yang menyaksikan Serdadu Tridatu berlaga, ada satu suporter yang sangat loyal. Suporter ini sudah mengikuti Bali United sejak tahun 2017. Dia adalah Guideges.

Mungkin sudah banyak orang yang kenal sosok suporter asal Perancis tersebut karena militansinya.

“Jelas saya sangat sedih tidak ada sepak bola. Kamu tahu sendiri, saya hampir setiap pertandingan selalu datang ke stadion. Saya juga hampir setiap latihan selalu melihat mereka (Bali United). Sekarang saya harus rela tidak beraktvitas sementara waktu,” terangnya.

Meskipun tidak ada latihan pun, dia juga cukup akrab dengan beberapa pemain terutama pemain lokal. Muhammad Taufiq dan Dias Angga Putra menjadi salah satu sahabat karibnya di luar lapangan. Beberapa kali dia terlihat sedang bercakap di salah satu toko gelato yang ada di kawasan Kerobokan.

Dia juga sering bertemu dengan pemain naturalisasi seperti Ilija Spasojevic dan Stefano Lilipaly. “Saya sangat cinta sepak bola, terutama sepak bola di Indonesia. Sepak bola di Indonesia, mengingatkan saya tentang era sepak bola di Eropa pada tahun 80an. Itu sebabnya saya sering ngobrol dengan pemain Bali United karena kecintaan saya di dunia ini,” terang pria yang juga menjadi fans berat klub Ligue 1 AS Monaco tersebut.

Dengan situasi sekarang ini, dia terpaksa tidak bisa pulang ke negara asalnya untuk sementara waktu. Baginya tidak masalah karena dia sudah terlanjur cinta tinggal di Bali. Dia memiliki properti di kawasan Canggu.

“Satu hal yang terpenting, saya sangat rindu atmosfer ketika ada di stadion. Saya melihat langsung bagaimana pemain berdebat dengan wasit saat pertandingan, itu yang saya rindukan. Semoga situasi bisa kembali normal dan semoga liga tidak berhenti. Atau jika berhenti, semoga ada turnamen yang bisa menjadi hiburan masyarakat,” tutupnya. ***

Ads
Kategori : Olahraga, GoNews Group
www www