Bukan dengan Demo, Tapi Perlu Ada Komitmen Bersama Agar Garuda Indonesia Lebih Baik

Bukan dengan Demo, Tapi Perlu Ada Komitmen Bersama Agar Garuda Indonesia Lebih Baik
Ilustrasi. (net)
Rabu, 02 Mei 2018 12:23 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Sekretaris Jenderal, FSP BUMN Bersatu Tri Sasono mengungkapkan, untuk perbaiki kinerja pegawai Garuda Indonesia butuh kekompakan dan komitmen bersama, bukan hanya sekedar aksi demonstrasi.

Hal ini ia ungkapkan menanggapi rencana aksi demo Karyawan Garuda Indonesia yang dimotori oleh Sekber Garuda.

Menurutnya, aksi yang mempermasalahkan susunan Direksi dari hasilĀ  RUPS 19 April 2018 menurutnya kurang tepat sasaran.

"Serikat Pekerja itu harus memperjuangkan domain kesejahteraan Pekerja dan kalau di BUMN lebih spesifik menjaga agar BUMN memiliki keberlangsungan bisnis yang menjanjikan sebagai perusahaan pelat merah yang memiliki daya saing yang kompetitif," ujarnya, Rabu (2/5/2018) melalui siaran persnya di Jakarta.

Ads
Ia juga menuturkan, sebagian pihak juga menyayangkan aksi dicanangkan oleh Serikat Bersama tersebut.

"Banyak dugaan, aksi tersebut ditunggangi pihak pihak yang ingin mengambil kepentingan dari kisruh internal," tandasnya.

Pada dasarnya kata dia, visi dan perspektif membangun kinerja perusahaan yang disuarakan serikat bersama tersebut merupakan hal yang patut diamini. Namun, ketika upaya aspirasi tersebut ditunggangi melalui agenda mogok kerja, akan berdampak pada ketidakstabilanĀ kondisi operasional perusahaan.

"Masalah ini harus didiskusikan dengan baik. Apalagi jika ini menyangkut hajat konsumen Garuda Indonesia," paparnya.

Pada dasarnya kata dia, serikat pekerja adalah "orang dalam" yang tentunya sudah pintar berhitung. Seperti potensi kerugian yang akan dialami perusahaan ketika indikasi tekanan dan ultimatum mogok kerja disuarakan.

"Rasanya kita ini harus berpikir keras untuk menerka motif rekan rekan serikat pekerja dan APG tersebut. Jika memang yang mereka perjuangkan adalah keberlangsungan operasional perusahaan, jangan sampai mencederai hal hal yang mereka perjuangankan," tandasnya.

Sekarga dan APG kata dia, harus berhati hati dalam menyuarakan kepentingan Pekerja di Garuda.

"Masih ada jalan lain, dengan mediasi misalnya, serta memberikan masukan-masukan yang berupa kritik membangun untuk kemajuan Garuda," sarannya.

Menurutnya lagi, saat ini diperlukan adanya konsolidasi dan hubungan yang solid antara manajemen Garuda dengan seluruh pemangku kepentingan terkaitĀ  di Garuda - termasuk jajaran pegawai Garuda Indonesia.

"Maskapai penerbangan Garuda Indonesia merupakan perusahaan penerbangan National Flag Carrier yang sedang berusaha keluar dari keterpurukan masalah keuangannya. Ini butuh kesadaran dan komitmen," ujarnya.

Lanjut dia, melalui mandat yang diberikan oleh pemegang saham mayoritas, Garuda Indonesia bersama dengan manajemen yang baru mendapatkan amanat untuk memperbaiki kinerja Garuda Indonesia secara fundamental.

"Jujur saya katakan, saat ini tidak mudah untuk memperbaiki kinerja Garuda Indonesia saat ini," tandasnya.

Terlepas dari berbagai kendala tersebut kata dia, di tahun 2018 PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) membidik laba bersih US$ 8,7 juta dan pendapatan US$ 4,9 miliar pada 2018.

Adapun pada tahun lalu, maskapai penerbangan pelat merah ini mencatatkan rugi bersih (yang termasuk extraordinary expenses) sebesar US$ 213,4 juta, dibandingkan 2016 yang mencetak laba bersih US$ 9,3 juta.

"Berbicara mengenai kondisi operasional, Garuda Indonesia juga turut mencatatkan berbagai peningkatan kinerja yang signifikan dengan target on time performance di tahun 2018 yang ditargetkan menyentuh kisaran 91 persen," tandasnya.

"Ini tentunya menjadi sebuah bukti adanya progress kemajuan yang dilakukan oleh Manajemen Garuda bersama Karyawannya," pungkasnya.***
www www