Home >  Berita >  Aceh Jaya

PWI Aceh Rincikan Perbedaan Media Mainstream dan Medsos

PWI Aceh Rincikan Perbedaan Media Mainstream dan Medsos
Ketua PWI Aceh, Tarmilin Usman saat memberikan kata sambutan di kegiatan pelatihan jurnalistik di Kabupaten Aceh Jaya, kamis (18/1/2017). [Aidil Firmansyah]
Kamis, 18 Januari 2018 12:14 WIB
Penulis: Aidil Firmansyah

CALANG - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh, Tarmilin Usman mengatakan, maraknya lahir media terutama media online (dalam jaringan) dan wartawan baru di Aceh, membuat sejumlah penjabat atau masyarakat risih. Risihnya disebabkan oleh cepatnya model pemberitaan sehingga mengabaikan klarifikasi ke pihak dirugikan atau penelusuran kebenaran.

 

 

"Masyarakatpun kini sulit membedakan antara media mainstream (media arus utama produk jurnalistik) dan media sosial (medsos) yang bersifat publik. Apalagi medsos saat ini bergitu banyak pengguna. Detik ini kejadian, detik ini pula tersiar ke publik. Namun medsos sangat rawan terjadinya tindak pidana," kata Tarmilin saat menghadiri kegiatan pelatihan jurnalistik di Kabupaten Aceh Jaya, Kamis (18/1/2017).

Dikatakannya, bedanya media mainstream dengan medsos sangat jelas. Media mainstream memiliki badan hukum dan memenuhi standar operasional prosudur (SOP) lainnya untuk menjadi sebuah media yang legal dalam pemberitaan dan bernaung di bawah UU Pers. Namun, medsos tidak demikian. Medsos diawasi langsung UU ITE dan penggunanya sangat mudah terjurumus ke dalam tindak pidana.

Wartawan jika memiliki masalah dalam pemberitaan terhadap narasumber, narasumber punya hak untuk mengklarifikasi dan menjawab hal yang dianggap menjadi masalah itu.

"Media mainstream berbadan hukum tetap dilindungi oleh UU Pers dan wartawan itu berpedoman bukan pada UU ITE tapi pada UU Pers," lanjutnya.

Dijelaskannya, seorang jurnalis atau wartawan yang profesional tentu memiliki relasi yang baik dengan setiap kalangan. Seharusnya seorang wartawan tidak ada istilah baginya memiliki musuh. "Wartawan punya musuh itu bodoh. Dia itu merupakan sumber, baik sumber informasi dan sumber konfirmasi terhadap kebenaran suatu berita," ucapnya.

Saat ini, semua wartawan diwajibkan untuk mengikuti uji kompetensi wartawan (UKW), maka wartawan yang sudah lulus UKW harus diutamakan oleh narasumber. Ke depan yang tidak lulus UKW berisiko tidak dilayani lagi oleh narasumber.

"Boleh tidak dilayani oleh narasumber kalau tidak lulus, namun ada tahapan untuk mencapai seperti itu nantinya. Bukan sekarang hal tersebut berlaku, namun tetap yang sudah lulus UKW harus diutamakan oleh narasumber," tandasnya.

PWI Latih Siswa Dasar-dasar Jurnalistik

Sementara dalam kesempatan itu, Balai Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Aceh Jaya, menggelar pelatihan menulis dan dasar-dasar jurnalistik bagi para siswa sekolah menengah atas (SMA) daerah itu. Kegiatan berlansung di aula Hotel Pantai Barat, Calang ini dibuka oleh Bupati Aceh Jaya, T Irfan TB.

Ketua Balai PWI Aceh Jaya, Sa'dul Bahri mengatakan, kegiatan pelatihan jurnalistik ini bertujuan untuk kaderisasi agar hobi dan serta minat menulis bagi para pelajar tingkat SMA terus beregerasi dari masa ke masa.

Sehingga, lanjutnya, dalam proses pembangunan khususnya di Kabupaten Aceh Jaya juga dapat dihiasi oleh tulisan yang membangun serta memiliki nilai positif untuk kemajuan daerah. "Nantinya kita berharap agar para siswa semakin terarah dalam menulis, seperti 5W+1H menjadi pedoman dalam penulisan dalam bentuk apapun," ujarnya.

Dikatakannya, menjadi seorang penulis tidak hanya untuk gaya atau trending masa kini, tetapi menulis merupakan cara lain mengasah kemampuan diri. "Menjadi penulis bukanlah hal yang mudah. Namun, ada beberapa langkah dan rumus yang harus dipenuhi oleh mereka yang hendak ingin menulis dengan baik," katanya.

Dirinya juga menegaskan bahwa menjadi wartawan juga harus melewati langkah-langkah dasar untuk menulis. "Namun jika ada wartawan nakal, seperti suka memeras tangkap saja, karena itu bukanlah sikap seorang jurnalis," pintanya. 

 
 
Ads
Editor : Kamal Usandi
Kategori : Aceh Jaya, Umum
www www