Home > Berita > Umum

Cerita Rafli Kande tentang Manggamat, Dahulu dan Sekarang

Cerita Rafli Kande tentang Manggamat, Dahulu dan Sekarang
Rafly Kande di Manggamat, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, Rabu malam
Kamis, 29 Juni 2017 09:36 WIB
TAPAKTUAN - Anggota Komite III DPD RI, Rafli Kande kembali menginjakkan kakinya di bumi Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Rabu 29/01/2017) malam. 
Kehadiran Rafli ke Manggamat kali ini bukan yang pertama kalinya, namun untuk kesekian kalinya. Akan tetapi kali ini Rafli didampingi oleh tokoh muda Aceh yang kini menjabat komisioner Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, Dr Fajran Zain.
 
Pada acara silaturahmi di lapangan depan asrama pemuda Gampong Koto, Kemukiman Manggamat Kecamatan Kluet Tengah itu, Rafli Kande mengatakan dirinya mengenang sejarah silamnya, sebelum menjadi seniman, tempo hari dirinya pernah berkebun di Manggamat.
 
Ia bercerita bagaimana rintangan yang harus dilintasinya berjalan kaki dari Paya Teuk Kecamatan Pasie Raja menembus pengunungan menuju Manggamat. "Dulu hasil perkebunan dan pertanian di Manggamat ini sangat luar biasa," ujar Rafli. 
 
Rafli mengaku dirinya sedih ketika datang ke sekian kalinya ke Manggamat jalan dari Kota Fajar ke Manggamat saja kondisinya sangat memprihatinkan. Sementara hasil alam Manggamat terus dikuras dibawa keluar. 
 
"Tadi tidak sengaja saya berjumpa dengan Keuchik Gampong Simpang Dua, saya tanyakan kepada beliau apakah kopi Manggamat masih ada, kalau masih saya ingin pesan kopi tersebut. Lalu beliau menjawab tidak ada lagi sekarang," ujar Rafli merasa prihatin. 
 
Rafli juga mengaku dirinya sangat risau dengan apa yang menimpa Manggamat selama ini, di mana hasil alam terus dikuras namun masyarakat kecil justru mendapat dapat bencana.  
 
"Kebijakan-kebijakan yang merusak alam hingga menghadirkan bencana banjir, kebijakan yang tidak pro rakyat jangan lagi dilanjutkan. Saya minta mulai dari Pemerintahan Pusat, Gubernur terpilih bapak Irwandi yang selama ini peka dengan persoalan lingkungan, hingga pemerintah kabupaten untuk menghentikan izin perusahaan pertambangan di Manggamat," teriak Rafli lantang disambut tempuk tangan.
 
Sementara itu, Direktur Aceh Institute Fajran Zain secara tegas mengatakan, di mana-mana kehadiran perusahaan pertambangan tidak membawa dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. 
 
Misalkan di Aceh Utara yang dulunya dikenal sebagai negeri petro dolar penghasil migas, namun setelah puluhan tahun hasilnya dikuras, masyarakat sekitar masih banyak yang hidup dalam kemiskinan, dan yang tersisa hanyalah besi tua. 
 
"Pertambangan hanya memberikan keuntungan besar kepada para investor atau pengusaha, kemudian sebagian biasanya mengalir kepada para pejabat. Sementara masyarakat justru terkadang tak mendapat apa-apa, hanya bencana dan debu saja, " terang doktor lulusan Australia tersebut. 
 
Meskipun pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah Manggamat, Fajran mengaku prihatin dengan kondisinya. 
 
"Tadi menuju kemari bersama rombongan, dinda Delky mengatakan jalan rusak yang kami lewati ini juga bagian dampak kendaraan truk perusahaan dengan beban berat yang melintasi jalan masyarakat, dan sejak 2012 dirinya ke Manggamat hingga detik ini pemerintah juga belum memperbaikinya," pungkasnya.
 
Hal seperti ini sungguh memprihatikan, alamnya dikuras masyarakat justeru mengalami penderitaan. Maka sudah semestinya, pemerintah menghentikan kegiatan perusahaan pertambangan dan kayu di Manggamat, serta membangun akses jalan lintas Manggamat-Kluet Utara.
 
Berdasarkan amatan di lokasi, meskipun hujan seribuan masyarakat terlihat begitu antusian untuk mengikuti acara ini. Acara ini juga diisi dengan tampilan seni dari muda-mudi setempat.
Editor:Kamal Usandi
Kategori:Umum, Aceh Selatan
wwwwww