Home >  Berita >  Umum

Ada 11 Tsunami Melanda Aceh Sejak 7.400 Tahun Lalu

Ada 11 Tsunami Melanda Aceh Sejak 7.400 Tahun Lalu
Tim peneliti tengah memeriksa lapisan tanah di sebuah gua di Aceh Besar untuk mengetahui sejarah tsunami. [Earth Observatory of Singapore]
Jum'at, 21 Juli 2017 16:02 WIB

Tsunami yang terjadi di Samudera Hindia dan kemudian menimpa sejumlah kawasan di 14 negara, termasuk Aceh, pada 26 Desember 2004 adalah salah satu bencana alam terbesar di dunia. Lebih dari 200.000 orang menjadi korban dan puluhan kota hancur berantakan.

Sejumlah pertanyaan besar pun bermunculan. Apakah bencana sebesar itu pernah terjadi sebelumnya? Apakah kita bisa memprediksi kapan tsunami bakal terjadi?

Tim peneliti gabungan dari Rutgers University, Amerika Serikat, dan Nanyang Technological University (NTU), Singapura, datang ke provinsi paling barat di Indonesia tersebut untuk mencari jawabannya.

Caranya dengan mencari jejak-jejak yang ditinggalkan oleh bencana alam yang biasanya diawali dengan terjadinya gempa bumi tersebut. Jejak itu kemungkinan besar berupa pasir dari dasar lautan yang dibawa gelombang dan kemudian mengendap di sekitar pantai daerah yang terserang tsunami.

Ads
Upaya itu berhasil. Baru-baru ini mereka menemukan jawaban untuk pertanyaan pertama di sebuah gua laut di Kecamatan Lhong, Aceh Besar atau sekitar 35 km di selatan Banda Aceh.

Saat tsunami itu terjadi, menurut hasil penelitian yang telah dipublikasikan pada jurnal Nature (19/7/2017), gua sepanjang 120 meter tersebut terendam banjir hingga 10 meter di atas atapnya.

Benjamin Horton, salah seorang peneliti, menyatakan mereka langsung mengetahui bahwa goa itu istimewa sejak saat menginjakkan kaki di dalamnya pada 2011. Kepada The Atlantic, Horton bercerita bahwa gua itu diketahui keberadaannya setelah penduduk lokal bercerita kepada Patrick Daly, arkeolog NTU yang juga anggota tim peneliti.

Keistimewaan itu karena mulut gua tidak langsung menghadap samudera sehingga pergerakan air menjadi lambat, membuat pasir yang dibawa tsunami lebih banyak mengendap.

Gua itu merupakan rumah bagi sekawanan kelelawar sehingga banyak kotoran mereka bertebaran di lantainya. Kotoran tersebut menjadi kunci penelitian mereka.

Bagaimana bisa? Pada akhirnya mereka mengetahui bahwa kelelawar tersebut selalu mengeluarkan kotoran ketika terjadi tsunami sehingga pada dasar gua terdapat lapisan pasir yang diselingi oleh lapisan kotoran tersebut. Dalam bahasa ilmiah, tumpukan lapisan itu disebut stratigrafi.

 
Selama beberapa tahun berikutnya, mereka melakukan penggalian sedalam 2 meter di enam titik dalam gua tersebut.

"Anda mendapatkan lapisan pasir dan material organik, termasuk kotoran kelelawar. Jadi secara sederhana itu adalah lapisan pasir dan lapisan tahi kelelawar, berulang terus seperti itu hingga 5.000 tahun lalu," jelas Horton, dikutip Phys.org.

Lalu mereka menghitung usia karbon cangkang hewan dan batu bara, juga kotoran kelelawar, pada lapisan pasir itu.

Hasilnya, Horton cs. menemukan bahwa sejak 7.400 tahun lalu 11 tsunami telah menimpa kawasan tersebut, dipicu gempa bumi yang terjadi di sepanjang Sunda Megathrust --patahan sepanjang 5.310 km dari Myanmar ke Sumatra di Samudera Hindia.

Tim peneliti menemukan bahwa sepanjang rentang 7.400 hingga 2.900 tahun ada dua milenia tanpa tsunami. Tetapi pernah terjadi empat tsunami hanya dalam rentang 100 tahun pada sekitar tahun 1.300 sebelum masehi. Tsunami-tsunami yang kecil terjadi dalam waktu yang relatif berdekatan.

Akan tetapi, sedimen terbaru --mulai 2.900 tahun lalu hingga masa kini--, diperkirakan telah terkikis oleh tsunami pada 2014.

Penemuan itu menunjukkan tidak ada kepastian rentang waktu antara satu tsunami dengan yang berikutnya.

"Temuan kami menunjukkan gambaran mengkhawatirkan mengenai tsunami besar yang terjadi berulang tetapi tak bisa ditentukan waktunya," kata penulis utama studi tersebut, Charles Rubin, profesor NTU, kepada Daily Mail.

"Bisa ada jeda waktu panjang antara tsunami, tetapi Anda juga bisa mengalami tsunami besar yang terpisah hanya beberapa dekade."

Walau masih belum bisa mencapai kesimpulan akhir yang bisa menjawab "apakah tsunami bisa diprediksi?", Horton menyatakan ini adalah penelitian paling penting sepanjang kariernya.

"Banyak (penelitian) yang saya lakukan itu inkremental. Saya punya hipotesis dan saya melakukan riset deduktif untuk menguji hipotesis itu," katanya. "Tetapi ini amat orisinal, dan hal orisinal tidak sering terjadi."

Saat ini tim peneliti tersebut meneruskan pekerjaan mereka di gua itu. Mereka berharap bisa menentukan seberapa besar 11 tsunami yang pernah terjadi.

Mereka juga melihat kemungkinan adanya gua-gua lain di sekitar Aceh yang menyimpan sisa-sisa tsunami seperti di desa Lhong.

Editor : Kamal Usandi
Sumber : beritagar.id
Kategori : Umum, Aceh, Pidie
www www