Home >  Berita >  Nagan Raya

RSUD Nagan Sukses Angkat Tumor 60 Kg dari Pasien Usia 15 Tahun

Jum'at, 22 Desember 2017 12:46 WIB

SUKA MAKMUE - Tim medis bersama dokter ahli kandungan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Iskandar Muda, Nagan Raya, Kamis (21/12) siang sukses mengangkat tumor ovarium seberat 60 kilogram (kg) dari seorang pasien perempuan berusia 15 tahun.

Operasi yang dipimpin oleh dr Indra SpOG tersebut berlangsung dua jam sejak pukul 11.30 hingga pukul 14.00 WIB. “Alhamdulillah operasi pengangkatan tumor seberat 60 kilogram ini sukses dilakukan, pasiennya juga sehat dan stabil pascaoperasi,” kata dr Indra kepada Serambi di Suka Makmue kemarin sore.

Ia jelaskan, terungkapnya pasien yang memiliki tumor di bagian ovarium (kandungan) tersebut setelah pihaknya melakukan pemeriksaan secara medis di rumah sakit setempat. Sebelumnya, pasien yang namanya dirahasiakan itu datang ke rumah sakit dengan kondisi mengeluh sakit di bagian perutnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ditemukan adanya sebuah benda asing menyerupai daging berukuran besar, sehingga dokter berpendapat pasien tersebut harus dioperasi.

Ads
Indra juga menjelaskan, selama ini pasien perempuan tersebut tidak mendapatkan penanganan secara medis, melainkan melakukan pengobatan secara tradisional dan diklaim sepihak oleh keluarga hanya sakit asam lambung biasa.

Tapi karena kondisinya makin parah dan terus mengeluh sakit di bagian perut, akhirnya si pasien dibawa ke RSUD Sultan Iskandar Muda Nagan Raya untuk diperiksa. Hasilnya ternyata mengejutkan bahwa sang pasien mengidap penyakit tumor di bagian kandungannya.

Selama ini, kata Indra, rumah sakit setempat kerap melakukan operasi tumor terhadap sejumlah pasien. Namun, operasi terhadap tumor seberat 60 kg itu baru kali ini dilakukan.

Dikirim ke Meulaboh
Meski sudah berhasil melakukan operasi, pihak rumah sakit merasa perlu mengirimkan tumor seberat 60 kg itu ke sebuah klinik riset yang ada di Meulaboh, Aceh Barat, guna memastikan apakah tumor tersebut jenis tumor ganas atau tidak. Soalnya di Nagan Raya belum ada dokter spesialis anatomi dan patologi, sehingga pemeriksaan hasil operasi tersebut belum bisa dilakukan di Nagan.

“Kita lihat dulu hasil laboratoriumnya bagaimana. Kalau tumornya ganas berarti pasien harus mendapatkan pengobatan secara lanjutan. Kalau tidak berbahaya, berarti kita lakukan penanganan seperti biasa pascaoperasi,” tandas Dokter Indara.

Faktor genetika?
Indra tambahkan, dugaan sementara, perempuan muda itu terkena tumor ovarium karena faktor genetika (keturunan).

Meski demikian, untuk mencegah penyakit serupa, dokter ahli kandungan ini mengimbau masyarakat, khususnya kaum perempuan, supaya sering melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin, sehingga apabila terdeteksi mengidap suatu penyakit bisa cepat dilakukan pengobatan atau penanganan lebih lanjut.

Ia jelaskan, biasanya pengidap tumor tidak pernah mengetahui sedang mengidap penyakit tersebut, karena tak pernah melakukan pemeriksaan secara medis ke dokter di rumah sakit terdekat.

Indung telur
Berdasarkan penelusuran Serambi pada situs www.alodokter.com/kanker-ovarium, tumor jenis ini disebut juga kanker ovarium adalah kanker yang tumbuh pada indung telur atau ovarium.

Penyakit ini menduduki posisi ketujuh di antara jenis-jenis kanker yang paling umum menyerang wanita. Setiap tahunnya, ada sekitar 250.000 kasus kanker ovarium di seluruh dunia yang menyebabkan 140.000 kematian per tahun.

Kanker ini dapat muncul pada segala kelompok usia, tapi umumnya terjadi pada wanita yang sudah masuk masa menopause atau berusia di atas 50 tahun.

Penyebab kanker ovarium juga belum diketahui secara pasti. Ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seorang wanita untuk terkena kanker ini. Faktor-faktor tersebut meliputi: usia kanker ovarium cenderung terjadi pada wanita berusia 50 tahun ke atas.

Risiko untuk terkena kanker ovarium akan meningkat jika memiliki anggota keluarga yang mengidap kanker ovarium atau kanker payudara. Begitu juga pada wanita yang memiliki gen BRCA1 dan BRCA2 yang merupakan mutasi genetik yang dapat diturunkan.

Ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seorang wanita terkena kanker ini. Faktor-faktor tersebut meliputi terapi pengganti hormon estrogen (Esterogen Hormone Replacement Therapy), terutama bila dilakukan dalam jangka lama dan dengan dosis tinggi.

Menderita sindrom ovarium polikistik (PCOS), tak pernah hamil, mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, mengalami siklus menstruasi sebelum usia 12 tahun, dan menopause setelah usia 50 tahun, menjalani terapi kesuburan, merokok, menggunakan alat kontrasepsi IUD.

Editor : Kamal Usandi
Sumber : Serambi Indonesia
Kategori : Nagan Raya, Umum
www www