Tradisi Khaul Syekh Kajoran dan Sejarah Masjid Kuno di Gringgingsari, Batang

Tradisi Khaul Syekh Kajoran dan Sejarah Masjid Kuno di Gringgingsari, Batang
Penampakan Makam Syekh Abdurrahman Kajoran dan jamaah Rotibul Hadad saat selamatan di Masjid Al karomah. (Muslikhin/GoNews.co)
Selasa, 04 Juli 2017 20:36 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
BATANG - Tradisi Khaul Syeh Abdurrahman Kajoran yang digelar setiap 9-11 Syawal di Desa Gringgingsari Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang, dapat diibaratkan sebagai hari raya kedua setelah Idul Fitri bagi masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya.

Acara tersebut benar-benar dipersiapkan segala sesuatunya mirip dengan penyambutan hari besar seperti lebaran, terutama dalam menyambut ribuan tamu (pengunjung) dari berbagai daerah.

Ritual Khaul Sunan Kajoran sendiri, diisi dengan berbagai kegiatan seperti pembacaan manakib, berdoa di kompleks makam, dan puncaknya adalah pengajian akbar.

loading...
Adapun acara yang paling ditunggu-tunggu para jamaah atau pengunjung adalah pameran benda peninggalan tokoh tersebut, yang berupa sorban, tongkat, pakaian dan benda pusaka lain di kompleks masjid tua peninggalan wali yang masih Paman dari Sunan Gunung Jati itu.

Ads
Nama Syeh Abdurrahman Kajoran demikian melegenda dan terpatri dalam ingatan kolektif masyarakat setempat. Tokoh spiritual itu hidup pada abad ke-7 dan diyakini warga sebagai senopati yang "pilih tanding".

Namun sayangnya, pada setiap acara Khaul dari tahun ke tahun tidak diungkap secara jelas siapa sesungguhnya tokoh yang juga disebut sebagai Sunan Gringging tersebut.

Berdasarkan informasi yang diperoleh GoNews.co dari berbagai sumber termasuk para sesepuh desa tidak lah lengkap. Dimana data sejarah ketokohannya belum banyak terungkap, terutama kiprahnya dalam menyebarkan ajaran Islam.

Bahkan juru kunci makam, Mbah Thowaf, mengaku tidak tahu-menahu siapa sesungguhnya ulama itu. Dalam pengajian pun tidak disinggung soal riwayat hidupnya, semisal asal-usulnya, kapan, serta ajaran apa yang membekas di hati masyarakat.

Selama ini masyarakat hanya memahami dari sisi mitos dan legenda lewat cerita mulut ke mulut. Mitos dan legenda seputar kesaktian tokoh itu dipahami warga layaknya kebenaran sejarah.

Namun demikian, sejumlah lokasi yang dipercaya pernah menjadi petilasan hingga saat ini masih ada. Tempat atau lokasi petilasan sang Sunan Kajoran, saat ini dikeramatkan. Peninggalan tersebut seperti makam, sumber air atau yang dikenal dengan nama Sendang Depok, Sungai (yang diyakini bekas tongkat sang sunan), dan Masjid.

Selain itu juga ada beberap benda pusaka seperti sorban, tasbih, tongkat dan lainnya.

Sungai yang membelah Desa Gringgingsari misalnya, oleh sebagian warga dikeramatkan sedemikian rupa. Sungai ini punya makna khusus. Airnya digunakan warga untuk berbagai macam keperluan, namun ada pantangan yang tak boleh dilanggar.

Pantangan atau larangan tersebut, contohnya adalah, wanita yang menstruasi (haid,red)n dilarang mendekati. Mandi di sana adalah aib dan dianggap pelanggaran adat. Ada sanksi moral, minimal dicela dan dibenci warga. Mengotori sungai sama artinya mengotori niat suci orang yang membangun parit tersebut, yakni Sunan Gringging.

