Home >  Berita >  Pendidikan

Tahun Depan Staises Kutacane Harus Berstatus Negeri

Tahun Depan Staises Kutacane Harus Berstatus Negeri
Ketua STAISES Kutacane Dr (can) Sufian Husni Salam saat akan mewisuda 83 mahasiswanya di BKPluh Kutacane. (Jufri)
Sabtu, 28 April 2018 20:56 WIB
Penulis: Jupri
KUTACANE - Ketua sekolah tinggi agama Islam-sepakat segenap (STAISES) Kutacane Dr (Can) Sufian Husni Salam menyatakan, saat ini STAISES telah memenuhi standar akreditasi B demikian juga kualifikasi serta rasio antara dosen dan mahasiswa sudah seimbang."Insya Allah tahun depan kita akan perjuangkan STAISES untuk menjadi negeri. Mohon kiranya perjuangan dan niat tulus ini dibantu semua pihak yang ada di Aceh Tenggara," kata Ketua STAISES Dr (can) Sufian Husni Salam saat pelaksanaan wisuda, Sabtu (28/4/2018) di Aula BKPluh setempat.

Dikatakan Sufian mengapa STAIN Gajah Putih Aceh Tengah bisa negeri sedangkan Kutacane tidak. Tentu untuk mewujudkan itu semua kita membutuhkan dukungan dari semua elemen.

"Keterbatasan dan tak adanya lapangan pekerjaan telah membuat bertambahnya jumlah pengangguran di Agara. Jadi diharapkan para wisudawan harus mampu bersaing dalam mencari peluang kerja yang sesuai kompetensi dan tidak bergantung pada sektor pemerintahan saja. Sebab kelulusan di meja hijau belum tentu para wisudawan sukses dimasyarakat dan ada tahapan selanjutnya," jelas Sufian Husni.

Ads
Sementara itu Ketua yayasan STAISES, H.Armen Desky diwakili Marzuki Desky mengatakan, apresiasi luar biasa bagi pihak yang telah membantu pembangunan STAISES sehingga lebih maju. Namun sampai saat ini kita masih butuh fasilitas sarana dan prasarana sebagai pendukung untuk menjadikan perguruan tinggi yang kompetitif dan berdaya bersaing.

''Oleh karena itu kedepan, Pemda Agara jangan lagi menganaktirikan keberadaan STAISES di Kutacane," ujar Kiki sapaan akrab Marzuki Desky.

Koordinator Kopertais wilayah V Aceh Prof.Dr.Farid Wajdi mengatakan, saat ini ada 34 STAI swasta di Aceh. Jumlah PTS di Kemenriset Dikti di Aceh ada sekitar 108 dan 12 perguruan tinggi negeri. Jika ingin STAISES dinegerikan, maka fasilitas sarana dan prasarana harus lebih dioptimalkan. Termasuk kualifikasi dan jumlah rasio antara dosen dan mahasiswa," katanya.

Menurutnya, kegigihan warga negara Korea dalam bekerja yang hampir 16 jam/sehari itu patut ditiru dan dicontoh. Sementara kita hanya 7-8 jam di Aceh dan kebanyakan hanya duduk, diam dan merokok. Seharusnya kegigihan warga Korea itu menjadi contoh dan diimplementasikan dalam kehidupan jika ingin maju.

''Namun bila kebiasaan buruk masyarakat Aceh itu tetap kita pertahankan maka kita akan mundur dan hanya jalan ditempat saja," tegas Prof. Farid Wajdi. ***

www www