Warga Riau Semakin Sering Diserang Buaya, Ini yang Harus Dilakukan Pemerintah

Warga Riau Semakin Sering Diserang Buaya, Ini yang Harus Dilakukan Pemerintah
Buaya (ilustrasi - internet)
Rabu, 10 Oktober 2018 11:22 WIB
PEKANBARU - Seringnya kejadian warga Riau diserang buaya sungai seharusnya menjadi pusat perhatian pemerintah baik pusat maupun daerah. Harus ada pola penyelamatan buaya dan juga melindungi manusia.Salah satu kejadian terbaru adalah seorang anak bernama Ali yang kakinya digigit seekor buaya ketika hendak mandi di Sungai Batang Kuantan, Kabupaten Kuansing.

Menyikapi kejadian itu, pakar lingkungan DR Elviriadi menilai, saat ini kondisi habitat satwa liar seperti harimau sumatera, beruang, rusa dan buaya semakin terdesak.

''Habitat satwa liar itu tergerus oleh aktivitas pembangunan dan kegiatan manusia yang abai terhadap hak hidup dan ruang hidup satwa dan makhluk hidup lainnya,'' ungkap Elviriadi yang juga Kepala Bidang Perubahan Iklim Majelis Nasional KAHMI ini.

Ads
Dia mencontohkan, zona lintas harimau sumatera (panthera tigris sumatrae) tidak boleh terputus-putus (terfragmentasi) oleh perkebunan sawit atau jalan setapak. Akibatnya harimau keluar dari habitat yang sempit, lalu terkena jerat atau panik lalu menerkam penduduk.

Dosen Fapertapet UIN Suska itu menambahkan, di Kuansing dan Inhil populasi satwa jenis buaya relatif lebih banyak dibanding kabupaten lainnya di Riau. Elv mengusulkan agar Pemkab Kuansing dan Inhil segera "menertibkan" para buaya buaya itu.

''Saya kira perlu dipikirkan konservasi buaya di kawasan payau dan sungai di Kuansing, sebelum jatuh korban baik di pihak manusia atau satwa liar terlindungi,'' jelasnya.

Di perairan payau dan tawar seperti Batang Kuantan di Kabupaten Kuansing, lazimnya dihuni buaya sepit (Tomistoma Schlegelii). Jenis ini sangat agresif dan menyerang manusia bila musim kawin dan bertelur.

Sungai sungai di Riau sudah tidak mencukupi lagi sumber makanan satwa jenis ini seperti menipisnya stock ikan, molusca, crustacea, serta adanya polutan pencemar.

''Apalagi saya dengar ada aktivitas menyentrum ikan, nah.., mungkin buaya sedang enak enak tidur tiba-tiba badannya bergetar hebat kena efek sentrum, ditangkap dialah kaki anak di tepi sungai itu, "canda pria kelahiran Kabupaten Meranti ini kepada wartawan.

Namun demikian, akademisi yang dikenal vokal sejak aktivis mahasiswa itu mengaku telah berkoordinasi dengan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sumatera. "Ya, alhamdulillah, konflik dan krisis habitat satwa ini sudah kami rembuk kan dengan Pak Amral Fery, Kepala P3E Sumatera sekitar seminggu lalu. Kita sudah siapkan antisipasi, koordinasi dengan BBKSDA untuk standart prosedur yg tepat dan tanggap menyelesaikan masalah ini. Pembangunan ke depan tidak boleh lagi antroposentris (hanya mementingkan manusia), tapi sebagai khalifah, harus rahmatan lil 'alamin. Kita buat corrective action, koreksi dan evaluasi mendasarlah,'' pungkas pria yang selalu menggunduli kepalanya demi solidaritas nasib hutan Riau. ***

Editor : Hermanto Ansam
Kategori : GoNews Group, Umum, Peristiwa
www www