Home > Berita > Umum

PAFI Aceh Utara Gelar Seminar Kefarmasian, Ini Materinya yang Dibahas

PAFI Aceh Utara Gelar Seminar Kefarmasian, Ini Materinya yang Dibahas
Para peserta yang sedang mengikuti acara Seminar Kefarmasian di aula kantor Bupati Aceh Utara, Minggu (25/2/2018). [Jamaluddin Idris]
Minggu, 25 Februari 2018 18:53 WIB
Penulis: Jamaluddin Idris
LHOKSUKON - Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Cabang Kabupaten Aceh Utara, Minggu (25/2/2018), menggelar acara seminar kefarmasian di aula kantor bupati setempat.

Kegiatan yang mengusung tema 'Peran dan Tanggungjawab TTK di Pelayanan Kefarmasian Menuju Masyarakat Bijak Menggunakan Antibiotik' tersebut digelar sejak pukul 09.00 WIB pagi tadi.

Turut hadir dalam acara ini antara lain, Kasi Kefarmasian, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Elfina SSi APT, Kepala Instalasi RSUD Kota Langsa, Fathul Jannah dan Ketua PAFI Aceh, Azhari Safrizal Amd Farm.

loading...
Hadir juga para perwakilan PAFI Cabang Bireun, Kota Lhokseumawe, Aceh Timur dan Kota Langsa, perwakilan teknis kefarmasian sejumlah rumah sakit dan turut hadir juga para siswa SMK Farmasi Citra Bangsa Pantonlabu.

Ketua panitia seminar kefarmasian tersebut, Julia Budiani S,Farm Apt kepada GoAceh di sela-sela kegiatan itu mengatakan, itu adalah yang ke pertama kalinya PAFI Cabang Aceh Utara menggelar seminar kefarmasian.

"Alhamdulillah acaranya berjalan lancar. Ini adalah yang ke pertama kalinya PAFI Cabang Aceh Utara menggelar seminar kefarmasian. Dalam acara ini juga ada pembagian sertifikat kepada para peserta, dan ada juga penampilan tari sama oleh siswa siswi SMK Farmasi Citra Bangsa Pantonlabu," kata Julia Budiani kepada GoAceh.

Kasi Kefarmasian, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Elfina SSi APT dalam materinya menyampaikan beberapa hal penting mengenai apa itu antibiotik dan efeknya.

"Kita harus mengenali apa itu antibiotik, jangan asal menggunakannya, karena antibiotik itu tidak semuanya bagus," ujar Elfina di hadapan para peserta.

Elfina mengatakan, Kebijakan Penggunaan Obat Rasional (POR), salah satu upaya untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. Menjamin keamanan dan efektivitas serta biaya yang terjangkau dari suatu pengobatan yang diberikan kepada masyarakat di fasilitas pelayanan kesehatan maupun pada pengobatan sendiri.

"Tujuan POR adalah, meningkatkan efektivitas dan efesiensi biaya pengobatan, mempermudah akses masyarakat untuk memperoleh obat dengan harga terjangkau, mencegah dampak penggunaan obat yang tidak tepat yang dapat membahayakan pasien serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan," imbuhnya.

Menurutnya, penggunaan obat dikatakan rasional apabila dapat dipertanggungjawabkan secara medik (medically mappropriate) termasuk menyangkut ketepatan jenis, dosis dan cara pemberian obat.

Kemudian, lanjut Elfina, penggunaan obat dikatakan rasional apabila pasien menerima obat sesuai sesuai dengan kebutuhan klinis untuk periode waktu yang tepat dengan biaya yang terjangkau.

"Intinya, prinsip rasional dan POR adalah ada tiga, yaitu berbasis bukti ilmiah, tepat manfaat dan tepat biaya. Menurut WHO (World Health Organisation), lebih dari 50 persen obat-obatan di dunia diresepkan dan diberikan secara tidak tepat, tidak efektif dan tidak efisiensi. Terbalik dengan kondisi tersebut, satu banding tiga penduduk dunia kesulitan memperoleh obat esensial," ungkap Elfina.

Elfina memaparkan ada beberapa ciri-ciri POR. Pertama, peresepan berlebihan (overprescribing). Contohnya pemberian antibiotik kepada pasien Dengan IPSA non pnomenia. Kedua, peresepan kurang (underprescribing). Contohnya pemberian antibiotik selama 3 hari untuk pasien ISPA pnomenia, ketiga, peresepan majemuk (polifarmasi) dan yang terakhir adalah peresepan salah (incorrret prescribing). Contohnya pemberian antibiotik kepada masyarakat golongan kuinolon untuk anak.

"Manfaat keberhasilan POR adalah, dinas kesehatan kab/kota meningkatkan efektifitas dan efisiensi belanja Obat di wilayah kabupaten dan kota. Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dalam mendukung pelayanan kesehatan, meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap mutu pelayanan di sektor publik (PKM) dan mencegah dampak penggunaan obat yang tidak rasional," jelas Elfina lagi.

Setelah Elfina selesai menyampaikan materinya, kemudian panitia melanjutkan acara seminar kefarmasian tersebut setelah salat zuhur. Dalam hal ini, Ketua Panitia Julia Budiani berterimakasih atas kerjasama yang baik Dinkes Aceh.
Kategori:Umum, Aceh Utara
wwwwww