Home > Berita > Umum
Feature

Makam Batee Balee, Bukti Peradaban Islam di Aceh yang Terbengkalai

Makam Batee Balee, Bukti Peradaban Islam di Aceh yang Terbengkalai
Anak-anak di Gampong Meucat, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, saat membersihkan komplek makam Batee Balee. [Sarina]
Selasa, 20 Juni 2017 14:03 WIB
Penulis: Sarina

LHOKSEUMAWE - Cagar budaya makam Batee Balee merupakan peninggalan sejarah pada masa Kerajaan Samudera Pasai. Batee Balee adalah keturunan ke tiga dari pemerintahan Raja Malikkussaleh. 

Namun sayangnya, makam yang terletak di Jalan Blang Mee, Gampong Meucat, Kecamatan Samudera, Aceh Utara tersebut, kini kondisinya terbengkalai.

Baca: Luruskan Titik Nol Peradaban Islam Nusantara, UIN Ar Raniry Gelar Seminar

loading...
Makam tersebut diperkirakan berusia sekitar 900 tahun. Komplek pemakaman yang menjadi objek wisata ini, kian terkikis oleh waktu tanpa adanya kepedulian dari Pemerintah Aceh.

Batee Balee ini aslinya bernama Sultan Mahmutsyah, keturunan ke tiga pada masa Kerajaan Malikussaleh. Dirinya memimpin di Samudera Pasai pada abad ke 13.

“Sultan Mahmutsyah gugur saat berperang dengan serdadu Mojopahit,” kata salah seorang pengurus makam, Junaidi Ismail, saat disambangi GoAceh.

Lanjutnya, di komplek pemakaman Batee Balee tersebut, ke seluruhannya terdiri dari 120 makam yang terdapat di dua titik berdekatan.

Dalam komplek itu, turut dimakamkan berbagai suku dan etnis seperti, Cina, India dan Aceh.

Mereka merupakan orang-orang  yang lari ke dataran Aceh pada masa itu, selanjutnya dibina oleh pemimpin Kerajaan Samudera Pasai untuk memeluk agama Islam.

Semasa hidupnya, sultan-sultan yang dimakamkan di komplek pemakaman tersebut mencetak mata uang Dirham dengan dibubuhi nama mereka masing-masing.

“Malah sebagian besar mata uang Dirham tersebut sudah ditemukan oleh masyarakat sekitar peninggalan kerajaan Samudra Pasai,” ungkapnya.

Baca: Wapres JK: Masjid Raya Simbol Persatuan dan Peradaban Islam

Selain itu, Budayawan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA), Husaini juga mengatakan, Batee Bale merupakan keturunan ketiga dari kesultanan kerajaan Aceh.

Diawali dari masa Kerajaan Sultan Malik Al-Saleh atau Meurah Silu dan selanjutnya dipimpin Ratu Naritsyah hingga menjadi peradaban Islam yang berkembang dan tersohor di belahan dunia.

Editor:Yudi
Kategori:Umum, Aceh Utara, Lhokseumawe
wwwwww