Memanggul Sanjata, Tradisi Anak-anak Rayakan Lebaran di Bireuen

Memanggul Sanjata, Tradisi Anak-anak Rayakan Lebaran di Bireuen
Sekelompok anak meneteng senjata, di ruas jalan dalam kota Bireuen, sambil menunggu kelompok anak lain untuk saling menyerang dengan senjata mainannya Rabu, (27/6/2017). [Joniful Bahri]
Selasa, 27 Juni 2017 23:49 WIB
Penulis: Joniful Bahri
BIREUEN - Memiliki senjata mainan besar dan mirip senjata asli yang sering dipanggul anggota TNI, menjadi kebanggan tersendiri bagi anak-anak saat merayakan hari raya seperti tahun ini.
 
Di Kota Bireuen misalnya, sekelompok anak-anak umur balasan tahun, dengan gagah meneteng senjata sambil menunggu kelompok anak lainnya yang juga ikut memiliki senjata mainan.
 
“Bila kita tak ada senjata seperti ini, maka anak-anak lain langsung membidik kami dengan senjatanya. Makanya kami juga harus membeli senjata mainan seperti yang lain,” kata seorang anak asal Geulanggang, Bireuen, Riski Saputra kepada GoAceh, Rabu (27/6/2017).
 
Menurut Riski, dirinya dan teman-teman sebaya kerap kali membeli senjata mainan menjelang atau saat lebaran berlangsung.
 
Tidak sedikit dari mereka, setelah memiliki senjata, maka langsung melakukan serangan tembakan ke arah temannya yang lain. 
 
"Ada kebanggan juga bila menenteng dan bisa memiliki senjata mainan, apa lagi bila senjatanya besar mirip punya bapak tentara," ujar anak lainnya, Muksalmina.
 
Seorang pedagang senjata mainan di kawasan Jalan Andalas, Kota Bireuen, Mulyadi kepada GoAceh, Rabu (27/6/2017) menuturkan, saat momen lebaran seperti ini menjadi peluang usaha yang menguntungkan bagi pedagang seperti dirinya.
 
“Mulai hari meugang kemarin, omzet yang di dapatkan dari hasil penjualan senjata mainan ini cukup menjanjikan, keuntungannya bisa didapat hingga 50 persen,” katanya bangga.
 
Diakui Mulyadi, senjata mainan yang kerap laku dan banyak peminatnya rata-rata jenis senjata serbu, seperti AK 47, M16, tak sedikit pula yang meminati senjata laras pendek jenis pistol, dengan harga jual berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 150 ribu.
 
“Sejak kemarin, saya mampu menjual antara 30 sampai 50 pucuk senjata mainan ini, tetapi kebayakan perminatnya senjata laras panjang,” katanya.
 
Kegaduhan anak-anak balasan tahun sambil menenteng senjata mainan saat merayakan hari raya, memang kerap menyisakan kenangan tersendiri, tak kecuali bagi anak-anak pinggiran kota.
 
[Permainan tembak-tembakan ini bisa menimbulkan petaka bagi anak-anak.]
Editor:Zuamar
Kategori:Bireuen, Umum
wwwwww