Home >  Berita >  Aceh Besar

Menyulap Ladang Ganja Jadi Lahan Tanam Jagung dan Padi

Menyulap Ladang Ganja Jadi Lahan Tanam Jagung dan Padi
Ilustrasi -- Tanaman ganja ketika dimusnahkan beberapa waktu lalu di Seulawah, Aceh Besar
Jum'at, 29 Desember 2017 08:03 WIB

JAKARTA - Terhitung sejak 22 Desember 2017, Badan Narkotika Nasional (BNN) memulai menyulap bekas ladang ganja di Aceh menjadi tempat menanam lahan jagung dan padi. Hal ini disebut oleh Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso sebagai upaya mendukung program nasional membantu kesejahteraan petani. Sebab itu, Waseso menyebutkan petani di Aceh dilibatkan dalam program ini.

"22 Desember lalu kita melakukan penanaman perdana bekas tanaman ganja dengan tanaman produktif jagung dan padi. Sekaligus mendukung program presiden dalam pemenuhan pangan. Mudah-udahan ini akan menjadi program nasional," kata Waseso saat melakukan pemusnahan barang bukti narkotika selama kurun waktu Oktober hingga Desember 2017 di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (28/12).

Waseso menyebutkan penanaman tanaman jagung dan padi di bekas ladang ganja ini atas kerja sama dengan Kementerian Pertanian, Pemda Aceh dan petani lokal. Upaya ini diharapkan terus berjalan dengan baik dan menjadi program nasional yang mampu mensejahterakan petani di daerah.

"Ini juga sekaligus mendukung program Bapak Presiden dalam pemenuhan pangan menuju swasembada pangan," kata Waseso.

Ads
Waseso mengklaim, petani ganja di Aceh dibiayai oleh pihak asing untuk menanam di daerahnya. Dia mengklaim para petani tak mendapat upah yang layak dari hasil menanam tanaman yang diharamkan oleh pemerintah itu. Maka dari itu, dia menyebutkan, merubah 'kerja' petani dari yang awal menanam ganja kini menanam tanaman 'positif' akan membantu kesejahteraan bagi para petani.

"Masyarakat yang menanam itu sendiri enggak dapet apa-apa sebenarnya, karena dia hanya cukup untuk makan saja," ujarnya.

BNN menjalankan program pembangunan alternatif di Aceh dalam tahun 2016-2025. Mereka berupaya untuk mengalihkan masyarakat Aceh dari tanaman ganja dengan tanaman bernilai ekonomis seperti padi, jagung atau pun coklat.

"Pemberantasan bukan satu-satunya jalan kita harus memberikan alternatif. Untuk apa? supaya mereka tidak menanam kembali ganja. Kita carikan solusi yang lebih baik," kata Waseso.

Kasubdit I Masyarakat Pedesaan BNN Hendrajid Putut Wigdado mengatakan masyarakat Aceh dan ganja tak dapat dipisahkan. Dia menyebutkan, masyarakat Aceh menggunakan ganja untuk campuran makanan dan obat.

"92 Persen ganja di Indonesia itu kan dari Aceh, kemudian 90 persen masyarakat Aceh itu kan tidak bisa dipisahkan oleh Ganja, karena akar budayanya dia itu seperti akar Ganja nya juga, dia makan berobat itu dari situ," ujar Hedrajid

Editor : Kamal Usandi
Sumber : merdeka.com
Kategori : Aceh Besar, Umum
www www