Bersama Kita Bisa Melawan Asap

Bersama Kita Bisa Melawan Asap
Kamis, 19 September 2019 21:34 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA – Panjangnya periode musim kemarau tahun 2019 yang diperkirakan hingga bulan Oktober oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjadi salah satu faktor penyebab semakin tinggi pula potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), seperti yang sedang terjadi di enam provinsi masing-masing Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Oleh karena itu solusinya tidak lain adalah kepedulian kita bersama untuk melawan asap.Berbagai alternatif sederhana seperti berbagi ruang dan rasa nyaman kepada sesama warga yang terdampak asap perlu kita lakukan bersama. Bagi mereka yang tidak mempunyai ruang dengan fasilitas air purifier (penetralisir udara) maka dapat berkunjung ke sejumlah posko rumah singgah yang telah disediakan pemerintah maupun dunia usaha di berbagai titik lokasi.

Hal tersebut sebagaimana yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah dalam memberikan pelayanan intensif hingga seluruh aspek sasaran.

Tidak hanya kepada masyarakat saja, akan tetapi pelayanan tersebut juga diberikan kepada para petugas pemadam di lapangan. Selain itu, Dinas Kesehatan setempat melengkapi fasilitas layanan kesehatan dengan menyediakan ruang oksigen di beberapa rumah singgah. Sebagai tambahan Pemerintah Provinsi juga telah menyiagakan 11 puskesmas, 2 rumah sakit umum daerah dan 1 pelayanan dari Palang Merah Indonesia (PMI).

Ads
Sementara itu Pemerintah Daerah Provinsi Riau juga memberikan pelayanan kesehatan masyarakat terdampak asap karhutla. Pemerintah Provinsi Riau mendirikan "Posko Rumah Singgah Warga Terdampak Asap" yang tersebar di 14 titik lokasi di Kota Pekanbaru.

Adapun 14 titik lokasi tersebut di antaranya; Rumah Jabatan Asisten 2, Rumah Jabatan Asisten 3, Aula Dinas Sosial Provinsi Riau, Aula Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Aula Bappenda Provinsi Riau, Aula Rumah Sakit Jiwa Tampan, Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (BRS-AMPK).

Kemudian Rumah Jabatan Kepala Dinas Sosial, Aula Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Riau, Kantor Dinas PUPR, UPT. Industri Pangan, Olahan dan Kemasan Dinas Perindustrian Provinsi Riau, Mal Pelayanan Terpadu Kota Pekanbaru, UPT. Bapelkes Dinas Kesehatan Provinsi Riau, dan Pusat Informasi Karhutla Rumah Jabatan Kepala Bappeda.

Sebagai tambahan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau juga membuka pelayanan yang sama sehingga total Rumah Singgah di Provinsi Riau ada di 15 lokasi.

Peralatan seperti kasur lipat (velbed), tabung oksigen, regulator, tabung oksigen kecil, selang oksigen, alat pengukur tekanan darah, obat-obatan, hingga makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita serta perlengkapan medis lainnya telah tersedia pada tiap-tiap posko dan sudah sesuai standar Kementerian Kesehatan RI. Selain itu, masing-masing posko juga disiagakan satu mobil ambulance.

Posko kesehatan ini buka setiap hari dari pukul 08.00 WIB sampai 22.00 WIB dan mulai dioperasikan sejak Minggu (15/9) hingga akhir masa siaga darurat yakni Kamis (31/10). Seluruh masyarakat bisa memperoleh pelayanan seperti konsultasi, cek kesehatan, cek tekanan darah, pemberian pernafasan menggunakan oksigen hingga fasilitas masker yang bisa didapatkan secara gratis dengan penanganan oleh tim medis dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau.

Adanya Rumah Singgah ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Selain dapat mengurangi dampak negatif dari asap karhutla, pelayanan tersebut sekaligus sebagai tanda bahwa negara hadir di tengah masyarakat untuk pelayanan yang terbaik.

