Tradisi Syawalan di Desa Gringgingsari Batang, dari Rotibul Hadad, Manaqib, Tahlil Hingga Khoul Akbar Sunan Kajoran

Tradisi Syawalan di Desa Gringgingsari Batang, dari Rotibul Hadad, Manaqib, Tahlil Hingga Khoul Akbar Sunan Kajoran
Salah satu rangkaian peringatan Khaul Syekh Abdurahman Kajoran. (GoNews.co/Muslikhin)
Selasa, 04 Juli 2017 18:54 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
BATANG - Jika di kota Yogyakarta ada grebek syawal, dan di Cirebon ada tradisi Syawalan, di Desa Gringgingsari, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Jawa Tengah, juga digelar acara serupa.

Yang berbeda, jika ditempat atau daerah lain dilakukan pada hari ke-6 setelah Idul Fitri dan hanya satu hari, namun di desa ini digelar hingga tiga hari yakni pada tanggal 9-11 Syawal setiap tahunnya.

Tradisi syawalan ini juga sekaligus memperingati Khoul Waliyullah Syekh Abdurrachman Pangeran Kajoran.

loading...
Sunan Kajoran, (sebutan Syekh Abdurahman Pangeran Kajoran) adalah merupakan salah satu wali Allah, yang pertama kali menyebarkan agama islam di desa yang awalnya bernama "Karang Serno" itu.

Munculnya Sunan Kajoran itulah, agama islam hadir dan mengubah nama desa Karang Serno menjadi Gringgingsari. Konon menurut cerita para sesepuh dan buka kunci makam Sunan Kajoran, desa tersebut pada era penjajahan adalah penganut agama Hindu dan Budha.

Singkat cerita, penduduk desa tersebut sebelum kedatangan Sunan Kajoran, banyak yang mengidap penyakit aneh yang berujung pada kematian. "Iya dulu kalau warga sakit pagi, sorenya meninggal, kalau malam sakit paginya meninggal," ujar M Towaf sesepuh sekaligus buka kunci Makam saat bercerita dengan GoNews.co, Selasa (04/7/2017) disela-sela acara.

Atas kagalauan dan kegundahan masyarakat itulah, Sunan Kajoran hadir memberikan obat penawar. Namun dengan syarat masyarakat desa tersebut harus mengucapkan dua kalimat sahadat, sebagai tanda memeluk agama islam.

"Iya setelah semua bersyahadat, alhamdulillah semua sembuh, dan desa ini diberi nama Gringgingsari," ceritanya.

Dari penelusuran GoNews.co, beberapa peninggalan Sunan Kajoran yang juga masih Paman dari salahsatu Wali Songo yakni, Sunan Gunung Jati di Jawa Barat ini, masih dirawat dan dijaga pihak pengurus masjid dan Makam.

Salah satu peninggalannya adalah, tasbih, baju-baju, jubah, kopiah, kubah masjid yang terbuat dari tanah, tongkat. Semantara peninggalan yang dikeramatkan warga adalah Pancuran Depok (sumber mata air, red) yang dulunya dipercaya bekas cabutan tongkat Sunan Kajoran.

Kedua adalah sungai yang membelah desa, dimana sungai tersebut mengalir persis ke Masjid Al Karomah sebagai sumber bersuci. Dan konon, sungai tersebut dibelah dengan tongkat sang Sunan.

Hingga saat ini, masyarakat sekitar sangat menjaga kesucian sungai tersebut. Dengan menjaganya, warga tak boleh buang hajat, maupun mengotori sungai tersebut.

Tradisi Syawalan Dan Khaul Syekh Abdurahman Kajoran

Guna mengingatkan anak cucu dan mengenang sejarah sang Sunan, maka setiap tahunnya, atau tepatnya pada momen syawalan seperti saat ini, diadakanlah peringatan Khaul Syekh Abdurahman Kajoran.

Berbagai acara dilaksanakan selama tiga hari, dimana hari ke 9 Syawal diisi dengan acara tahlilan dan ziarah ke makam. Kemudian dilanjutkan dengan doa-doa dan solawat.

Dihari kedua, atau pada 10 Syawal, dari mulai pagi hari, ada khataman Alquran yang dibawakan para penghafal Alquran (Hafiz) yang dibagi di 5 Musala dan 1 masjid.

Pada sore harinya, acara dilanjutkan dengan mengaji manaqib, dan Rotibul Hadad yang dipimpin KH Syaifuddin. Kemudian dilanjutkan dengan salawat Simtuduror.

Dihari puncak atau tanggal 11-Syawal, pagi harinya dimulai ziarah makam Sunan Kajoran, dilanjutkan Tahlil yang dipimpin KH Syaifudin Amirin dari Pekalongan. Dan kemudian siangnya langsung Pengajian Akbar, yang biasanya mengundang mubalig dari luar daerah.

Dari rangkaian acara tersebut, ribuan jamaah hadir di desa itu. Bukan hanya dari sekitar Jawa Tengah, tapi juga hadir dari Jawa Timur, Jawa Barat, bahkan dari Sumatera, seperti Jambi, Riau, dan Kepri.

Dari pantauan GoNews.co malam ini, acara pengajian Rotibul Hadad masih berlangsung di Masjid Al Karomah. Sebagian tamu juga terlihat sebagian masih di Makam serta mengambil air keramat di Sendang Depok. ***
Kategori:GoNews Group, Umum
wwwwww