Megawati Tak Salami Surya Paloh, Pengamat Ungkap Ujian Soliditas Koalisi Jokowi

Megawati Tak Salami Surya Paloh, Pengamat Ungkap Ujian Soliditas Koalisi Jokowi
Kamis, 03 Oktober 2019 20:41 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Hubungan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri dengan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, diterpa rumor tak sedap. Padahal, PDIP dan NasDem sama-sama partai pengusung Jokowi di Pilpres 2019 yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja (KIK).Pemberitaan soal rumor keretakan hubungan dua orang Ketum partai itu, teranyar mencuat terkait dengan tak saling bersalamannya dua tokoh itu saat keduanya mengahdiri prosesi pelantikan anggota DPR RI periode 2019-2024 pada Selasa (1/10/2019) lalu.

Orang-orang yang dilewati Megawati di wilayah VIP ruang rapat Paripurna kala itu, berdiri dan menyalami Mega. Ada Agus Harimurti Yudhoyono yang menjura kepada Megawati, politikus Golkar Rizal Mallarangeng yang menyalami Megawati sambil membungkukkan badan.

Sementara itu, di sebelah kanan Rizal, ada Surya Paloh dalam posisi berdiri. Bos Media Group itu hanya berdiri, tak menjulurkan tangan untuk bersalaman ke arah Megawati. Tangannya terjuntai santai dsn badannya juga tak membungkuk. Sementara Megawati menoleh ke arah lain, seolah-olah menatap sesuatu, sambil tetap berjalan melewati Surya Paloh yang kembali duduk.

Ads
Megawati, lalu bersalaman dengan Wapres Terpilih Ma'ruf Amin lalu Ketum PPP Suharso Monoarfa.

Dilansir detik.com, peristiwa ini seolah mengamini isu keretakan hubungan antara Mega dan Paloh yang bergulir sejak beberapa bulan lalu. Isu keretakan itu bermula dari pertemuan empat ketua umum Koalisi Indonesia Kerja (KIK) pada 22 Juli 2019. Kala itu, Paloh menggelar pertemuan dengan Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin), dan Plt Ketum PPP Suharso Monoarfa di kantor DPP NasDem, Gondangdia, Jakpus.

Dalam pertemuan itu, Mega atau perwakilan dari PDIP sama sekali tidak hadir. Mega dikabarkan sedang berada di luar kota. Saat itu disebutkan pertemuan antarketum partai tersebut dalam rangka menyolidkan koalisi.

Isu soal renggangnya hubungan Mega dan Paloh kemudian makin berembus kencang ketika dua hari kemudian, 24 Juli 2019, Mega menggelar pertemuan dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto di kediamannya di Jl Teuku Umar, Menteng, Jakpus. Di saat bersamaan, Paloh bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di kantor DPP NasDem, Gondangdia, Menteng, Jakpus.

Paloh membantah pertemuannya dengan Anies untuk merespons pertemuan Megawati-Prabowo. Dia menyebut pertemuannya dengan Anies tak direncanakan, meski ada isu soal Pilpres 2024 dalam wawancara usai pertemuan. Meski demikian, dua pertemuan itu ramai diperbincangkan, dibahas dan dianalisis.


Bambang Soesatyo (Bamsoet), yang kala itu menjabat sebagai Ketua DPR, bahkan sempat menyinggung soal dua pertemuan itu dalam rapat paripurna. Dua pertemuan berbeda itu disuratkannya dalam pantun yang dibacakannya di rapat paripurna yang digelar pada 25 Juli 2019.

Meski tak secara gamblang menjelaskan pertemuan yang dimaksud, bait pantun itu menggambarkan pertemuan Mega dengan Prabowo dan pertemuan Paloh dengan Anies.

Jika tuan hendak berwudhu
Basuh tangan sebelum berkumur
Ayo kita semua bersatu padu
Membangun negeri adil dan makmur

Walau antara Teuku Umar dan Gondangdia
Tak sepanjang Anyer dan Jakarta
Walau ada dua pertemuan berbeda
Semoga tak memisahkan para pemimpin Kita

PDIP menepis anggapan hubungan sang ketua umum dengan Paloh renggang. Ketua DPP PDIP Eriko Sotarduga kala itu menegaskan hubungan di dalam internal KIK solid.

