Home > Berita > Umum

Jubir KPA Wilayah Pase, M Jhony : Sudah Saatnya Aceh Referendum

Jubir KPA Wilayah Pase, M Jhony : Sudah Saatnya Aceh Referendum
Panglima Muda Gerakan Aceh Merdeka Daerah Peut (D-4), yang juga Jubir KPA Wilayah Pase, M Jhony. (Foto Dokumen Pribadi M Jhony)
Sabtu, 01 Juni 2019 10:20 WIB
ACEH UTARA - Panglima Muda Gerakan Aceh Merdeka Daerah Peut (D-4), yang juga Jubir KPA Wilayah Pase, M Jhony menanggapi pertanyaan Ketua Umum Komite Peralihan Aceh (KPA) Muzakir Manaf atau Mualem. M Jhony meminta rakyat Aceh agar ikut apa yang disampaikan Mualem demi kemajuan Aceh ke depan.

"Aceh sudah saatnya referendum. Pernyataan Mualem sudah tepat. Saya pikir itu suatu yang harus kita dukung bersama. Apa yang disuarakan oleh Mualem adalah itu bentuk kekecewaan masyarakat Aceh terhadap pengkhianatan pada MoU Helsinki. Sudah 14 tahun MoU Helsinki, seakan-akan itu perjanjian bohong belaka," kata M Jhony kepada Penanegeri, Jumat (31/5).

M Jhony mengatakan, Rakyat Aceh sudah sepatutnya meminta referendum, karena MoU Helsinki sudah 14 tahun berjalan tetapi tidak ada realisasi apapun. Menurutnya, waktu 14 tahun bukanlah waktu yang singkat, apalagi sampai saat ini belum ada realisasi apapun dari nota perjanjian tersebut.

"Karena yang kita lihat secara lahir, yang terealisasi dari perjanjian MoU Helsinki hanya partai lokal. Kita hanya diberikan hak politik melalui partai lokal. Cuma poin hak politik itu yang baru kita rasakan dari butir-butir perjanjian MoU Helsinki. Masih banyak butir-butir MoU Helsinki yang lain belum berjalan," ujarnya lagi.

Ads
M Jhony memberikan contoh hak Aceh, kewenangan Aceh, bendera dan Himne, batas nanggroe dan masih banyak lainnya yang belum tersentuh. Bahkan masalah bendera Aceh saja sampai sekarang belum ada kejelasan apa-apa.

"Maka sudah pantas Petinggi GAM selaku yang bertanggung jawab di Aceh menyampaikan hal tersebut, karena Mualem bertanggung jawab terhadap rakyat dan bangsanya menyangkut belum terealisasi MoU Helsinki itu," ujarnya lagi.

Jhony menambahkan, apabila janji-janji yang dituangkan dalam MoU Helsinki itu tidak kunjung direalisasi, maka pihaknya tetap mendukung apapun petunjuk yang disampaikan Mualem demi kemajuan Aceh.

"Mualem ibarat pemadam di Aceh. Bila Mualem tidak ada lagi di Aceh, berarti kita sudah kehilangan pemadam di Aceh. Bila tidak ada lagi pemadam di Aceh, sedikit saja ada percikan api maka semua akan hangus. Perjanjian damai RI - GAM itu akan rawan," ujarnya.

Sejauh ini, lanjut M Jhony, mulai dari kalangan bawah terus menerus menanyakan bagaimana sudah proses perjanjian MoU Helsinki kepada Mualem. Tetapi hari ini Mualem siap merendamkan dan menunggu hasil realisasi MoU Helsinki tersebut.

"Mualem selama ini komit dengan perjanjian (Mou Helsinki) itu. Jika Mualem tidak komit, saya rasa perjanjian damai ini tidak sampai 14 tahun. Keberadaan Mualem adalah suatu yang menyelamatkan perdamaian," demikian kata M Jhony.[]
Editor:JML
Sumber:Penanegeri.com
Kategori:Umum, Aceh Utara
wwwwww