Home >  Berita >  Umum

Sebaiknya Anda Tahu, Ini Beda Gejala Terinfeksi Virus Corona dengan Flu Biasa

Sebaiknya Anda Tahu, Ini Beda Gejala Terinfeksi Virus Corona dengan Flu Biasa
Petugas kesehatan memeriksa kondisi pasien terinfeksi virus corona di Wuhan. (detikcom)
Rabu, 05 Februari 2020 12:00 WIB
JAKARTA - Meski otoritas kesehatan Indonesia menyatakan hingga kini belum ada kasus terinfeksi virus corona di Indonesia, namun masyarakat Indonesia tetap mencemaskan kemungkinan tertular virus mematikan tersebut.Agar tidak keliru, apakah menderita flu dan pilek biasa atau terinfeksi virus corona, maka sebaiknya anda perlu mengetahui perbedaan gejalanya.

Dikutip dari republika.co.id, gejala serangan virus corona jenis baru, atau dikenal dengan nama 2019-nCoV, mirip dengan gejala flu biasa.

Gejala infeksi virus corona yang umum:

Ads
— Demam

— Batuk kering

— Sesak napas

— Nyeri otot

— Kelelahan

Gejala virus corona yang kurang umum:

— Penumpukan dahak

— Sakit kepala

— Hemoptisis atau batuk yang mengeluarkan darah

— Diare

Gejala yang bukan khas virus corona:

— Hidung meler

— Sakit tenggorokan

Hidung mengeluarkan ingus dan sakit tenggorokan adalah ciri khas infeksi saluran pernapasan atas. Karena virus corona jenis baru ini umumnya memengaruhi saluran pernapasan bagian bawah, sebagian besar dari mereka yang terinfeksi menunjukkan gejala batuk kering, sesak napas atau pneumonia, tetapi tenggorokan mereka tidak sakit.

Awalnya Tidak Tunjukkan Gejala

Banyak kasus pasien yang terinfeksi virus corona jenis baru pada awalnya tidak menunjukkan gejala. Menurut lembaga pengendalian penyakit pemerintah federal Jerman, Robert Koch Institute (RKI), virus corona jenis baru ini memiliki masa inkubasi 14 hari.

Jika Anda tidak yakin dengan apa yang Anda derita, segera kunjungi dokter.

Seorang yang secara profesional bekerja di bidang perawatan kesehatan dapat melakukan analisis sampel dahak untuk menentukan ada tidaknya virus di dalam sistem pernapasan.

Apakah masker pernapasan bisa membantu?

Tidak juga. Virus corona yang mewabah saat ini ditularkan melalui cairan. Oleh karena itu, sebaiknya jaga jarak aman dengan mereka yang terinfeksi atau mungkin terinfeksi.

Langkah pencegahan utama adalah mencuci tangan dengan sabun dan air panas secara menyeluruh dan teratur. Lebih baik menggunakan handuk sekali pakai saat mengeringkan tangan sesudah mencucinya.

Flu atau pilek, apa bedanya?

Bahkan dokter pun bisa mengalami kesulitan dalam membedakan kasus infeksi influenza dan pilek ketika dihadapkan dengan gejala pada pasien.

Ketika mengalami pilek, kebanyakan orang akan merasakan gatal pada tenggorokan mereka, kemudian pilek dan akhirnya batuk. Gejala-gejala ini, ditambah lagi demam dan sakit kepala, dapat mengganggu seseorang selama berhari-hari, membuat mereka merasa lemas.

Sementara itu, flu menyerang secara sekaligus: kepala dan anggota badan penderita flu akan terasa sakit, batuk kering pun dimulai, suara bisa menjadi serak, sakit tenggorokan dan demam tinggi (hingga 41 °C), sering juga disertai dengan menggigil. Flu dapat menumbangkan seseorang dalam waktu singkat. Penderita pun hanya bisa terbaring di tempat tidur, merasa lesu, tidak memiliki nafsu makan serta dapat tidur selama berjam-jam.

Pilek biasa umumnya akan mereda dalam beberapa hari dan sebagian besar gejala hilang setelah sekitar satu minggu. Sedangkan flu, lebih membosankan membuat seseorang terbaring di tempat tidur selama setidaknya satu minggu. Dalam beberapa kasus, dibutuhkan waktu berminggu-minggu agar seseorang benar-benar pulih.

Komite RKI untuk vaksinasi, yaitu STIKO, merekomendasikan agar semua warga Jerman yang berisiko tinggi agar mendapatkan vaksinasi flu tahunan. Yang termasuk berisiko tinggi yaitu orang yang berusia lebih dari 60 tahun, penderita sakit kronis, wanita hamil, dan penghuni panti jompo. Selain itu, STIKO mendesak mereka yang melakukan banyak kontak dengan orang lain (misalnya pekerja medis atau mereka yang bekerja di bidang di bisnis atau lembaga publik) untuk juga melindungi diri dengan vaksinasi.

Kapan waktunya minum antibiotika?

Kebanyakan pilek dan flu disebabkan oleh virus, jadi dalam hal ini antibiotika tidak ada gunanya. Mengonsumsi antibiotika memang masuk akal jika bakteri memasuki tubuh melalui sistem kekebalan yang melemah dan mulai berkembang biak.

Antibiotika memperkuat pertahanan tubuh dengan membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Namun antibiotika juga menyerang dinding sel atau proses metabolisme mikroorganisme. Penisilin, misalnya, menghancurkan sintesis dinding sel bakteri.

Dinding sel yang berpori membuat mustahil bagi patogen untuk bertahan hidup, dan lantas menghancurkan mereka. Tetapi ini hanya dapat berpengaruh terhadap bakteri, bukan virus.***

Editor : hasan b
Sumber : republika.co.id
Kategori : Umum
www www