Kabut Asap Telan Korban, Bayi di Sumsel Meninggal Karena ISPA

Kabut Asap Telan Korban, Bayi di Sumsel Meninggal Karena ISPA
Senin, 16 September 2019 17:29 WIB
PALEMBANG - Duka dirasakan pasangan Ita Septiana (27) dan Ngadirun (34), warga Desa Yang Buluh, RT 08 Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel).Diduga akibat asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), anak kedua mereka, Elsa Fitaloka (4 bulan) meninggal dunia, Minggu (15/9/2019) pukul 18.35. Bayi Elsa diduga terkena infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) meninggal saat dirawat di RS Ar Rasyid Palembang.

Berikut fakta-fakta meninggalnya bayi Elsa :

1. Batuk dan Pilek Sebelum Meninggal

Ads
Sebelum meninggal Elsa sempat mengalami batuk-batuk dan juga disertai pilek. "Sebelumnya, batuk, pilek dan perutnya sering kembung"

"Puncaknya semalam (Sabtu), seperti tidak bisa bernafas. Tetapi masih sadar dan mau minum ASI," ujar Ngadirun saat ditemui di rumah duka yang berada di Desa Yang Buluh RT 08 Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin, Senin (16/9/2019) dini hari.

Paginya (Minggu), kondisi Elsa kian tidak bagus. Sehingga kedua orangtuanya memilih untuk membawa anaknya ke bidan desa untuk diperiksa. Sampai di tempat bidan desa, sang bidan menyarankan agar Elsa segera dibawa ke rumah sakit agar bisa mendapatkan pengamanan lebih intensif.

Pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk membawa ke RS Sukajadi KM 14 Banyuasin. Di sana, setelah sempat mendapatkan perawatan pihak rumah sakit menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatan medisnya. Dari itulah, pihak keluarga memutuskan membawa Elsa ke rumah sakit yang ada di Palembang.

3. Tidak Dapat Kamar

Elsa, dibawa ke rumah sakit Ar Rasyid KM 7 Palembang. Setelah sempat mendapatkan pemeriksaan, disarankan untuk dibawa ke RSMH Palembang untuk penanganan lebih serius.

"Dari pihak RS Ar Rasyid menelepon ke RSMH, tetapi disana katanya belum ada kamar. Jadi belum bisa dibawa ke sana, makanya jadi menunggu lagi"

"Di Ar Rasyid, terus dilakukan perawatan sambil menunggu ada kamar di RSMH. Beberapa kali ditelepon, tetapi dari RSMH katanya tetap tidak ada kamar," ujar Ngadirun yang didampingi keluarganya Agus Darwanto yang juga Wakil Ketua Badan Pemusyawarayan Desa.

Lantaran belum ada kamar, sehingga diputuskan Elsa untuk dirawat ke kamar kelas 3 yang ada di RS Ar Rasyid. Penanganan sempat dilakukan, sampai dokter spesialis anak datang dan setelah diperiksa dokter memang menyarankan agar Elsa segera dibawa ke RSMH Palembang.

Menurut Ngadirun, dokter memerintahkan agar Elsa segera dipindahkan ke RSMH Palembang untuk cepat penanganan lebih serius. Karena, kondisinya sudah sangat lemah dan nafasnya juga harus dipacu dengan alat. Sedangkan, di RS Ar Rasyid alat yang dibutuhkan belum memadai.

"Kata dokter harus dibawa ke RSMH, untuk masalah kamar abaikan dulu. Bila sudah di RSMH, alatnya ada dan bila terjadi sesuatu bisa cepat dilakukan tindakan. Jadi saya mau, dan mengurus administrasinya agar bisa keluar dari RS Ar Rasyid," ungkapnya.

Namun, takdir berkata lain. Ketika akan dibawa ke RSMH Palembang nyawa Elsa tidak dapat tertolong lagi. Elsa menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 18.35.

4. Penjelasan Dokter

Pihak keluarga yang sudah berusaha, akhirnya hanya bisa pasrah dan memutuskan membawa jenazah Elsa ke rumah duka untuk disemayamkan. Menurut Ngadirun, dari penjelasan dokter jaga di IGD ketika masuk kemungkinan awal karena ISPA.

