Home >  Berita >  Umum

Masuk Bubu Nelayan, Dua Tuntong Laut Ditemukan Mati di Aceh Tamiang

Masuk Bubu Nelayan, Dua Tuntong Laut Ditemukan Mati di Aceh Tamiang
Ketua Tatasan SLI, Yusriono dan Kepala Pos KSDA Aceh Tamiang, Azharuddin sedang mengenditifikasi tuntong laut di Kuala Pusong Kapal. [Suparmin]
Selasa, 11 Juli 2017 21:57 WIB
Penulis: Suparmin
KUALASIMPANG - Dua ekor tuntong laut (Batagur borneoensis) ditemukan tewas usai masuk ke dalam bubu milik nelayan di Kabupaten Aceh Tamiang. Setidaknya, dengan tewasnya satwa liar langka yang dilindungi tersebut telah mengurangi angka populasi indukan hewan sejenis kura kura itu.
 
Matinya tuntong laut dimaksud diketahui warga Gampong Kuala Pusong Kapal, Kecamatan Seruway, Martunis (26). Martunis menyebutkan, matinya dua ekor tuntong laut tersebut karena masuk ke dalam bubu penangkap udang di DAS Sungai Gampong Tanjung Binjai, Kecamatan Bendahara, Minggu (9/7/2017).

"Sebenarnya tujuan warga untuk memasang perangkap ikan atau udang, tetapi karena injap (pintu) bubu terlalu lebar, maka dua ekor tuntong sekaligus bisa masuk dengan leluasa ke dalam satu bubu," ungkap Martunis kepada GoAceh di Gampong Kuala Pusong Kapal, Selasa (11/7/2017).

Martunis mengimbau kepada para nelayan agar membuat bubu udang atau ikan dengan ukuran pintunya diperkecil demi mencegah pengurangan angka kematian bagi tuntong laut.

Amatan GoAceh, pihak Yayasan Satucita Lestari Indonesia (YSLI) yang dipimpin Ketua Yayasan, Yusriono di dampingi Kepala Pos KSDA Kabupaten Aceh Tamiang, Azharuddin melakukan evakuasi terhadap dua ekor tuntong laut yang mati itu.
 
Setelah dilakukan pengukuran dan identifikasi, pihak yayasan segera mengubur bangkai tuntong laut dimaksud.

Berdasarkan identifikasi, indukan Tuntong laut bernomor cip 07071343 memiliki ukuran panjang 49 sentimeter, lebar 45,5 sentimeter, dengan bobot seberat 20 kilogram.  Sementara seekor lainnya memiliki ukuran panjang 48 sentimeter, lebar 45 dengan berat badan 18 kilogram.

"Yang kami harapkan, pemerintah harus lebih tanggap atas keberlangsungan hidup satwa langka ini. Ada 3 hak yang harus dijadikan konsensus oleh pemerintah," ujar Koordinator pelestarian tuntong laut dan perlindungannya pada Yayasan SLI, Tatang Yudha Komoro, kepada GoAceh.

Tiga hal tersebut, kata Tatang, yakni masalah zona serta sosialisasi penyadaran masyarakat agar ramah lingkungan dan menanamkan pengetahuan kepada masyarakat pesisir dan nelayan tentang pentingnya satwa liar dan ketiga pembentukan UPT untuk pelaksanaan implementasi pelaksanaan qanun Kabupaten Aceh Tamiang nomor 3 tahun 2016 tentang perlindungan tuntong laut.

Lebih jauh lagi Tatang mengungkapkan, bila tuntong ini terjadi sampai ke tingkat musnah, maka bakal terjadi kehilangan keseimbangan alam, terutama pada habitat, mangrove dan alam serta berdampak juga terhadap para nelayan.

 
 
 
Ads
Editor : zuamar
Kategori : Umum, Aceh, Aceh Tamiang
www www