Anggota Satpol PP Tamiang Dituding Minta Uang dari Pedagang

Anggota Satpol PP Tamiang Dituding Minta Uang dari Pedagang
Ilustrasi [Tribunnews]
Jum'at, 16 Juni 2017 14:20 WIB
Penulis: Suparmin

KUALASIMPANG - Penertiban pedagang makanan siap saji di sejumlah warung dan kantin di Kabupaten Aceh Tamiang, malah membuahkan citra tidak baik bagi kesatuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan WH gara-gara ulah seorang oknum personel Satpol PP.

Razia itu terjadi di kantin RSUD Aceh Tamiang di Karang Baru pada Rabu (14/6/2017). Dalam operasinya tersebut, selain terkesan tebang pilih, juga diduga telah melakukan pungutan liar (pungli) berupa materi barang berharga tanpa sepengetahuan atasannya.

"Saya dan adik saya saat dibawa ke kantor Satpol PP, oleh seorang petugas diminta uang sebesar Rp3 juta. Tapi saya tidak ada uang. Akhirnya di sebuah ruangan tertutup kami dimintai uang Rp1 juta. Kalau tidak ada uang, katanya saya mau dijebloskan ke penjara," ujar Yunda, pengelola kantin mi dan warkop kepada GoAceh.

Yunda menyebutkan, dirinya hanya memiliki uang senilai Rp300 ribu, tetapi karena takut dengan ancaman penjara selama setahun, maka uang yang sebesar Rp300 ribu tersebut diserahkan kepada oknum satpol PP itu.

"Untuk mencukupi satu juta, terpaksa cincin emas seberat setengah mayam yang dijari adik saya, Vira Oktavia (18) beserta suratnya kami berikan kepada dia. Padahal rencana kami, cincin itu akan dijual buat biaya beli pakaian sekolah adik yang masuk SMP," ujar Yunda. Oknum itu juga berpesan agar tidak menyampaikan pada siapa siapa.

Sejumlah pemilik kantin juga tidak puas atas perilaku dan sikap tebang pilih pihak Satpol PP dan WH saat menggelar razia. "Di samping kami, ada kantin buka dengan menjual nasi, tapi kenapa tidak kena sanksi apapun. Saat kami tegur, katanya kantin itu menjual nasi untuk dokter. Padahal kami dan orang banyak pun tau kalau saat itu ada pengunjung pasien yang sedang makan nasi di kantin itu," imbuh Yunda.

Kasat Pol PP dan WH Aceh Tamiang, Ahmad Yani, pascainsiden menggelar rapat bersama jajaran dan anggotanya. "Saat saya tanyakan, pengakuannya hanya menyampaikan secara aturan tentang Qanun nomor 11 tahun 2002 pasal 22, mungkin hanya terjadi miskomunikasi aja," katanya.

loading...
Ahmad Yani menyebutkan, anggotanya hanya mengakui menerima uang sebesar Rp300 ribu dari pedagang Yunda dan adiknya Vira Oktavia sebagai uang jaminan. "Sudah saya tanyakan sama anggota, bahwa katanya dia tidak ada menerima cincin emas yang dimaksud," pungkas Ahmad Yani.

Editor:TAM
Kategori:Aceh Tamiang, Umum
wwwwww