Oncor dan Imajinasi Takbiran di Kampung Sunan Kajoran

Oncor dan Imajinasi Takbiran di Kampung Sunan Kajoran
Suasana takbir keliling di Desa Gringgingsari. (Muslikhin/GoNews.co)
Minggu, 25 Juni 2017 00:06 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
BATANG - Meski disebagian kota-kota besar takbir keliling dilarang dengan bermacam alasan, namun di salah satu kampung, yakni Gringgingsari, Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang, malam takbiran dengan pawai keliling berlangsung semarak.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, takbir keliling yang diikuti hampir semua usaia tersebut, selalu identik dengan oncor.

Oncor sendiri merupakan sebutan diambil dari bahasa Jawa yang artinya obor. Oncor di kampung ini selalu berupa potongan bambu, kira-kira sepanjang jarak telapak tangan hingga siku orang dewasa, yang di ujung atasnya dimasuki kain bekas yang sudah dicelup ke minyak tanah.

loading...
Namun karena sulitnya mendapatkan minyak tanah, oncor di Kampung Syekh Abdurahman Kajoran (Sunan Kajoran) ini akhirnya diganti dengan solar.

Kain yang dimaksud itu berfungsi sebagai sumbu yang akan menjadi sumber api yang akan menyala setelah mendapat 'asupan' aliran minyak solar.

Seperti halnya di daerah lain, di Indonesia, takbir keliling adalah aktivitas turun temurun yang biasanya digerakkan oleh Remaja masjid setempat.

Dan pastinya, peserta takbir keliling adalah anak-anak. Meskipun ada juga peserta dari remaja, orang tua, dan balita. Para remaja menjadi panitia, orang-orang tua ikut dengan tujuan mengawasi anak-anak mereka yang menjadi peserta, sementara bayi-bayi kadang dibawa karena ibu bapak mereka turut serta dalam takbir keliling.

Hal penting yang hampir tak dapat ditinggalkan dalam takbiran keliling adalah oncor. Panitia Kegiatan Ramadhan bahkan punya petugas khusus untuk membuat oncor. Dimana tugas mereka adalah pergi ke kebun-kebun liar di dekat kampung mencari bambu dan memotong-motongnya menjadi seukuran oncor.

Mereka juga yang harus mencari kain bekas dan menyobek-nyobeknya, mencelupkan kain-kain ke dalam minyak, lalu memasukkannya ke bagian atas oncor.

Sesudah itu, mereka akan menjejer oncor-oncor siap pakai di depan masjid. Nanti, ketika takbir keliling akan dimulai, masing-masing anak yang menjadi ketua regu akan mengambil oncor, menyalakannya, dan membawanya dengan gagah seolah sedang membawa obor Olimpiade.

Memegang oncor, untuk ukuran orang zaman sekarang, sebenarnya agak merepotkan. Selain pegal jika kita membawanya terlalu lama dengan posisi teracung ke atas, nyala apinya juga panas dan kadang juga mengenai kita dan juga pedih.

Namun disinlah letak keunikannya, sesuatu yang merepotkan tapi justru ia lebih dekat dengan manusia. Sebab, oncor harus dipegang, harus kita genggam, dan itu berarti ia bersentuhan dengan daging kita.

Tak seperti lampu yang sama sekali tak bersentuhan langsung dengan kita, oncor bukan hanya kita lihat sinarnya tapi juga kita rasakan bentuk dan teksturnya. Beratnya harus kita sangga. Panas apinya sangat nyata. Bau minyak juga menusuk hidung kita. Mungkin ini juga yang menyebabkan ia selalu dirindukan, walau hanya sekali setahun.

Di Desa Gringgingsari, Oncor dulunya merupakan salah satu alat penerang bagi seluruh umat. Khususnya bagi yang bepergian malam, seperti ke sungai, ke rumah tetangga, ke sawah, bahkan anak-anak yang mengaji ke tempat ustaznya.

Pada momen takbiran seperti malam ini, yakni Sabtu (24/6/2017), oncor seperti pelita yang menerangi kampung. Sepanjang jalan para orangtua juga remaja, tak henti-hentinya mengeluarkan ponsel dan mengabadikan momen tahunan tersebut.

Dari pantauan GoNews.co, acara yang diikuti warga dua pedukuhan yakni Gringgingsari dan Ujungsari tersebut, berlangsung sangat meriah, dengan berbagai tetabuhan dan pengeras suara. Gema takbir berkumandang, air mata pun tumpah di bumi Kajoran.

Rasa haru dan bahagia sangat dirasakan warga. Apalagi momen tersebut juga mengenang para leluhur dan pencetus desa yang dulunya pertama kali mempopulerkan oncor di desa itu.

Puncaknya, setelah berkeliling di dua pedukuhan, para peserta berkumpul di halaman Balai Desa dan sambil melepas penat dari perjalanan mengitari jalanan yang naik turun bukit. Pihak panitia pun menghiburnya dengan tetabuhan Drum Band dan menyalakan kembang api.

Dengan dinyalakannya kembang api tersebut, maka acara takbir keliling di desa waisata religi tersebut usailah sudah. Saling bersalaman dan saling bermaafan menjadi penutup takbir dengan oncor. ***
Kategori:GoNews Group, Umum
wwwwww