Pesawat Mahal dan Enggan Manja dengan Pemprov Riau, Warga Kampar Jakarta Pulang Basamo Naik Bus

Pesawat Mahal dan Enggan Manja dengan Pemprov Riau, Warga Kampar Jakarta Pulang Basamo Naik Bus
Ilustrasi. (Net)
Kamis, 30 Mei 2019 19:35 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Warga masyarakat perantau dan Mahasiswa serta pelajar asal Kampar, Riau, akhirnya sepakat 'pulang basamo' atau mudik bersama lewat jalur darat menggunakan bus pada Lebaran 2019 ini.Keputusan tersebut diambil dikarenakan harga tiket pesawat mahal hingga menyentuh angka Rp6 juta sekali terbang.

"Kami sepakat mudik basamo (Mudik Bareng), menggunakan bus. Alhamdulillah kita ada sponsor dari salah satu perusahaan yang memberikan armada sebagai sara mudik bareng," ujar Yusnir salah satu warga Kampar di Jakarta, Sabtu (30/5/2019).

Berbeda dengan tahun lalu, masyarakat Kampar dan Pekanbaru memilih untuk tidak merepotkan Pemprov Riau dalam agenda mudik tahun 2019 ini. "Bantuan bus dari Pemprov memang ada, tapi itu untuk adik-adik mahasiswa saja yang selama ini menghuni asrama Mahasiswa di Lenteng Agung," tandasnya.

Ads
Jumlah perantau yang pulang basamo lewat jalur darat tahun ini memang ada peningkatan cukup signifikan yang dipengaruhi oleh mahalnya harga tiket pesawat."Kita berangkat dengan dua armada bus, sekitar 200 orang. Start dari Kemayoran tanggal 29 Meio 2019 siang, dan nanti akan tiba di Pekanbaru InsyaAllah sekitar jumat malam," tukasnya.

Dengan acara mudik bersama melalui jalur darat ini, sejumlah warga Kampar di Jakarta mengaku lebih senang dan bisa berbagi dengan para pedagang yang ada saat pemberhentian bus. Pedagang kuliner diprediksi paling diuntungkan meski sebagian besar hanya untuk sahur, berbuka dan istirahat malam.

Tempat peristirahatan atau rest area akan menjadi kebutuhan mutlak bagi rombongan perantau dan menjadi titik interaksi bagi sektor perdagangan. Selain itu, menurut salah satu Mahasiswa asal Kampar, Rasul mengatakan, daerah tujuan wisata yang berada dekat di pinggir jalan lintas juga bisa menjadi pilihan rombongan perantau untuk berhenti melepas penat sejenak.

"Kalau naik pesawat memang lebih cepat sampai gak sampai dua jam. Tapi gak bisa nikmati pemandangan," pungkasnya.***

wwwwww