Home >  Berita >  Banda Aceh

Pegiat Sejarah: Gampong Pande, Kota Tua Islam dan Area Inti Sejarah

Pegiat Sejarah: Gampong Pande, Kota Tua Islam dan Area Inti Sejarah
Gapura Gampong Pande (Foto: Iqbal Perdana/ sukatulis.wp.com)
Sabtu, 11 November 2017 13:27 WIB
BANDA ACEH - Gampong Pande di dalam Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh adalah kawasan peninggalan sejarah Aceh dan merupakan areal inti dari berbagai peristiwa sejarah, karena berada di tepi laut dan di bagian muara atau hilir Krueng Aceh. Hal ini dikatakan Pegiat Sejarah dan Kebudayaan Aceh, Tarmizi A Hamid, Sabtu (11/11/2017).
"Ini adalah salah satu panggung utama sejarah Aceh dan telah merekam jejak-jejak sejarah yang cukup banyak. Dulu, kawasan ini termasuk dalam Mukim Mesjid Raya dimana Daruddunya, istana dan kuta para Sultan Aceh juga berada di Mukim ini," ujarnya dalam rilis yang disampaikan.
 
Menurut Tarmizi, Krueng Aceh sendiri mulai hulu sampai hilirnya merupakan nadi kebudayaan dan peradaban orang Aceh. Dari kawasan di dua tepi Krueng Aceh, orang Aceh telah menyebar ke berbagai tempat di Asia Tenggara. Sungai atau Krueng Aceh ini harus mendapatkan penghormatan yang layak. 
 
"Aliran sungai di bagian muaranya adalah jalur vital menuju ke Kuta Sultan dengan melewati Gampong Jawa. Di Gampong Jawa, sendiri terdapat makam Kepala Pelabuhan atau Syahbandar Aceh zaman dahulu, dari abad ke 12 Hijriah yang bernama Syahbandar Mu'tabar Khan," jelasnya.
 
Maka, semua ini menunjukkan kepentingan dan nilai yang tinggi yang dimiliki kawasan ini. Karena itu menurutnya, kawasan ini sama sekali tidak layak untuk menjadi tempat buangan sampah dan limbbah apalagi lumpur tinja. Ia mengatakan hal itu sama sekali tidak logis dan tidak masuk ke cita rasa. 
 
"Saya rasa seluruh masyarakat Aceh akan sependapat dengan saya dalam hal, sebab penempatan lokasi buang sampah dan lain-lain di pinggir Krueng Aceh yang melegenda dan juga di bekas kawasan paling penting dalam sejarah Aceh, ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima baik dari segi adat dan kearifan orang Aceh atau dari segi cita rasa keindahan," ungkapnya.
 
Jadi, sambung Tarmizi, rencana penghentian proyek Instalasi Pengolahan Ari Limbah (IPAL) bahkan relokasi TPA dan IPLT ini sudah seharusnya dilakukan oleh Pemerintah dan ini sudah merupakan sikap yang sangat bijak. Menurutnya, lebih baik‎ kawasan ini digunakan untuk kawasan peninggalan sejarah, yang didukung dengan berbagai sarana edukasi masyarakat dan generasi muda.

"Seperti museum kemaritiman, perpustakaan bahkan pengajian-pengajian keagamaan dan terutama lagi sebagai pusat kajian sejarah Aceh. Sehingga, kawasan ini juga menjadi kawasan tujuan wisata yang mengesankan. Tidak menjadi kawasan wisata tutup mulut dan hidung oleh karena bau busuknya. Perlu diingat sekali lagi, ini adalah kawasan utama dari kota Islam, Bandar Aceh Darussalam," tambahnya. [HFZ]
Ads
Editor : Kamal Usandi
Kategori : Banda Aceh, Aceh, Umum
www www