11 Daerah di Aceh Terdapat Layanan Ambulans Udara

11 Daerah di Aceh Terdapat Layanan Ambulans Udara
Ilustrasi. [Foto Istimewa]
Jum'at, 14 Juli 2017 09:01 WIB

BANDA ACEH - Hingga saat ini sebanyak 11 kabupaten/kota di Aceh telah memiliki layanan ambulans udara, kerja sama tripartit antara Dinas Kesehatan Aceh, Yayasan Mission Aviation Fellowship (MAF) dan RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh.


Dalam siaran pers kepada GoAceh, Jumat (14/7/2017) pihak Yayasan MAF Aceh menyebutkan, 11 kabupaten/kota tersebut umumnya memiliki bandara lokal di daerah masing-masing atau berdekatan dengan bandara.

"Program ini meliputi Kabupaten Simeuleu, Aceh Selatan, Nagan Raya, Kota Sabang, Kota Lhokseumawe, Aceh Singkil, Kota Subussalam, Kutacane (Aceh Tenggara), Gayo Lues, Bener Meriah, Takengon (Aceh Tengah)," rincinya.

Program Ambulans Udara adalah pelayanan gawat darurat yang diberikan kepada pasien di rumah sakit daerah di kabupaten/kota di Aceh yang memerlukan penanganan lanjutan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zainoel Abidin di Banda Aceh, diterbangkan melalui pesawat udara.

Ads
Layanan ini mampu menjangkau daerah dengan jarak tempuh jauh dari ibu kota provinsi dan juga menjangkau daerah kepulauan. Layanan ini sangat efektif dari segi waktu dan mampu mengurangi resiko bagi pasien selama di perjalanan, jika dibandingkan dengan ambulans darat dan laut.

Layanan ini disertai dengan doktera atau perawat pendamping yang akan memantau dan merawat pasien selama dalam proses penerbangan. Setibanya pasien di Bandara Sultan Iskandar Muda, Ambulas Pusat Penanggulangan Krisis Kebencanaan (P2KK) Dinas Kesehatan Provinsi telah siap dalam menjemput pasien dari pesawat hingga mengantarkan ke RSUDZA.

Layanan ini bebas biaya bagi pasien dan keluarga pendamping yang ikut dalam penerbangan. Syaratnya untuk menggunakan layanan ini adalah berlaku bagi setiap pasien RSUD kabupaten/kota.

Jika terdapat indikasi gawat darurat yang menurut dokter di RSUD kabupaten/kota pasien harus dirujuk karena alasan tertentu, maka dokter RSUD kabupaten/kota harus terlebih dahulu mengkomunikasikan dengan tem RSUDZA.

Dalam koordinasi ini masing-masing pihak akan menganalisis apakah pasien itu termasuk pasien tranportabel (layak diterbangkan), atau kategori gawat darurat yang harus ditangani dalam hitungan beberapa jam. Jika pertimbangan itu sudah terpenuhi langkah selanjutnya adalah pihak RSUDZA akan memberi kabar kepada pihak MAF untuk penjemputan pasien.

"Kami selalu berkomitmen untuk meningkatkan layanan yang baik untuk meningkatkan taraf ekonomi yang baik, akses bantuan pendidikan, kesehatan dan kebutuhan transportasi pemerintah dalam melaksanakan tugas kunjungan kerja," ujarnya.

www www