Sesalkan Jual Beli TKI Secara Online, DPR Desak Pemerintah Indonesia Tegur Singapura

Sesalkan Jual Beli TKI Secara Online, DPR Desak Pemerintah Indonesia Tegur Singapura
Ketua Komisi IX DPR, Dede Yusuf. (GoNews.co)
Selasa, 18 September 2018 15:39 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA – Ketua Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf, mendesak Pemerintah segera melakukan teguran terhadap Pemerintah Singapura terkait adanya sebuah situs online bernama Carousell di Singapura yang mempertontonkan penjualan atau penyewaan manusia."Memajang dan menjual atau menyediakan jasa sewa manusia, mau dari negara apapun, itu sangatlah tidak benar. Tidak layak dan sangatlah tidak bermoral. Ini jelas tindakan tidak beradab," kata Dede Yusuf dalam Forum Legislasi "Kasus Penjualan TKI di Singapura: Bagaimana Nasib UU TKI ?” di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (18/9/2018).

Kata Politisi Partai Demokrat ini, Komisi X DPR RI mencoba menelusuri dan mengejar perusahaan online tersebut. "Sepertinya saudara-saudara kita yang terpampang itu kayaknya tidak melalui jalur formal atau prosedur atau tidak terdaftar melalui perusahaan penyalur yang disetujui oleh negara," terangnya.

Untuk itu kata dia, setiap hubungan antar negara itu harus ada G to G. Baik dengan pemerintah. Dalam konteks ini di Singapura maupun dengan Indonesia kelihatan ini tidak melalui jalur tersebut .

Ads
Dede juga sudah membaca statement kepala BNP2TKI, statment menteri luar negeri yang sudah melakukan teguran kepada Kementerian Luar Negeri. "Teguran kepada Kemenlu itu tidak cukup. Komisi IX DPR mendesak pemerintah Republik Indonesia untuk memberikan satu teguran yang keras kepada pemerintah Singapura agar menuntut perusahaan yang melakukan penyaluran tersebut dan tentu saja Carousell," tegas Dede.

Karena itu sama saja seperti di Indonesia ketika ada toko online yang tiba-tiba mengeluarkan sebuah iklan seperti itu. "Lalu kemudian mereka mengatakan bahwa kami tidak bertanggung jawab atas kontain, ya ga bisa!," paparnya.

Karena kata Dede Indonesia punya UU ITE, begitu juga dengan Singapura punya undang-undang sejenis. Maka harus diberlakukan tindakan tegas terhadap situs online Carousell.

Selanjutnya Komisi IX DPR akan mendata kembali berapa jumlah pastinya jumlah orang Indonesia yang bekerja di Singapura.

Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri (seperti Malaysia, Timur Tengah, Taiwan, uganda dan lain-lain) dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Namun, istilah TKI seringkali dikonotasikan dengan pekerja kasar. Hal ini karena TKI sejatinya memang adalah kumpulan tenaga kerja unskill yang merupakan program pemerintah untuk menekan angka pengangguran.

Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri memang kerap menjadi pemberiataan. Mulai dari sistem kerja yang mereka terabaikan hingga sejumlah kasus kriminal yang mereka hadapi di negeri orang. Belakangan, sebuah temuan mengejutkan mengoyak rasa kemanusian terhadap TKI di Singapura.

Pasalnya, Kementerian Tenaga Kerja Singapura mendapati sejumlah tenaga kerja yang diduga berasal dari Indonesia, dijajakan secara online melalui sebuah situs jual beli. Kementerian Tenaga Kerja Singapura (MOM) sedang menyelidiki kasus-kasus pembantu yang 'dijual' di platform ritel online Carousell.

Dalam sebuah posting Facebook pada Jumat malam (14 September 2018), kementerian mengatakan bahwa mereka menyadari kasus-kasus di mana pekerja rumah tangga asing dipasarkan secara tidak tepat pada Carousell. "Kami sedang menyelidiki kasus-kasus ini, dan telah mengatur agar daftar ini dihapus," tambahnya.

Dalam daftar yang diunggah oleh akun @maid.recruitment, wajah beberapa pembantu, yang diduga berasal dari Indonesia, diposting. Beberapa profil bahkan menunjukkan bahwa pembantu yang ditawarkan telah 'terjual'.

Sementara itu, menurut Aktivis Migran Care, Siti Badriyah, kasus yang terjadi di Singapura ini bukanlah kejadian yang pertama kalinya. "Dahulu juga pernah ada yang seperti ini, bahkan kasus jual beli TKI ini juga pernah masuk dalam salah satu iklan di online dan pernah ada yang melihat iklan ini, waktu itu Anggota DPR juga kalau tidak salah namanya Ibu Eva," ujar Siti Badriyah.

"Bahkan mirisnya lagi, para majikan di Singapura bisa memilih para tenaga kerja kita yang dipajang di Mall," timpalnya.

Sebenarnya kata dia, praktIk seperti ini sudah sedari dahulu ada. Bahkan menurut pengalamanya saat menjadi pekerja migran di Malaysia, pada saat itu juga banyak permasalahan yang dialami seperti bolak baliknya TKI ke agen karena tidak cocok dengan majikan, yang terkadang di penampungan agen juga terjadi hal hal yang tidak diinginkan. "Tahun 2017 migrant care pernah menangani kasus serupa di Arab Saudi, Pekerja Migrant setiap hari dibawa ke salah satu lokasi, mungkin sebuah Mal di sanan, Jadi dia dipajang bersama temannya,  Nanti majikan akan datang, akan memilih, mana pekerja yang akan dipilih untuk bekerja di rumahnya. ini kan sepeeti dagangan," katanya.***

www www