Jadi Korban Kerusuhan 22 Mei, Warga Petamburan Geruduk Komnas HAM

Jadi Korban Kerusuhan 22 Mei, Warga Petamburan Geruduk Komnas HAM
Warga Petamburan datangi Komnas HAM. (GoNews.co)
Jum'at, 31 Mei 2019 18:05 WIB
Penulis: C Karundeng
JAKARTA - Sekelompok warga Petamburan mengadu ke ke Komnas HAM. Mereka merasa menjadi korban dalam insiden kerusuhan massal beberapa waktu lalu.Salah satu perwakilan warga, Mahad mengatakan, mereka menjadi obyek dalam kerusuhan.

"Pertama di Bawaslu dengan massa tertentu, kalau yang di Bawaslu jelas obyeknya. Jadi massanya jelas massa pengunjuk rasa atau massa demo yang akan mengeluarkan unek-uneknya yang diakomodir Undang-Undang. Tapi kami yang di Petamburan juga ada massa, kami jadi obyeknya. Massa apa yang di Petamburan? Apakah yang di Petamburan itu massa pemggemar kami? Apakah massa pecinta kami? Apa mereka wajar melakukan itu?," kata Mahad di Kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (31/5).

Mahad melanjutkan, sebagai warga Asrama Polisi, banyak kepala keluarganya yang tak berada di rumah. Mereka berjaga di Bawaslu, MK dan KPU. "Sehingga coba dibayangkan ketika sunyi senyap sedang istirahat menjelang sahur, entah kami ini apakah diserang atau diserbu oleh massa itu," jelas Mahad.

Ads
"Coba bayangkan kami lagi sunyi senyap menjelang sahur yang ada hanya ibu-ibu dan anak-anak mendenger di luar seperti itu, mereka trauma Pak. Jangan berpikir ‘oh ini Asrama Polisi pasti kuat karena banyak polisinya’. Betul banyak polisinya, ibu-ibu isinya," tambah dka.

Efek dari peristiwa itu ada efek materil dan lainnya. Materilnya, 16 mobil dibakar dan puluhan mobil rusak berat. "Kami membeli mobil itu bukan sisa kenyang Pak, itu sisa lapar. Ketika anak-anak dan ibu senang mudik, gak bisa Pak," tambah Mahad.

"Terus juga saya bawa warga yang rukonya rusak, dirusak. Media menampilkan ruko ini dirusak polisi, sakit hati Pak," sesalnya.

Mahad mengklaim, banyak polisi jadi korban. "Saya paham Pak, ketika saya bicara korban polisi Bapak nanya begitu, saya paham maksud Bapak. Pak, mungkin polisi itu Bapak anggap bukan korban, karena mungkin polisi dinggap aparat yang kuat. Kami mohon perlindungan terkait HAM itu bukan berarti kami petugas polisi dijagain. Tapi implementasi aplikasi HAM itu samakanlah diterapkan pada kami sama seperti warga lainnya," jelas dia.

Ia berharap Komnas HAM dan instansi terkait bersama-sama mengungkap siapa dalang pelaku 21-22, dan apa motif mereka melakukan itu. "Kasihan keluarga mereka, mau pulang kampung meskipun macet, tapi saat ini hanya bisa melihat melirik dengan kesedihan,' ungkapnya.

"Kami bertekad, dengan keberanian kami, kami tidak takut. Kami akan lawan dengan semampu kami. Karena ketika kejadian kami hanya bermodalnya batu yang dilemparkan mereka, kami kembalikan," tambahnya.

Sementara itu, Komisioner Komnas HAM Mohammad Choirul Anam mengatakan, akan menindaklanjuti laporan ini. "Dalam konteks peristiwa 21-22 ini Komnas HAM bikin tim yang salah satunya adalah mencari semua fakta dan kebenaran dari semua pihak," pungkasnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik
wwwwww