Home >  Berita >  Umum

Terkait Konflik Gajah di Aceh Timur, ini Kata BKSDA Aceh

Terkait Konflik Gajah di Aceh Timur, ini Kata BKSDA Aceh
Ilustrasi
Jum'at, 06 Oktober 2017 09:47 WIB
Penulis: Hafiz Erzansyah
BANDA ACEH - Berdasarkan salah satu pemberitaan di media online, Kamis (5/10/2017), seorang tokoh pemuda Kecamatan Indra Makmur, Aceh Timur, Romy Saputra meminta Dinas Kehutanan dan BKSDA Aceh untuk segera bertindak untuk menghalau gajah liar di kawasan perkebunan warga‎, di kawasan Seubeubok Bayu, Indra Makmur.
 
‎Dirinya mendesak Dishut dan BKSDA Aceh untuk segera bertindak agar kawanan gajah liar yang saat ini berada di kawasan perkebunan warga kecamatan Indra Makmur tersebut tidak lagi merusak areal perkebunan yang semakin meresahkan warga.

"Kita ketahui warga yang ada di kawasan Gampong Seubeubok Bayu‎ bermata pencaharian sebagai petani, kalau gajah liar terus merusak tanaman mereka bagaimana warga menafkahi keluarganya. Ini harus dipikirkan oleh Dinas Kehutanan dan BKSDA Aceh," ujarnya seperti yang disebutkan dalam media tersebut.
 
‎Pengurus Ikatan Mahasiswa Kecamatan Indra Makmur (IKAMI) itu juga mendesak pihak BKSDA Aceh untuk bertindak cepat terhadap gajah liar yang kian hari terus merusak ratusan kebun petani karet dan sawit yang menyebabkan kerugian besar.
 
"Saya lihat kalau BKSDA Aceh tidak bertindak cepat, kita khawatirkan kerugian besar akan terus terjadi dan bertambah, bahkan warga disana terlihat sudah trauma untuk bercocok tanam lagi karena selalu dirusak gajah. Ini sangat bahaya karena terkait perekonomian masyarakat perkebunan Aceh Timur," kata Romy, seraya berharap pihak Dinas Kehutanan dan BKSDA Aceh tidak menutup mata atas penderitaan rakyat pedalaman Aceh Timur ini.
 
Sementara, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan, ‎pihaknya baru mengetahui bahwa adanya konflik yang terjadi antara gajah dan manusia, khususnya para petani perkebunan di kawasan Gampong Seububok Bayu, Kecamatan Indra Makmur, Aceh Timur.
 
"Kita baru tahu informasi adanya konflik gajah dan manusia ini di Aceh Timur. Setelah dapat informasi, kita berkoordinasi dengan anggota dan meminta Kepala Seksi intruksikan anggota untuk turun kesana," ujar Sapto saat dikonfirmasi.
 
‎Menurutnya, saat ini konflik antara gajah dan manusia terjadi di beberapa tempat di provinsi Aceh secara bersamaan. Pihaknya mengakui bahwa petugas di lapangan sangat terbatas, sehingga memang dibutuhkan penanganan secara bergantian.
 
"Jadi begini, saat ini konflik gajah dan manusia terjadi di beberapa tempat secara bersamaan, petugas kita juga sangat terbatas, sehingga memang penanganannya dilakukan bergantian. ‎Kebetulan tim kita juga ada yang sedang di Seumanah Jaya untuk mengatasi konflik yang disana, ya kita bagi-bagi timlah karena keterbatasan petugas tadi," ungkapnya.
 
‎Namun, sambung Sapto, pihaknya akan tetap berupaya semaksimal mungkin dengan mengharapkan dukungan dari masyarakat untuk menangani konflik gajah dan manusia ini. Pihaknya juga akan memasok bahan seperti petasan yang berguna untuk pengusiran, selain meriam karbit.
 
"Meskipun petugas terbatas, tetapi kita akan berusaha semaksimalnya dengan juga berharap dukungan masyarakat. Nanti‎ juga kita support bahan seperti petasan untuk pengusiran. Tim mungkin butuh 1 hingga 2 hari untuk persiapan penanganan konflik gajak tersebut," tambah Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo.
Ads
Editor : Kamal Usandi
Kategori : Umum, Aceh, Aceh Timur
www www