Namun, dari keterangan dokter spesialis anak yang memeriksa Elsa, bila ada masalah di paru Elsa atau ada bakteri. Meski sudah diberikan infus dan oksigen, tetap saja nyawa Elsa tidak dapat di tolong lagi.

Rencananya, jenazah Elsa Fitaloka akan dimakamkan di TPU Desa Talang Buluh Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin hari ini.

5. Rumah Banyak Celah Udara Masuk

Desa Talang Buluh RT 08 Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin tempat rumah duka Bayi Elsa Fitaloka (4 bulan) yang meninggal diduga karena terkena ISPA terbilang masih sedikit terpapar polusi udara.

Beberapa hari terakhir, kondisi asap juga kian menebal. Hal ini, juga dapat dirasakan Tribunsumsel saat mendatangi rumah duka. Asap putih pekat, menyelimuti semua lingkungan. Kian malam, asap kian pekat dan juga membuat mata semakin perih.

Dilansir dari Tribunews yang mendatangi rumah duka, terlihat bagian jendela yang belum memiliki daun jendela. Kusen jendela, hanya ditutupi papan. Semua jendela sama, hanya ditutupi papan. Sedangkan, lubang-lubang angin yang ada di daun pintu maupun jendela terlihat begitu besar dan memungkinkan bila asap dari karhutla bisa masuk ke dalam rumah.

Rumah Ngadirun yang dibangun dengan batako, belum semuanya selesai. Rumah permanen ini belum di plester sehingga susunan batako bisa terlihat baik di luar maupun di dalam.

6. Rumah Dikepung Asap

Anak kedua Ngadirun dan Ita, akhirnya meninggal karena diduga terkena ISPA. Kemungkinan, asap bisa masuk ke dalam rumah melalui pentilasi udara yang ada di kusen pintu dan jendela. Lantaran, ventilasi kusen pintu dan jendela terlihat sangat besar dan tidak ditutupi. Saat masuk ke dalam rumah, bau asap bekas bakaran juga sempat tercium. Asap juga, terlihat berada di ruang depan dan di ruang tengah tempat jenazah Elsa disemayamkan.

7. Biaya Sendiri

Kesedihan, sangat terlihat di raut wajah istri Ngadirun yakni Ita Septiana. Terlihat matanya sembab, karena terlalu banyak menangis. Ita tak kuasa menahan tangis, karena anak keduanya meninggal diduga terkena ISPA dari karhutla yang saat ini terjadi.

Sudah kehilangan anak, Ngadirun dan Ita juga harus mengeluarkan uang untuk biaya perawatan sang bayi Elsa Fitaloka. Karena, bayi Elsa tidak ditanggung BPJS Kesehatan atau KIS yang dikeluarkan Pemerintah.

"Yang dapat KIS hanya istri saya saja. Sedangkan saya dan anak saya Elsa tidak dapat, sebenarnya sudah beberapa kali diajukan ke Kecamatan tetapi tidak keluar- keluar," ujar Ngadirun.

Karena tidak memiliki jaminan kesehatan, mulai dari datang ke bidan desa, ke rumah sakit RS Sukajadi hingga ke RS Ar Rasyid, Ngadirun harus mengeluarkan biaya dari kantong sendiri. Sebagai seorang buruh tani yang tidak memiliki penghasilan tetap, mau tidak mau Ngadirun mengeluarkan uang yang menjadi tabungannya untuk biaya berobat sang anak.

Namun, upaya untuk menolong anaknya juga tidak membuahkan hasil. Anak kedua pasangan ini akhirnya meninggal dunia di RS Ar Rasyid. "Namanya demi anak, uang yang ada digunakan untuk biaya berobat. Tetapi takdir berkata lain," ungkap Ngadirun lirih.

Artikel ini telah tayang di Tribunsumsel.com dengan judul 7 Fakta Bayi di Palembang Meninggal Diduga Akibat Kabut Asap.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Tribunews
Kategori:Pemerintahan, Peristiwa, GoNews Group
wwwwww