Home >  Berita >  Peristiwa

Aksi Protes di Bundaran HI, Warga Riau: Selamatkan Hutan Kami, Jangan Biarkan Kami Mati

Aksi Protes di Bundaran HI, Warga Riau: Selamatkan Hutan Kami, Jangan Biarkan Kami Mati
Aksi protes asap di CFD Bundaran HI. (GoNews.co)
Minggu, 15 September 2019 10:48 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Ratusan pelajar, mahasiswa dan masyarakat Riau di Jakarta, menggelar aksi protes terhadap lambannya pemerintah pusat dalam menanggulangi bencana asap di bumi melayu.Dengan mengenakan masker, ratusan massa tersebut membentangkan sejumlah spanduk dan poster bertuliskan protes di acara Car Free Day (CFD) di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (15/9/2019).

"Selamatkan rakyat Riau dari bencana asap. Kembalikan hutan kami," begitu bunyi tulisan di salah satu spanduk yang mereka bawa.

Sementara itu, salah satu koordinator aksi, Boby Irtanto, kepada GoNews.co mengatakan, aksi protes ini adalah bentuk kekecewaanya terhadap pemerintah dalam hal ini Jokowi yang Ia nilai sangat lambat dalam penanggulangan kebakaran hutan di Provinsi Riau.

Ads
"Kita mendesak presiden untuk gerak cepat. Jangan menunggu warga Riau mati," tegasnya.

"Kabut asap yang menyelimuti Riau, sudah mengakibatkan 39.000 orang lebih terserang ISPA, jangan dibiarkan terus bertambah," serunya.

Hal yang sama juga diungkapkan Hendri Marhadi, Ia mendesak, agar Presiden Jokowi segera menetapkan status bencana nasional di Riau.

"Kita juga meminta, agar pemerintah bertindak tegas terhadap perusahan korporasi yang selama ini menjadi biang Kerok kebakaran di Riau. Kita menuntut transaparais hukum untuk perusahaan yang telah ditetapkan menjadi tersangka oleh kepolisian," tegasnya.

Yang terakhir, mereka juga meminta dukungan masyarakat Indonesia baik secara materi maupun doa untuk warga Riau. "Kami tidak akan diam. Kami akan terus bersuara lantang di Jakarta sampai asap di Riau tidak ada lagi," pungkasnya.

Untuk diketahui, kondisi Riau saat ini semakin memburuk, dengan kualitas udara di sebagian besar daerah ini turun drastis ke status "berbahaya" pada Minggu (15/9/2019).

Asap sisa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Riau ini telah menyebabkan penghitungan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) rata-rata di angka 300 dan masuk kategori "berbahaya". 

P3E yang merupakan badan di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menghitung nilai ISPU setiap 24 jam.

Penghitungan ISPU di dua alat di titik Tenayan Raya dan pusat kota Pekanbaru menunjukkan angka 188 dan 123, atau masuk kategori 'tidak sehat'.

Sementara itu, di daerah lain ISPU menunjukkan angka di atas 300 atau kategori 'berbahaya'. Alat pengukur ISPU yang menunjukkan angka kategori berbahaya antara lain di daerah Rumbai, Kota Pekanbaru. Kemudian di daerah Minas Kabupaten Siak, daerah Petapahan di Kabupaten Kampar, Kota Dumai, daerah Bangko dan Libo di Kabupaten Rokan Hilir, serta di daerah Duri Kabupaten Bengkalis.

"Di Pekanbaru sendiri, daerah Tenayan Raya dan pusat kota kategori tidak sehat. Tapi di daerah Rumbai sudah berbahaya, ISPU warna hitam," kata Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sumatera, Amral Fery.

Berdasarkan data BMKG Stasiun Pekanbaru, kabut asap Karhutla di Provinsi Riau semakin pekat dan membuat jarak pandang di sejumlah daerah turun drastis hanya berkisar 200 hingga 400 meter.

"Jarak pandang paling buruk pada pagi ini di Kabupaten Pelalawan hanya 200 meter," kata Staf Analisa BMKG Stasiun Pekanbaru, Bibin Sulianto.

Ia menjelaskan, jarak pandang anjlok pada pukul 07.00 WIB. Di Kota Pekanbaru jarak pandang hanya 300 meter, begitu juga di Rengat Kabupaten Indragiri Hulu sekitar 300 meter dan Kota Dumai jarak pandang 400 meter.

Hingga Jumat (13/9/2019) kemarin, sebanyak 39.277 warga di Provinsi Riau menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) akibat polusi Karhutla, yang mulai pekat sejak bulan Agustus hingga September ini.***

www www