Mengingat Ulang Visi Prabowo yang 'Lebih TNI dari Banyak TNI'

Mengingat Ulang Visi Prabowo yang Lebih TNI dari Banyak TNI
Kamis, 24 Oktober 2019 14:33 WIB
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih rivalnya, yakni Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024 mendatang. Jokowimelantiknya di Istana Negara, Jakarta, Rabu kemarin (23/10).Prabowo adalah mantan calon presiden pada Pilpres 2019 lalu yang diusung Gerindra dan beberapa parpol lainnya. Dia didampingi Sandiaga Uno melawan pasangan calon Jokowi-Ma'ruf Amin.

Prabowo selama ini dikenal sebagai sahabat sekaligus rival Jokowi. Dahulu, Prabowo mengusung Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta. Kedekatan mereka berubah menjadi rivalitas pada 2014 ketika Prabowo menghadapi Jokowi mendapatkan kursi presiden.

Tidak berhenti, keduanya kembali bersaing memperebutkan posisi kepala negara pada Pilpres 2019. Prabowo, yang berpasangan dengan Sandiaga Uno, dinyatakan kalah atas Jokowi-Ma'ruf Amin.

Ads
Selaiknya calon presiden, Prabowo tentu memiliki visi dan misi. Termasuk soal pertahanan yang menurutnya ideal dan perlu dilaksanakan.

Visi Misi Prabowo Bidang Pertahanan

Tidak mampu perang dalam waktu yang lama. Prabowo mengatakan itu di masa kampanye Pilpres 2019 bulan Januari lalu.

Dia merujuk dari pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. "Menteri Pertahanan mengatakan kalau Indonesia terpaksa menghadap perang hari ini, kita hanya bisa bertahan selama tiga hari," ujar Prabowo (14/1).

Mengenai hal itu, Ryamizard membantah. Dia mengatakan Indonesia mampu berperang dalam waktu yang lama karena memiliki pabrik sendiri untuk memenuhi kebutuhan perang.

Prabowo juga bicara banyak soal pertahanan Indonesia yang lemah pada saat Debat Kandidat Pilpres 2019 keempat. Pada intinya, dia menganggap pertahanan Indonesia masih cenderung lemah dibanding negara lain.

Menurut Prabowo, alutsista milik Indonesia masih di bawah standar. Karenanya, dilihat dari wilayah Indonesia yang begitu luas, pertahanan Indonesia jadi tergolong lemah.

"Kapal selam berapa yang kita miliki? Jenisnya berapa? Kemampuannya berapa? pesawat berapa? Kita negara seluas Eropa, berapa sky drone fighter? Kita punya peluru kendalinya berapa Pak (Jokowi)? " tuturnya pada Maret lalu (31/3).

"Begitu saja Pak (Jokowi), kalau ada armada asing masuk ke laut kita, apa yang kita bisa buat? Jadi bukan saya tidak percaya. Saya ini TNI, Pak (Jokowi). Saya pertaruhkan nyawa di TNI. Saya lebih TNI dari banyak TNI.

Dia mengatakan anggaran untuk pertahanan selama ini hanya sebatas 5 persen dari APBN. Padahal negara lain, dia menyinggung Singapura, anggaran pertahanannya mencapai 30 persen dari APBN.

Menurut Prabowo, semua persoalan pertahanan disebabkan oleh pemerintah yang tidak punya uang. Kalaupun ada uang, malah mengalir alias bocor ke luar negeri. Akibatnya, belanja alutsista menjadi sangat terbatas.

Pada Pilpres 2019 lalu, dalam visi misi yang diserahkan kepada KPU, Prabowo juga merencanakan sejumlah program aksi di bidang pertahanan dan keamanan. Ada beberapa poin.

Prabowo ingin meningkatkan kemampuan industri strategis nasional dalam memenuhi kebutuhan alutsista. Dia juga ingin jumlah anggaran pertahanan meningkat setiap tahun demi memenuhi kekuatan minimum dan melakukan modernisasi alutsista.

Kemudian, Prabowo ingin memperkuat dan mengembangkan kapabilitas badan pertahanan siber. Terkait kedaulatan, Prabowo bertekad memperkuat kehadiran TNI di daerah perbatasan dan pulau terluar yang rawan konflik.

Dia pun ingin memperkuat sinergi TNI dan Polri dalam pencegahan serta penanggulangan aksi terorisme.***

Editor : Muslikhin Effendy
Sumber : CNNIndonesia.com
Kategori : GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik
www www