Musim Penghujan Picu Inflasi di Lhokseumawe

Musim Penghujan Picu Inflasi di Lhokseumawe
Ilustrasi
Rabu, 06 Desember 2017 11:02 WIB

LHOKSEUMAWE - Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Lhokseumawe pada November 2017 mencatat inflasi sebesar 0,31% (mtm) atau lebih tinggi dibandingkan tekanan inflasi bulan lalu yang tercatat 0,10% (mtm).

 
Inflasi IHK terutama didominasi dan disumbang oleh inflasi komponen inti dan bahan makanan bergejolak (volatile foods). Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK sampai dengan November 2017 tercatat 1,16% (ytd) atau secara tahunan mencapai 3,44% (yoy) atau berada di kisaran sasaran inflasi pemerintah sebesar 4±1% (yoy).

Kelompok volatile foods pada November 2017 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,94% (mtm) melanjutkan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,01%. Inflasi terutama bersumber dari komoditas beras, ikan kembung, kacang panjang, dan ikan tongkol.

Peningkatan harga-harga komoditas dimaksud dipengaruhi oleh musim penghujan yang menyebabkan berkurangnya pasokan komoditas laut serta masih naiknya harga gabah kering giling (GKG) yang mempengaruhi harga komoditas beras. Secara tahunan, inflasi volatile foods mencapai sebesar-0,21% (yoy).

Ads
Inflasi inti November 2017 tercatat sebesar 0,17% (mtm), menurun dari bulan sebelumnya sebesar 0,31%. Terjadinya inflasi komponen inti pada bulan ini terutama disumbang oleh komoditas batu bata, seng dan pasir. Peningkatan harga-harga ini dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas di triwulan IV untuk mencapai target proyek yang sudah direncanakan dan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang akhir tahun. Secara tahunan, inflasi inti mencapai sebesar 3,57% (yoy).

Inflasi administered prices pada November 2017 mencapai 0,02% (mtm), meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar -0,22% (mtm). Capaian inflasi bulanan dari sisi administered prices tercatat mengalami sedikit inflasi yang bersumber dari komoditas bensin. Secara tahunan, inflasi administered prices mencapai sebesar 9,09% (yoy).

Adapun kinerja intermediasi perbankanmasih tumbuh membaik dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini disertai kredit/pembiayaan bermasalah (NPL)yang masih rendah dan di bawah ambang batas yang ditetapkan.

Kondisi Dana Pihak Ketiga (DPK) di wilayah kerja KPwBI Lhokseumawe, Oktober 2017 dibandingkan Oktober 2016 mengalami pertumbuhan sebesar 5,53% (yoy) dari Rp11,14 triliun menjadi sebesar Rp11,76 triliun.

Kondisi DPK secara tahunan mengalami penurunan bila dibandingkan bulan September 2017 yang tumbuh sebesar 6,99% (ytd). Hal ini tercermin dari deposito yang masih tumbuh negatif sebesar -1,58% (yoy) dari Rp2,335 triliun menjadi Rp2,298 triliun.

Giro yang mengalami penurunan sebesar -2,03% (yoy) dari Rp2,216triliun menjadi Rp2,171 triliun dan tabungan yang mengalami peningkatan sebesar 10,60% (yoy) dari Rp6,596 triliun menjadi Rp7,295 triliun. Kondisi ini didorong oleh antara lain berkurangnya dan terlambatnya pengesahaan APBK beberapa daerah di tahun 2017.

Namun, realisasi APBK di triwulan IV 2017 diharapkan dapat meningkatkan dana pihak ketiga yang diperoleh perbankan. Selain itu, penurunan suku bunga acuan BI diharapkan dapat mengimbangi ruang intermediasi perbankan di saat tingginya kebutuhan belanja pemerintah untuk proyek fisik di daerah.

Penyaluran kredit di wilayah kerja KPwBI Lhokseumawe hingga Oktober 2017 mengalami pertumbuhan sebesar 9,92% (yoy) dari Rp13,35 triliun menjadi Rp15,29 triliun. Apabila dibandingkan dengan Desember 2016, kredit tumbuh sebesar 12,33%.

Ekspansi ini didukung oleh kualitas kredit yang terpantau aman dengan NPL di level 2,38% atau di bawah ambang yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu 5%. Adapun untuk Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, penyaluran kredit bulan Oktober 2017 tumbuh positif pada angka 6,89% (yoy) dari yang sebelumnya Rp5,35 triliun menjadi Rp5,91 triliun dengan NPL sebesar 2,56%.

Pertumbuhan kredit di wilayah kerja KPw BI Lhokseumawe ditopang oleh sektor perdagangan dengan pertumbuhan sebesar 6,89% (yoy) dengan porsi sebesar22,70% dan sektor industri pengolahan yang tumbuh lebih tinggi 63,68% (yoy) dengan porsisebesar16,47%.

Selain itu, rasio kredit/pembiayaan dibandingkan dengan DPK (Loan to deposit ratio/LDR) mencapai 129,97% yang mencerminkan penyaluran kredit telah melebihi penghimpunan dana.

Ke depan, inflasi akan tetap diarahkan berada pada sasaran inflasi 2017, yaitu 4±1%. Kondisi inflasi ke depan diperkirakan meningkat mengingat adanya event Maulid, kegiatan proyek pemerintah di akhir tahun dan libur akhir tahun yang akan berpengaruh pada komoditas volatile foods dan administered prices.

Untuk itu, koordinasi antara pemerintah Kota Lhokseumawe dan Bank Indonesia perlu terus diperkuat terutama dalam menghadapi sejumlah risiko terkait kenaikan harga komoditas volatile foods dan komoditas inti terutama dalam merealisasi target proyek sampai akhir tahun. 

Selain itu, perkembangan kinerja perbankan diharapkan meningkat menjelang akhir tahun 2017 serta potensi perekonomian dengan berlakunya KEK Lhokseumawe dan perkembangan ekonomi lainnya.

Editor:Kamal Usandi
Kategori:Lhokseumawe, Ekonomi
wwwwww