Farida (34) warga sekitar Posko Rumah Singgah Kantor Dinas PUPR Provinsi Riau merasa terbantu dengan adanya posko tersebut. Ibu yang kesehariannya mengurus rumah tangga ini dapat mengurangi rasa kekhawatirannya atas kebakaran hutan yang menimbulkan asap sejak dua bulan ini. Farida mengaku adanya asap ini mengganggu aktivitasnya terutama di luar ruangan. Pernafasan dan penglihatan terganggu akibat asap. Kegiatan belajar mengajar juga telah ditunda sejak Selasa (11/9) lalu.

"Aktivitas saya terganggu karena asap. Sudah seminggu sekolah libur. Saya ajak anak untuk mendapat fasilitas kesehatan ini dari pemerintah," ucap Farida.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir mengatakan bahwa untuk membersihkan udara dari polusi jahat ini dapat juga dilakukan dengan alat seperti Air Purify. Akan tetapi, solusi dari masalah asap dan karhutla adalah hujan.

"Wilayah ini tidak ada angin, jadi asap tidak bisa kemana-mana. Air Purifier dibutuhkan, tapi hujan yang bisa menyelesaikan masalah" ujar Yuliani.

Pihak Dinas Kesehatan Provinsi Riau bersama unsur terkait lainnya akan terus memantau dan memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat terdampak asap karhutla. Seluruh pihak baik dari masyarakat, dunia usaha, pemerintah serta media diharapkan dapat mendukung dari keseluruhan kegiatan tersebut.

Kepedulian Akademisi

Wujud kepedulian terhadap bencana karhutla juga ditunjukkan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui penemuan teknologi yang khusus diciptakan bagi warga di Riau dan Palangkaraya. Dosen Fakultas Kedokteran (FK) UNS menciptakan alat bantu pernafasan sebagai solusi bagi warga agar terhindar dari dampak negatif asap. Alat bantu pernafasan yang diciptakan oleh dr. Darmawan Ismail Sp. BTKV yang diberi nama Surgeons of UNS (SUNS) Portable Air Filter ini dapat dibuat dan digunakan siapa saja.

Menurut Darmawan, SUNS Portable Air Filter ini mulai diciptakan tahun 2015 dan sudah dilakukan ujicoba.

“Sudah kami ujicoba dan hasilnya lebih bagus dibandingkan dengan menggunakan masker biasa. Artinya udara yang dihirup ketika menggunakan alat tersebut lebih bersih,” ujar Darmawan.

Dalam upaya memasyarakatkan alat tersebut, tim dari UNS akan bekolaborasi bersama FK Universitas Riau dengan melakukan kegiatan pelatihan dan pemberian pemahaman lain terkait inovasi baru tersebut.

"Tim akan memberikan pelatihan di Riau dan Palangkaraya, sehingga warga bisa membuat alat ini. Cara membuat cukup mudah serta bahan yang digunakan mudah didapat. Dan tentunya biaya pembuatan sangat murah yaitu per unitnya sekitar Rp 25.000,” imbuh Darmawan.

Adapum bahan yang digunakan yaitu meliputi kain kristik, kain tipis, perekat lepas pasang, tali bis, tali elastis, filter akuarium, mika tebal, selang aquarium, bola plastik mainan, spons dan Sarung tangan/hand scoon. Sedangkan untuk alat yang digunakan yaitu plaster, spidol, gunting, cutter, penggaris, lem tembak/lilin dan hecter.

Untuk mekanisme kerjanya, udara kotor masuk ke kotak humidifier melewati filter depan yang dilembabkan dengan air dan deterjen sebagai penyaring dan aroma theraphy. Deterjen tersebut bekerja sebagai pengikat karbon atau penyaring sehingga udara bersih dapat dihirup melalui selang dan melewati katup bagian bawah dari masker. Kemudian udara kotor dibuang melalui katup bagian atas dari masker dan keluar dari sistem SUNS (tidak bercampur).

Pelibatan Pentahelix

Lini Pentahelix yang terdiri dari unsur pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan media sudah bekerja dalam penanggulangan bencana. Masalah karhutla tidak dapat ditangani sendiri oleh satu institusi pemerintah saja, pemecahan masalah dan pencarian solusi dari semua ini memerlukam dukungan dan bantuan di berbagai unsur.***

Kategori : Pemerintahan, Peristiwa
www www