The Islah Centre Ingatkan Ancaman Terorisme di Pilpres 2019

The Islah Centre Ingatkan Ancaman Terorisme di Pilpres 2019
Ilustrasi. (istimewa)
Kamis, 28 Maret 2019 12:24 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Gelaran pesta demokrasi Pemilu serentak pada 17 April mendatang tinggal menunggu hari.

Menghadapi ajang akbar lima tahunan ini, masyarakat diminta waspada terhadap berbagai ancaman yang ingin mencederai proses demokrasi di Indonesia, terutama ancaman terorisme.

Hal itu diungkapkan Direktur The Islah Center, Mujahidin Nur, kepada GoNews.co melalui siaran persnya, Kamis (28/3).

Menurut Mujahidin, ancaman terorisme jelang Pemilu tersebut terkait dengan jaringan terorisme global, yaitu ISIS. Dia menjelaskan, ISIS dan tokoh-tokoh mereka di Indonesia memandang Pemilu atau demokrasi sebagai ibadah kemusyrikan yang bisa menjatuhkan pelakunya pada kekafiran.

Ads
Untuk itu ia berpendapat, sel-sel ISIS di Indonesia berusaha untuk mengacaukan pesta demokrasi lima tahunan itu. Mujahidin Nur beralasan, setidaknya ada beberapa hal yang mendasari pendapatnya tersebut.

"Pertama, kita harus ingat pernyataan jubir ISIS, Abu Muhammad al-Adnani (1977-2016) dan penggantinya Abu Hasan al-Muhajir (2016-Sekarang). Mereka memerintahkan agar seluruh sel ISIS di negara mana pun untuk menarget siapapun yang terlibat dalam demokrasi di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim atau mengacaukan Pemilu semampu yang mereka bisa lakukan, sebagaimana diperintahkan oleh Abu Hasan al-Muhajir melalui audio yang dirilis pada April 2018," ujar Mujahidin, Kamis (28/3/2019).

Ia juga menegaskan, Abu Hasan al-Muhajir mengatakan bahwa siapa pun yang berpartisipasi dalam pemilu itu kafir, musyrik dan boleh untuk dibunuh.

Seruan al-Adnani dan Abu Hasan ini sudah dilakukan oleh sel ISIS di Afghanistan (IS-Khurasan Province). Mereka melakukan pemboman berbagai TPS pada pemilihan legislatif di Afghanistan pada 2018 lalu dan menewaskan sedikitnya 40 masyarakat sipil dan melukai 60 lainnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh ISIS di Irak. Mereka membunuh salah satu calon anggota parlemen, Faruk al-Jubuori dan berusaha mengacaukan pemilu dengan melakukan enam kali pemboman untuk membuat masyarakat Irak takut mendekati TPS.

ISIS di Irak kata dia, juga mengklaim bertanggungjawab pada pemboman tanggal 2 Mei pada rumah calon anggota legislatif perempuan di daerah Tuz Khurmatu, Utara Irak. Pada 26-28 Maret 2018, melalui selnya di Mesir, Anshor Baitul Makdis (IS-Wilayah Sinai) mereka juga mangancam warga agar tidak pergi ke TPS.

Mujahidin Nur menambahkan, ancaman terorisme sangat mungkin terjadi dalam Pileg dan Pilpres tahun ini di Indonesia. "Walau ISIS Indonesia saat ini tidak terorganisir, tapi mereka menurut saya masih mempunyai kemampuan dan potensi menjadi ancaman serius dalam Pileg dan Pilpres 2019,"tegasnya.

Dia juga menyoroti petonsi pelibatan perempuan dan anak dalam beberapa aksi terorisme terakhir di Indonesia yang dilakukan oleh isteri terduga teroris Abu Hamzah dan anaknya yang meledakkan diri di dalam rumah. Menurut dia, terkait hal ini terdapat perbedaan prinsip antara kelompok al-Qaeda dan ISIS. Al-Qaeda dalam melakukan aksinya mengklaim merujuk pada sirah nabawiyah (perjalanan hidup Nabi Muhammad), sehingga al-Qaeda tidak pernah melibatkan perempuan dan anak anak dalam aksi teror yang mereka lakukan.

"Ini berbeda sekali dengan ISIS, untuk mencapai tujuan mereka menghalalkan berbagai macam cara termasuk pelibatan perempuan dan anak-anak dalam teror yang mereka lakukan. Karenanya, di ISIS hal yang lumrah kita temukan mereka menyelenggarakan i’dad al-quwwah (latihan ala militer) bagi ummahat (ibu-ibu) dan juga untuk anak-anak," tandasnya.

Menurut Mujahidin Nur, ada beberapa benefit (keuntungan) yang didapatkan ISIS dalam menggunakan perempuan dan anak-anak sebagai pelaku teror atau bom bunuh diri, pertama, perempuan dan anak-anak adalah dua kelompok masyarakat yang tidak lazim melakukan tindakan terorisme, sehingga mudah bagi mereka untuk mendekati target dan mengelabui aparat keamanan.

Kedua, dalam banyak kondisi perempuan dan anak-anak lebih mudah untuk didoktrin dan diarahkan menjadi pelaku teror atau bom bunuh diri apalagi yang mendoktrinnya adalah suami atau ayahnya sendiri.

"Ketiga, dua kelompok masyarakat ini (perempuan dan anak-anak) adalah kelompok yang dilindungi dalam konvensi Geneva dan perjanjian internasional lainnya," paparnya.

Masih kata Mujahidin, mayoritas masyarakat menolak atau enggan untuk menyakiti perempuan dan anak-anak walaupun mereka pelaku teror.

"Karenanya, menggunakan mereka sebagai pelaku teror secara tekhnis sangat menguntungkan dan terakhir apabila aparat keamanan melakukan kesalahan lapangan dalam penanganan terorisme yang dilakukan oleh perempuan dan anak-anak hal itu akan sangat efektif sekali untuk dijadikan propaganda oleh kelompok teroris untuk mendiskriditkan aparat keamanan dan negara sekaligus mengambil simpati masyarakat untuk mendukung kelompoknya," pungkasnya.***

wwwwww