Feature

Ketika Jaring Bekas dari Pulau Jawa Menuai Berkah di Aceh Timur

Ketika Jaring Bekas dari Pulau Jawa Menuai Berkah di Aceh Timur
Pekerja memperbaiki jaring bekas di Gampong Baro Kecamatan Idi Rayeuk Aceh Timur. [Ilyas Ismail]
Minggu, 11 Juni 2017 11:01 WIB
Penulis: Ilyas Ismail

IDI - Saat ini semakin banyak usaha yang dikembangkan warga berkaitan dengan barang bekas. Salah satunya adalah yang digeluti mantan Panglima Laot Lhok Idi, Junaidi alias Toke Di (58) warga Gampong Baro Kecamatan Idi Rayeuk Aceh Timur.

Toke Di merupakan penyedia jaring bekas atau pukat bekas di Aceh Timur. Peralatan tangkap itu didatangkan dari Pulau Jawa dan dirajut kembali untuk memenuhi permintaan jaring pukat ke seluruh Aceh dengan harga yang lumayan murah.

“Dari Meulaboh, Singgkil, Banda Aceh, Meureudu dan dari daerah-daerah lainnya, banyak pengusaha kapal nelayan yang datang ke sini membeli jaring pukat ini. Meski jaring pukat yang kami sediakan di sini bekas, namun jaring tersebut masih mempunyai kuliatas baik dan bisa menghemat harga hingga 60 persen daripada membeli jaring yang baru,” kata Junaidi alias Toke Di, kepada GoAceh, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (10/6/2017).

loading...
Ia mengisahkan, sejak bisnisnya dirinya hancur karena kapal pukat langgar dan gudang tempat pendaratan ikan miliknya dibakar saat konflik berkecamuk tahun 2001 silam, Ia pun memilih angkat kaki dan merantau ke Pulau Jawa.

“Kitika semua usaha saya di bidang perikanan hancur di Kuala Idi, dengan tidak mempunyai modal saya mencoba hijrah ke Pulau Jawa. Berbekal pengalaman sebagai nelayan, saya pun mencari deerah-daerah berbasis perikanan, seperti Pekalongan, Indramayu, Banten, Bayuwangi dan daerah-daerah lainnya,” katanya.

Namun setelah kembali ke kampong halamannya, pada tahun 2012, Ia mulai merintis usaha jual beli jaring bekas dari Pulau Jawa. Semua jaring bekas itu dijual di rumahnya di Gampong Baro, Kecamatan Idi Rayeuk Aceh Timur.

“Setiap bulan saya mampu mengumpulkan lebih kurang 20 ton jaring bekas dari Pulau Jawa kemudian diangkut ke Aceh dengan menggunakan truk. Jaring bekas dari Pulau Jawa tersebut, disini kami sortir kembali, yang koyak-koyak kita jahit kembali dan yang telah pudar kita warnai kembali dengan pewarna. Kemudian kita jual setengah dari harga jaring baru,” kata Toke Di.

Untuk merajut jaring bekas dari Pulau Jawa tersebut, Toke Di, menyerahkannya kepada warga miskin yang lihai merajut jaring di seputaran Kecamatan Idi Rayeuk Aceh Timur.

Ternayata usaha jaring bekas milik Toke Di ini juga telah membawa berkah bagi masyarakat miskin sekitar. “Dalam satu bal ongkos rajut jaring yang koyak mencapai Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu, dengan lama rajutan 3 sampai 4 hari,” katanya.

Setelah diperbaiki satu bal jaring bekas dijual dengan harga mulai Rp 3 juta hingga Rp 6 juta. “Jika kita beli yang baru di toko–toko itu bisa mencapai Rp14 juta -18 juta per bal sesuai ukuran. Selisih harga yang baru dengan yang bekas mencapai 60 persen,” sebut Toke Di.

Jaring bekas yang disediakan Toke Di, bukan saja dapat digunakan untuk pukat nelayan, namun Ia juga menerima orderan jaring pukat untuk pembuatan pagar pengaman. “Kalau untuk bahan sebagai pagar kebun atau perkarangan rumah, jaring bekas lebih tahan dari jaring  yang baru. Karena yang bekas talah lama terendam air laut,sehingga daya tahannya lebih lama lagi,” ujarnya.

Jaring bekas untuk bahan pagar dijualnya dengan harga Rp 40 ribu per kilogram. “Jaring baru paling lama tahan dua tahun, namun kalau jaring bekas yang kami jual untuk pagar bisa tahan sepuluh tahun. Kelebihanya lagi jaring kami memiliki lubang jaring kecil,” papar Toke Di.  

Editor:TAM
Kategori:Aceh Timur, Ekonomi
wwwwww