Harga Cabai Merah Anjlok, Petani Gayo Lues Menjerit

Harga Cabai Merah Anjlok, Petani Gayo Lues Menjerit
Ilustrasi
Jum'at, 23 Juni 2017 10:44 WIB
Penulis: Dosaino Ariga

BLANGKEJEREN – Melorotnya harga cabai di Gayo Lues (Galus) dan membuat para petani jenis tanaman hortikultura ini menjerit. Pasalnya, harga cabai tidak kunjung naik dari Rp2 ribu per kilogram sejak beberapa pekan terakhir. Akibatnya, beberapa petani nekat membiarkan cabai yang siap panen membusuk di pohon.

“Untuk apa kita kutip lagi karena buat capek. Sebab, kerugian yang kami derita tak akan terobati dengan harga cabai yang tak kunjung naik dan tetap bertahan di harga Rp2 ribu sejak beberapa minggu lalu hingga detik ini,” papar salah satu petani di Kecamatan Kuta Panjang, Arun, Jumat (23/6/2017).

Arun juga mengungkapkan kekecewaannya kepada pemerintah daerah. "Jika pemerintah menganggulangi permasalahan ini, tentu persoalan ini dari dulu sudah bisa diatasi," sampainya.

Sementara itu, salah satu pemerhati sosial, Malik mengungkapkan, sebenarnya persoalan naik turunnya harga cabai selama ini, merupakan masalah klasik. Apalagi menurutnya, perbedaan mencolok harga jual petani ke penampung lokal, dan penampung lokal ke pengepul di Sumatera Utara menjadi permasalahan tersendiri di kalangan petani cabai Gayo Lues.

Sebab, dari pantauannya di dua lokasi, yaitu di Kecamatan Blangkejeren--Gayo Lues dan salah satu pajak di Medan--Sumatera Utara, penampung lokal membeli cabai dari petani seharga berkisar antara Rp2-4 ribu per kg.

Selanjutnya ongkos angkutan Gayo Lues ke Sumut seribu rupiah per kilogram. Sementara penampung lokal menolak ke pengepul di Sumatera Utara berkisar antara Rp8-12 ribu per kg. Kemudian di tingkat pengecer di Kota Medan menjual dengan harga Rp13-15 ribu per kilogram.

“Jadi wajar saja petani menjerit dan mengalami kerugian pada masa panen kali ini,” tandasnya. 

Bila saja sambungnya, peran Pemkab Gayo Lues terutama Disdagkop dan UKM aktif dan respen terhadap permasalahan ini, tidak mungkin harga cabai bisa anjlok sampai pada level terendah dan berlangsung lama. Tentunya mengakibatkan petani mengalami kerugian.

Mirisnya, petani bekerja banting tulang di kebun hanya menuai kerugian, tetapi yang menerima hasil mendapat keuntungan besar, seperti para spekulan dan tengkulak pasar.

“Jika Pemkab tidak mengintervensi dan mengontrol langsung permainan pasar ini, bisa dipastikan para petani cabai ini akan terus menjadi korban,” tutur Malik.

Hal yang sama juga diungkapkan pemerhati ekonomi lokal asal Sumatera Utara, Basfan, menilai Pemkab Gayo Lues perlu membuat program khusus menghadapi gejolak harga cabai yang rutin terjadi setiap akhir tahun.

Apalagi, bisnis jual beli cabai ini setidaknya melalui 4 tahapan distribusi, mulai dari petani ke pengepul kecil, lalu ke pengepul besar, kemudian ke pedagang besar, dan terakhir ke pedagang pasar tradisional atau eceran.

“Pemkab harus berani mengambil kebijakan dengan memotong mata rantai distribusi tersebut dengan cara membentuk wadah atau menugaskan BUMD kah atau wadah lain untuk membeli cabai dari petani dengan harga lumayan," katanya.

Lalu mendistribusikan ke wilayah yang harganya tengah melonjak, seperti yang dilakukan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan yang menugaskan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).

"Apalagi, di setiap mata rantai ini pasti menikmati keuntungan, bahkan terkadang ada spekulan yang ambil keuntungan tidak wajar, walau saya akui itu jarang terjadi," ujar Basfan, sembari menambahkan, jika Pemkab serius menangani permasalahan ini, hal tersebut tidak akan terjadi setiap tahunnya.

Terkait hal tersebut, hingga berita ini diturunkan, GoAceh belum berhasil menghubungi pihak Disdagkop dan UKM Gayo Lues, untuk dimintai keterangan tentang aksi yang telah dilakukan pihaknya mengatasi permainan pasar ini.

Editor:Kamal Usandi
Kategori:Gayo Lues, Ekonomi
wwwwww