IPW Minta Polri Serius Antisipasi Arus Mudik: Jangan Sampai Kasus Neraka Brexit Terulang

IPW Minta Polri Serius Antisipasi Arus Mudik: Jangan Sampai Kasus Neraka Brexit Terulang
Istimewa.
Selasa, 13 Juni 2017 09:29 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Antisipasi Polri terhadap jalur mudik di wilayah Jawa Tengah patut diapresiasi karena sudah cukup maksimal. Kapolri Tito Karnavian sepertinya tidak mau kasus "neraka Brexit" di musim mudik 2016 terulang, dimana arus mudik terjebak macet puluhan jam akibat kraudit di Pintu Tol Brebes Timur.

Dimana Ind Police Wacth (IPW) mencatat, 17 pemudik tewas akibat kelelahan akibat "neraka Brexit". Para korban tewas tanpa upaya pertolongan maksimal dari pemerintah sebagai pengelola jalan tol, padahal beberapa bulan sebelumnya Presiden Jokowi mengatakan pintu tol Brebes Timur menjadi solusi bagi pemudik karena akan memperlancar arus mudik.

"Bagaimana pun kasus "neraka Brexit" tidak boleh terulang lagi di mudik 2017 ini," ujar Neta S Pane, selaku Ketua Presidium Ind Police Watch, Selasa (13/6/2017) di Jakarta.

loading...
Upaya antisipasi maksimal sudah dilakukan Polri bersama Departemen Perhubungan dan pemda setempat. Namun IPW mencatat, antisipasi maksimal untuk arus mudik itu hanya dilakukan di jalur tol, lebih khusus lagi di jalur keluar di kawasan Jawa Tengah.

Ads
"Sementara di jalur jalan arteri dan di jalur pintu keluar Jakarta, sepertinya terabaikan. Padahal jalur keluar arus mudik di wilayah ibukota Jakarta ibarat "lingkaran setan"," tandasnya.

Masih kata dia, di jalur tol, jalannya menyempit seperti 'tutup botol', sementara jalur arteri tidak terurus dengan maksimal, sehingga tidak layak dijadikan sebagai jalur alternatif mudik.

"Catatan IPW menunjukkan, Jakarta sebenarnya memiliki 4 jalur pintu keluar menuju jalan arteri Jalur Pantura. Yakni Jalan Pulogadung-Bekasi, Jalur Klender, Jalur Kasablanka dan Jalur Kalimalang. Tapi keempat jalur ini sangat tidak layak karena tidak pernah diurus secara serius oleh pemerintah," tukasnnya.

Masih lanjut Neta, Jalur Kalimalang masih rusak parah akibat pembangunan jalan tol. Namun keempat jalur ini menjadi jalur utama bagi pemudik bersepeda motor.

"Ironisnya, tidak satu pun ada pejabat pemerintah yang melakukan sidak untuk mengantisipasi kesiapan keempat jalur mudik, jalan arteri ini. Jalur alternatif ini tidak terurus dan terlupakan, sehingga dikhawatirnya menyimpan kerawanan tersendiri bagi pemudik," bebernya.

Pemerintah dan Polri katanya lagi, ternyata lebih fokus pada jalur mudik tol. Akibatnya, Jalan Tol Jakarta Bekasi pun menjadi andalan jutaan pemudik untuk keluar dari ibukota. Padahal jalur tol itu, saat ini kondisinya "bermasalah" dengan adanya pembangunan monorel.

Sehingga bisa dipastikan Jalur Mudik Tol Jakarta Bekasi akan bermasalah. Sebab diserbu jutaan pemudik dari berbagai arah, mulai dari jalur arteri Cawang, jalur Tol Dalam Kota, Tol Tanjung Priok, Tol Jagorawi dan Tol JOR.

Kondisi ini dikhawatirkan akan membuat arus mudik kraudit dan stagnan, yang akan berimbas pada kemacetan parah di wilayah kota Jakarta. "Artinya, jika di musim mudik 2016 terjadi "neraka Brexit", di musim mudik 2017 dikhawatirkan terjadi "neraka Jakarta Bekasi". Ironisnya, situasi ini belum diantiasipasi pemerintah maupun Polri," terangnya.

Kenapa demikian kata dia, sebab aparatur lebih fokus ke pintu keluar pemudik di Jawa Tengah dan ancaman kraudit di pintu masuk pemudik cenderung terabaikan.

IPW juga berharap, jika di musim mudik 2017 terjadi lagi tragedi seperti di musim mudik 2016, harus ada pejabat yang bertanggung jawab, yakni dipecat atau mengundurkan diri.

"Tidak seperti pada kasus "neraka Brexit" 2016 tidak ada satu pun pejabat yang bertanggung jawab, padahal ada 17 pemudik tewas akibat macet puluhan jam di Brebes Timur. Bahkan pengusutan terhadap kasus "neraka Brexit" tidak pernah dilakukan Polri hingga kini. "Neraka Brexit" yang mengakibatkan 17 pemudik tewas dianggap sebagai peristiwa biasa. Ironis memang," pungkasnya. ***
wwwwww