Home >  Berita >  Lhokseumawe

Inflasi IHK Lhokseumawe Pada Oktober 2019 Terkendali

Inflasi IHK Lhokseumawe Pada Oktober 2019 Terkendali
Ilustrasi Inflasi
Rabu, 06 November 2019 22:47 WIB
Penulis: Wartawan Jamaluddin Idris
LHOKSEUMAWE — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Lhokseumawe mencatat Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Lhokseumawe pada bulan Oktober 2019 terkendali. Pada bulan itu, Kota Lhokseumawe tercatat mengalami inflasi sebesar 0,53% (mtm).

Kepala Perwakilan (KPw) BI Lhokseumawe Yufrizal mengatakan, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan September 2019 yang tercatat mengalami deflasi sebesar (-) 0,42% (mtm) dan dibandingkan bulan Oktober 2018 yang inflasi sebesar 0,50% (mtm).

"Apabila dibandingkan dua kota lain yang menjadi lokasi penghitungan inflasi di Provinsi Aceh, inflasi terendah bulan ini berada di Banda Aceh yaitu 0,07% (mtm), diikuti Meulaboh sebesar 0,18% (mtm) dan tertinggi Lhokseumawe," kata Yusrizal, Rabu (6/11/2019).

Yusrizal menjelaskan, secara agregat, Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 0,22% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi (-) 0,32% (mtm) serta inflasi nasional sebesar 0,02% (mtm). Berdasarkan perkembangan tersebut, inflasi tahunan Kota Lhokseumawe pada periode Oktober 2019 sebesar 1,92% (yoy) atau berada di bawah kisaran sasaran inflasi 3,5% ±1% (yoy).

Ads
"Inflasi Kota Lhokseumawe bulan Oktober 2019 terutama bersumber dari kenaikan harga pada komponen Volatile Food dengan andil sebesar 0,21%. Sejalan dengan hal tersebut, Komponen Administered Price dan inflasi inti mengalami inflasi dengan andil berturut-turut sebesar 0,21% dan 0,06%," sebutnya.

Dikatakan, komponen Volatile Food pada bulan Oktober 2019 mengalami inflasi sebesar 1,74% (mtm), meningkat cukup besar dibandingkan bulan sebelumnya sebesar (-)1,70% (mtm).

"Lima komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar yaitu tongkol/ambu-ambu (0,22%), daging ayam ras (0,21%), bawang merah (0,13%), cumi-cumi (0,08) dan dencis (0,05). Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi antara lain cabai merah (-0,13%), cabai rawit (-0,10%), cabai hijau (-0,05%), udang basah (-0,04%) dan ikan kembung (-0,03%)," kata Yusrizal.

Kemudian, lanjutnya, harga sub-kelompok ikan segar mengalami kenaikan sejalan dengan menurunnya aktivitas penangkapan ikan akibat kelangkaan bahan bakar solar subsidi dikarenakan kuota subsidi solar untuk kapal dibawah 30 GT sudah melebihi batas. Komoditas daging ayam ras juga mengalami kenaikan disebabkan oleh permintaan yang meningkat sejalan dengan hari besar Maulid.

"Di sisi lain, komoditas cabai merah, cabai rawit dan cabe hijau mengalami penurunan harga. Turunnya harga komoditas tersebut disebabkan melimpahnya hasil panen petani sehingga harga beli pedagang di tingkat agen pemasok juga ikut turun dibandingkan sebelumnya. Secara tahunan, komponen Volatile Food mencatat inflasi sebesar 0,62% (yoy)," tuturnya.

Yusrizal menambahkan, komponen Barang/Jasa yang Diatur oleh Pemerintah (Administered Prices) tercatat mengalami inflasi sebesar 0,21% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat deflasi sebesar (-)0,18% (mtm). Faktor utamanya disebabkan oleh Rokok Kretek Filter yang mengalami kenaikan sebagai dampak dari isu kenaikan cukai rokok yang akan ditetapkan pada tahun 2020. Secara tahunan, komponen Administered Prices mencatat inflasi sebesar 2,40% (yoy).

"Komponen inti bulan Oktober 2019 mengalami inflasi sebesar 0,06% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 0,12% (mtm). Komoditas inflasi inti didorong oleh harga emas perhiasan, meskipun tidak setinggi sebelumnya, dan televisi berwarna. Secara tahunan, komponen inti mengalami inflasi sebesar 2,39% (yoy)," jelas dia.

Untuk ke depannya, inflasi akan tetap dijaga sehingga berada pada sasaran inflasi 2019, yaitu 3,5±1%. Untuk itu, koordinasi antara Pemerintah, Bank Indonesia dan lembaga terkait yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat dalam menghadapi sejumlah risiko yang dapat mendorong kenaikan harga.[]
Editor : Rio
Kategori : Lhokseumawe, Ekonomi
www www