Mengenai ketidakhadiran Mega dalam pertemuan antarketum, ia menyebutkan Mega sedang berada di luar kota. Namun, kata dia, para ketum koalisi sebelumnya telah menginformasikan kepada Megawati tentang pertemuan itu.

"Ini kan seperti beliau berulang tahun itu kan juga spontan. Nah kebetulan Ibu Ketua Umum kami kan sedang berada di luar kota dan menuju mau kembali ke Jakarta. Jadi sebenarnya ini kan spontanitas-spontanitas saja dan itu sudah disampaikan oleh ketua umum-ketua umum partai bahwa mereka ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Pak Surya Paloh," kata Eriko di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (25/7).

Sementara itu, soal pertemuan Mega dan Prabowo yang berbarengan dengan pertemuan Paloh dan Anies, Eriko mengatakan sang ketum berniat mengundang semua parpol koalisinya. Eriko memastikan Mega tak ingin menimbulkan kecemburuan di antara ketum parpol lain.

"Nanti kan dengan semua ketua umum. Nanti kalau diundang beliau secara khusus yang lain koalisi kenapa cuma beliau saja, nah nanti ya saya nggak bisa memaksakan beliau masak nasgor (nasi goreng) lagi. Karena memasak nasi goreng saya tahu persis persiapannya sampai beberapa waktu itu untuk mempersiapkan," tuturnya.

Selanjutnya, Paloh sendiri kemudian membantah soal renggangnya hubungan dengan Mega. Ia mengatakan hubungan dengan Mega terjalin baik.

"Nggak betul," kata Paloh dalam wawancara yang ditayangkan CNN Indonesia, Selasa (30/7).

"Saya menghormati Mbak Mega ya sebagai mbak saya. Saya bisa ketawa, bisa lucu, bisa diam saja. Jadi sayang sekali hubungan yang sudah terbina begini bagus dalam jalinan sejarah yang panjang, apa harapannya? Yang kita cari kan bukan perbedaan, tapi banyaknya kesamaan," imbuh dia.

Ia juga menjelaskan soal pertemuannya dengan Anies di saat Mega bertemu Prabowo. Ia menyebut pertemuan dengan Anies tidak direncanakan.

"Multiinterpretatif pasti, tapi sesungguhnya pertemuan tidak direncanakan. Apalagi untuk apa katakan... ada sesuatu barangkali di sana tempat Mbak Mega, di sini ada...," kata Paloh.

Di DPR RI periode 2019-2024, Parpol-Parpol KIK juga tak sepenuhnya satu nada soal kerja-kerja legislator. Wacana Jokowi ingin melakukan perombakan dan penyederhanaan perundangan, disambut sangat baik oleh Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera, yang sebetulnya oposan Jokowi.

Sementara legislator asal Parpol KIK, yakni Muhammad Farhan dari NasDem dan Dede Yusuf dari Partai Demokrat, menunjukkan sikap berbeda dengan asa Jokowi soal legislasi itu, seperti diberitakan GoNews Grup dalam berita berjudul "Presiden Jokowi dan DPR RI Masa Ini soal Isu Besar Legislasi".

Menanggapi situasi demikian, Pengamat Politik dari Universitas Paramadina, Hendri Santrio mengungkapkan, dirinya masih meyakini bahwa koalisi Jokowi masih solid.

Menurutnya, dinamika politik yang terjadi saat ini belum lah menjadi ujian serius bagi koalisi Jokowi jilid II. Katanya, "kalau solid, koalisi Jokowi masih solid,".

"Nanti ujian pertamanya, ketika penentuan kabinet. Kalau penentuan kabinetnya aman, kesananya bisa makin solid," kata Hendri.***

Editor : Muslikhin Effendy
Kategori : GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik
www www