Home >  Berita >  Umum

Pelantikan Bupati Aceh Tengah akan Diwarnai Adat Munek Reje

Pelantikan Bupati Aceh Tengah akan Diwarnai Adat Munek Reje
Bawar milik Kerajaan Linge di Aceh Tengah
Rabu, 06 Desember 2017 17:25 WIB
Penulis: Syamsul Bahri Robby

TAKENGON – Prosesi pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Aceh Tengah, yang dijadwalkan pada Kamis, 28 Desember mendatang akan diwarnai dengan adat Munek Reje. Hal itu disampaikan sendiri oleh bupati terpilih, Shabela Firdaus, Rabu (6/12/2017).

"Ini sebenarnya adalah tradisi turun temurun masyarakat Gayo pada saat pergantian raja, dan selama sistem pemerintahan berganti tradisi ini sudah tidak pernah dilaksanakan lagi.  Ini yang pertama kali akan dilakukan setelah puluhan tahun terhenti," kata Shabela pada acara jamuan ngopi bareng bersama peneliti kopi asal Inggris, di Takengon.

Bela mengatakan tradisi ini berawal dari ritual adat di masa Kerajaan Linge yang merupakan kerajaan tertua di Aceh. Ritual itu berlangsung turun temurun hingga pada semua kekerajaan kecil di bawah kekuasaan Reje Linge saat itu.

Menurutnya, yang paling menarik dan sakral dari prosesi ritual adat Munek Reje ini adalah penyematan Bawar, senjata khas Reje Gayo sebangsa keris dan rencong. Penyematan ini nanti akan dilakukan oleh Ketua Lembaga Pemangku Adat Tanah Gayo. 

Ads
Berbeda dengan senjata khas di daerah lainnya yang dapat digunakan sebagai senjata dalam menghadapi musuh. Pada masyarakat Gayo, Bawar hanya sebuah lambang kharismatik seorang pemimpin atau raja, sehingga Bawar tidak digunakan untuk berperang. 

"Saat ini masih ada Bawar milik Reje Linge yang disimpan oleh para ahli warisnya. Mereka menawarkan kepada saya untuk memakai Bawar milik Reje Linge itu. Tapi saya tolak, karena wilayah kerajaan Reje Linge sangat luas jika dibandingkan dengan wilayah Aceh Tengah," kata Shabela yang merupakan adik kandung Anggota DPRI asal Aceh Tengah, Tagore Abubakar. 

Bela mengaku sudah menempah Bawar lain yang akan digunakannya pada saat pelantikan dirinya. Bawar tersebut dibuat seorang empu pembuat keris di Yogjakarta. Bawar tersebut dibuat berbahan dasar besi tua yang sudah berumur ratusan tahun.

Pembuatan Bawar tidak dengan pembakaran tungku api sebagai mana pembuatan senjata tajam lainnya, melainkan dengan kekuatan supranatural serta ilmu olah kanuragan sang empu. Ia hanya menggunakan gosokan jarinya sebagai sumber panas pelebur besi tersebut. 

"Proses pembuatan Bawar ini memakan waktu sekitar 3 bulan dan diperkirakan akan selesai pada tanggal 18 Desember nanti. Setelah proses ritual adat diselenggarakan barulah Bawar itu menjadi milik saya," kata Shabela. 

Editor : TAM
Kategori : Umum, Aceh Tengah
www www