Persiapan "Sail Sabang" Minim, Kemenpar Kemana?

Persiapan Sail Sabang Minim, Kemenpar Kemana?
Kunjungan Anggota DPR RI ke Sabang, Aceh. (istimewa)
Rabu, 02 Agustus 2017 12:44 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - DPR melakukan kunjungan kerja ke Sabang, Aceh Darussalam untuk mengetahui sejauh mana persiapan festival 'Sail Sabang'. Ternyata para wakil rakyat tersebut menemukan bahwa, persiapan festival itu masih minim.

Karena itu, DPR minta pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terlibat menyusukseskan acara yang akan digelar pada 3 Desember 2017 mendatang itu.

Demikian keterangan pers yang disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih pada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Rabu (2/8/2017).

Dalam Kunker ke Provinsi Aceh tersebut Komisi X DPR bersama mitra kerja antara lain Perpusnas, Kemendikbud, Kemenpar, dan Bekraf.

Ads
Abdul Fikri menilai festival yang akan digelar di Sabang, Aceh, itu hingga kini tampak belum siap.

"Padahal pelaksanaannya 28 November hingga 3 Desember 2017. Selain itu ada 'Islamic Cruise'. DPR menimbang perlunya pemerintah pusat khususnya Kemenpar harus benar-benar terlibat," kata Abdul Fikri.

Tema 'Sail Sabang' tersebut adalah 'Sabang Menuju Gerbang Destinasi Wisata Bahari Dunia'. Tema itu bertujuan untuk pengembangan kepariwisataan, seperti flying pass, diving, dan sailing pass.

Bahkan, saat pembukaan, tarian kolosal Laksamana Malahayati akan dihadirkan, bersamaan dengan parade kapal laut yang berlayar dari Spanyol yang berakhir di Pantai Aceh.

Festival itu juga akan diiringi sejumlah kegiatan pendukung, seperti Jambore IPTEK, Sabang Underwater Contest, Sales Mission Cruise Operator and Yatch, hingga bakti sosial bersih pantai.

Aceh yang pernah mengalami musibah tsunami terbesar di dunia pada Oktober 2006 silam, akan menjadi tujuan menarik bagi dunia.

"Sehingga, beberapa sektor kementerian/lembaga yang membidangi hal ini, fokus untuk menjadikan Aceh sebagai pusat riset manajemen bencana," tambah Abdul Fikri.

Dimana, Indonesia dan beberapa negara yang rawan bencana, selama ini mengikuti pola kerja Sendai Framework dari PBB (dalam mitigasi bencana).

"Padahal bahan kajiannya dari Aceh. Tiap tahun ada peneliti dari Sendai ke Aceh. Ke depan, Indonesia harusnya menjadi pusat riset manajemen bencana dunia. Jadi, kita tidak merujuk ke asing, tapi asing lah yang belajar ke Indonesia," pungkasnya. ***
Kategori:Pemerintahan, Aceh
wwwwww