Hilang Pekerjaan, Petani di Aceh Utara Tolak Mesin Pemanen Padi

Hilang Pekerjaan, Petani di Aceh Utara Tolak Mesin Pemanen Padi
Selasa, 04 Juli 2017 11:27 WIB
Penulis: Sarina

LHOKSUKON – Sejumlah petani di Kecamatan Meurah Meulia, Kabupaten Aceh Utara, menolak kehadiran mesin pemanen kombinasi (combine harvester) bantuan pemerintah. Keberadaan mesin pemanen padi moderen ini membuat masyarakat kelas bawah kehilangan pekerjaannya.

Salah seorang petani di Meurah Mulia, Suryati, Senin (3//7/2017) mengatakan, dirinya sudah hampir 40 tahun melakukan cocok tanam padi dan ketika masa panen tiba, padinya dipotong secara tradisional dengan sabit, lalu dikumpulkan dan selanjutnya dirontokkan dengan mesin perontok padi.

Pekerjaan tersebut menurut Suryati memakai jasa masyarakat setempat sebagai buruh harian, baik waktu memotong, mengumpulkan, dan merontokkan.

“Masyarakat miskin ini masih butuh pendapatan untuk memenuhi keluarga hidup mereka. Walaupun upahnya hanya berkisar Rp40 ribu hingga Rp60 ribu per hari. Tetapi dengan kehadiran mesin pemotong padi itu menghilangkan pekerjaan mereka lakoni,” katanya.

Ads
Baca: Mesin Pemanen Kombinasi Beraksi, Buruh Tani di Pidie Menganggur

Petani lain, Nuraini juga menyebutkan, jika mesin pemanen tersebut dipakai, banyak pekerja upahan yang akan menganggur, karena menghilangkan pekerjaan musiman mereka. Sedangkan ketika lebaran ini sejumlah masyarakat kurang mampu banyak yang berhutang karena tidak ada pekerjaan.

“Oleh karena itu, kami masyarakat menolak hadirnya mesin pemotong padi tersebut. Karena masyarakat miskin ini masih sangat membutuhkan pekerjaan seperti ini sebab tidak ada perkejaan lain,” ungkapnya.

Secara terpisah, Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib berharap agar bisa dimanfaatkan untuk petani yang memiliki luas areal persawahan tidak mungkin dipanen secara tradisional.

“Saya setuju kalau mereka menolak, tetapi saya juga berharap mesin padi tersebut jangan sampai terbengkalai. Karena tujuan mesin padi tersebut disediakan untuk masyarakat yang memiliki sawah yang luas dan ingin memanen dalam waktu singkat,” ungkapnya.

Cek Mad juga menambahkan, jika ada masyarakat atau petani sanggup memenuhinya permintaan pemilik sawah, maka harus terlebih dahulu mengutamakan orang-orang yang bekerja sebagai upah harian tersebut.

Editor:Kamal Usandi
Kategori:Aceh Utara, Ekonomi
wwwwww