Home > Berita > Umum

Masyarakat Diminta Melihat Lampion Secara Holistik

Masyarakat Diminta Melihat Lampion Secara Holistik
Wakil Ketua I MPU Kota Langsa, Tgk Zulkarnain
Minggu, 18 Juni 2017 14:06 WIB
Penulis: Dedek

LANGSA - Terkait pro kontra pemasangan Lampion Tenglung dan ketupat oleh Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Langsa di Jalan Iskandar Muda atau toko belakang, Gampong Peukan Langsa Kecamatan Langsa Kota, mendapat tanggapan dari Wakil Ketua I MPU setempat, Tgk Zulkarnain.

Ia meminta kepada masyarakat Aceh dan Kota Langsa khususnya agar melihat lampion secara holistik atau menyeluruh.

“Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lampion artinya adalah lentera yang terbuat dari kertas (penerangan dengan lilin), dipakai pada perayaan atau pesta,” jelas Tgk Zulkarnain kepada GoAceh, Minggu (18/6/2017).

Di Indonesia, lanjutnya, lampion biasa disebut dengan deng long atau dalam tradisi masyarakat Jepang disebut Andon. Itu artinya, lampion bukan hanya milik etnis Tionghoa saja, tetapi merupakan kekayaan budaya banyak bangsa, termasuk Indonesia.

Ads
“Lampion tidak beda dengan baju koko (koko dalam bahwa Tionghoa artinya abang, sedangkan cici artinya kakak), dengan kerah sanghainya yang biasa digunakan untuk salat umat Islam, baju koko dengan kerah shanghai itu adalah atribut dari budaya Cina,” bebernya.

Dosen IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa ini mengungkapkan, pada dasarnya lampion hanyalah atribut budaya atau dekorasi pemanis suasana. Sehingga kehadirannya membuat suatu pesta atau perayaan menjadi lebih semarak.

Di Indonesia, secara historis menurut informasi wikipedia, lampion adalah lampu yang digunakan untuk ronda malam mencari pelaku tindak kejahatan dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama atau ajaran agama manapun.

Realitas sejarah bangsa Indonesia menunjukkan, beberapa daerah di Indonesia menjadikan lampion sebagai bagian dari perayaan tertentu yang dikaitkan dengan umat Islam.

“Beberapa contoh dari hal ini di antaranya adalah tradisi budaya Lampion Ting, yaitu tradisi keraton Surakarta menyambut malam selikuran atau malam ke 21 bulan Ramadan, dimana lampion diarak keliling keraton bersama-sama,” ujar Tgk Zulkarnain. 

Kemudian, sambungnya, tradisi Damar Kurung, yaitu lampion khas dari Kabupaten Gersik untuk menyambut Lailatul Qadar pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadan.

Baca: Lampion-Ketupat Meriahkan Lebaran di Langsa

Editor:Yudi
Kategori:Umum, Langsa
wwwwww