Menurut cerita, sungai tersebut dibangun dengan semangat spiritual dan filosofi mendalam. Bukan sekadar garukan tanah tempat mengalirnya air, melainkan di dalamnya menyimpan ajakan persuasif untuk berperilaku suci dan bersikap arif terhadap lingkungan.

Kearifan tersembunyi seperti kisah wali-wali lain di Jawa, Sunan Gringging berdakwah menggunakan pendekatan kultural. Dia tidak hanya berhenti pada kerja fisik (membangun parit) tetapi juga melengkapinya dengan membangun masjid sebagai simbol spiritual dan pusat aktivitas dakwah.

Maka sangat masuk akal jika sungai tersebut dibangun berdampingan dengan masjid, sehingga masyarakat berpikir ulang jika membuang kotoran ke sungai itu.

Sebagai masyarakat agraris, warga Gringgingsari hidup berdampingan dengan sungai, hutan, perbukitan, dan tentunya juga mata air.

Mereka hidup berdampingan dengan alam yang menyimpan kearifan tersembunyi. Parit dan sumber air menjadi metafora untuk menyampaikan pesan bahwa bersahabat dengan lingkungan demikian penting demi menjaga harmoni kehidupan. Menjaga dan merawat parit merupakan sebuah kepatuhan pada hukum-hukum tak tertulis yang diwariskan para pendahulu.

Warga Gringgingsari juga bisa belajar dari mitos dan benda peninggalan Mbah Wali berupa masjid tua, pancuran tempat wudu, tongkat, sorban, tasbih, dan lain-lain.

Mereka juga akrab dengan legenda seputar sepak terjang sang Sunan dalam menyebarkan ajaran Islam dan keberaniannya menghadapi lawan. Warga familiar dengan dongeng dramatikal seperti kisah Ki Lurah Ajar Pendek, tokoh sakti golongan hitam yang menghalangi perjuangan Syeh Abdurrahman.

Sampai sekarang cerita rakyat masih hidup dan terus dituturkan dari generasi ke generasi. Anak usia SD pun akrab dengan cerita di sekitar kampung halamannya.

Dalam masyarakat tradisional kadang ada konsep suci yang khas, bersifat lokalistik, dan tidak gampang dipahami hanya menggunakan logika, misalnya meyakni ada tempat, benda, dan nama khusus yang dianggap "berbahaya" jika dijamah sembarangan.

Sejarah Masjid Al Karomah, Peninggalan Sunan Kajoran

Masjid Al Karomah, adaLah Masjid kuno di Desa Gringgingsari yang pertama kalinya didirikan, Syekh Abdurrahman Kajoran atau yang sering dikenal dengan nama Sunan Kajoran.

Menurut informasi yang didapat GoNews.co, proses pembuatan Masjid ini cukup lama dan berbentuk sangat sederhan.

Dulunya masjid ini masih berbentuk sederhana dan sangat tradisionaL. Rangkaian atapnya atau yang orang jawa bilang "Rangken", masih terbuat dari bambu, atapnya terbuat dari serabut kelapa dan ijuk.

Guna mengaitkan atap dan rangakainnya, Sunan Kajoran mengikatnya dengan tali yang terbuat dari "Penjalin" atau rotan. Sementara untuk tiang penyangganya masih terbuat dari kayu, dindingnya juga terbuat dari anyaman bambu dan kayu.

Sementara mustokonya (Kubah) masjid, menggunakan pengaron/paso (tempat air yang terbuat dari tanah Liat), dan lantainya masih berupa tanah.

Seiring berkembangan zaman, saat ini masjid tersebut sudah banyak dirombak dam menjadi masjid moderen.

Lokasinya pun termasuk mudah didapat, karena berada di tengah desa. Dan memiliki cirikhas terowongan, dimana halamanya menggunakan beton yang tepat diatas jalan desa.

Pemberian nama Al Karomah sendiri, merupakan ide dari Remaja Desa yang tergabung dalam (Remaja Masjid), pada tahun 1987 yang lalu. ***
Kategori:GoNews Group, Umum
wwwwww