Home > Berita > Umum
Feature

Melihat Kalut, Ibadah Khusus Ramadan di Dayah Abu Tumin

Melihat Kalut, Ibadah Khusus Ramadan di Dayah Abu Tumin
Peserta khalut melaksanakan salat di Dayah Al Madinatuddiniyah Babussalam, Blang Bladeh Jeumpa, Bireuen, Rabu (21/6/2017). [Istimewa]
Jum'at, 23 Juni 2017 11:20 WIB
Penulis: Joniful Bahri

BIREUEN - Selama bulan suci Ramadan, masyarakat Aceh melaksanakan beragam aktivitas amalan untuk menggadakan pahala di bulan penuh berkah ini. Di antaranya khalut, cara ibadah mengasingkan diri di dayah-dayah (pasantren).


Ibadah khusus bersuluk atau khalwat (khulwah) atau bersamadi di setiap 15 Sya’ban hingga akahir Ramadan, atau dalam bahasa Aceh disebut kalut (menyendiri) atau sulok (khalwat).
 
Kata kalut berasal dari bahasa Arab yaitu khalwat yang dikonotasikan menyendiri atau dalam konteks ritual keagamaan dikategorikan bersemedi.
 
Kegiatan ini, biasanya akan tetap terlaksaana dan dilakukan di zawiyah-zawiyah (dayah) yang terdapat mursyid atau syekh (guru) yang dinilai memiliki ilmu di bidang tersebut.
 
Tidak ada proses kusus atau harus diseleksi yang akan mengikuti kegiatan suluk ataupun kalut, pesertanya bisa jadi dari murid-murid di dayahmaupun masyarakat luar yang ingin bersuluk dan memperbanyak ibadah.

Pada inti dari ibadah ini adalah menperbanyak ibadah, zikir dan istigfar yang dilakukan sepanjang hari, baik secara berjamaah maupun sendiri.
 
Ulama karismatik Aceh, Abu Tumin Blang Bladeh--sapaan akrab untuk Tgk Muhammad Amin yang juga pimpinan Dayah Al Madinatuddiniyah Babussalam Blang Bladeh, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen kepada wartawan, Rabu (21/6/2017) menjelaskan, kalut pertama kali dilaksanakan Rasulullah SAW di gua Hiraq.

Kalut yang dilaksanakan para santri Dayah Al Madinatuddiniyah Babussalam ini dan masyarakat untuk bertakarrub, mendekatkan diri kepada Allah SWT di bulan suci Ramadan yang penuh berkah, penuh rahmat serta magfirah,” katanya.
 
Pada intinya, tambah Abu Tumin menjalani ibadah kalut, maka mereka harus beribadah seharian penuh di bulan suci Ramadan, mulai zikir dan beristigfar di bilik khusus dalam dayah, tidak berbicara dengan siapapundan dapat melaksanakan salat berjamaah 5 waktu dengan wajah tertutup kain.
 
Untuk kegiatan ini, tentunya dayah atau  tempat-tempat pendidikan agama salah satu pilar utama dalam pembentukan karakter dan intelektual masyarakat, kendati zamannya sudah berubah. Tetapi ibadah kalut ini masih menjadi tradisi di kalangan santri dan masyarakat Aceh,” terangnya.

Kegiatan ibadah kalut di dayah-dayah di Aceh masih cukup terkenalini dilakukan untuk intropeksi diri seorang hambamenjauhi segala perbuatan tercela serta  melaksanakan ibadah puasa secara lebih sempurna.

“Ibadah ini bentuknya memperbanyak zikir dan istigfar yang dilakukan sepanjang hari, maka akan kita dapatkan ketenangan dalam jiwa,” katanya.
Editor:Kamal Usandi
Kategori:Umum, Bireuen
wwwwww