Home >  Berita >  Umum

'Dari Senayan untuk Indonesia', Wartawan DPR Bantu Warga tak Masuk Data Penerima Sembako

Dari Senayan untuk Indonesia, Wartawan DPR Bantu Warga tak Masuk Data Penerima Sembako
Nenek Yati (65), Janda sebatangkara yang belum terima bantuan PSBB, saat menerima kepedulian Wartawan DPR, Kamis (23/4/2020) malam. (Foto: Zul/GoNews.co)
Kamis, 23 April 2020 20:10 WIB
JAKARTA - Jumat (24/4/2020) telah ditetapkan bertepatan dengan 1 Ramadhan 1441 H. Nenek Yati (65), warga DKI yang tinggal di RT 09 RW 13, Bangka, Mampang, Jakarta Selatan, hanya mengandalkan ukuran tangan keponakannya untuk makan sahur dini hari nanti.

Ia tak punya makanan untuk disantap saat tiba waktu makan sahur nanti. Karena bantuan dari pemerintah, belum Ia terima.

Ia menuturkan, dirinya tak terdaftar di daftar penerima sembako RT 09, meskipun Ia tak menampik bahwa pihak RT sudah berusaha untuk mengakomodir dirinya untuk masuk sebagai warga penerima sembako.

"Sudah dimintai KTP/KK. Kata Mas Man, Pak RT; 'sabar ya Ceu, abis gimana udah diusahain tapi nggak ada datanya (di daftar penerima bantuan, Red)'," kata Nenek Yati kepada wartawan di kamar kost berukuran sekira 2 m x 2,5 m, yang Ia sewa seharga Rp 500 ribu per bulan.

Ads
Hidup seorang diri, setelah suaminya pergi entah kemana, dan dua anaknya meninggal dunia, Nenek Yati hanya mengandalkan solidaritas warga yang mau menggunakan jasanya untuk mencuci atau menyetrika pakaian.

Kata warga, untuk jasa sekali cuci, Nenek Yati minimal dibayar Rp 10.000,-. Tapi di tengah kondisi pandemi, rerata warga kian berhemat karena pemasukan keuangan pun makin tak jelas.

"Ceu Yati, layak dapet. Dia mau makan dari mana?" kata Bu Sri, tetangga Nek Yati, dari lingkungan RT lain.

Ada dugaan, tak terdaftarnya Nenek Yati di daftar warga RT 09 penerima bantuan sembako masa pandemi Covid-19, karena Nenek Yati masih ber-KTP RT 10.

Tapi kata Nenek Yati, "Saya udah tanya juga ke 10, katanya gak ada datanya,".

Sedikit perhatian untuk Nenek Yati, diberikan perwakilan Koordinat Wartawan Parlemen, pada Kamis (23/4/2020) malam. Hanya sejumlah uang, dan sebuah buku "Dari Senayan untuk Indonesia" sebagai simbol bahwa 'Senayan' adalah wakil perjuangan hajat hidup rakyat nusantara.

"Terima kasih Wartawan DPR. Terima kasih, semoga wartawan DPR murah rezeki dan panjang umur," kata Nenek Yati.

Sedikit kepedulian ini, setidaknya bisa membantu Nenek Yati bertahan hidup, sampai bantuan dari pemerintah Ia terima.

"Saya jadi bisa makan sahur. Terima kasih. Terima kasih juga untuk DPR semoga orang-orang DPR makin banyak rezekinya" ujar Nenek Yati, polos.

Ia tak mengerti dunia di luar lingkungan sosialnya. Akar budaya di Bangka, beberapa keponakannya juga di Bangka, meskipun Ia juga tak bisa tinggal bersama keponakannya. Warga bilang, bukannya ditampung, Nenek Yati "malah diusir,".

Banyak kisah pilu yang disampaikan Nenek Yati, air mata membanjiri mata yang setadinya optimis, 'nanti ada makanan untuk sahur', tapi menurut warga, terlalu sensitif untuk diketahui lebih banyak orang.***
Editor : Muhammad Dzulfiqar
Kategori : Umum, Ekonomi, GoNews Group
www www