Feature

Secangkir Rujak Manis Kutablang Saat Berbuka

Secangkir Rujak Manis Kutablang Saat Berbuka
Pedagang rujak manis Kutablang melayani pembeli, selama bulan Ramadan permintaan ujak manis Kutablang meningkat dari hari-hari biasa, Kamis (7/6/2017).
Jum'at, 09 Juni 2017 09:27 WIB
Penulis: Joniful Bahri

BIREUEN - Di bulan Ramadan, warga Kabupaten Bireuen lebih akan terasa lengkap apabila menjelang berbuka, menyediakan secangkir rujak manis untuk keluarganya. 

Aneka campuran berabagai buah-buahan yang terdapat pada rujak manis khas Aceh, saat berbuka puasa tentunya menjadi tradisi tersediri, apalagi bila sempat mencicipi rujak khas Kutablang yang terkenal sejak tahun 1970-an. 
 
Kedai berdinding papan kayu dengan luas sekitar 5x7 meter persegi memberikan pemandangan tersediri bagi pelanggannya, apalagi kawasan itu dekat dengan aliran sungai dan jembatan Krueng Tingkeum yang telah dibongkar. 

Rujak manis Kutablang, yang diolah dari berbagai sari buah, termasuk “buah kumbang” dan sawo ranum ini menjadi hidangan favorit masyarakat untuk berbuka. 

Belakangan, di sepanjang ruas jalan pusat kota Kecamatan Kutablang, banyak warga yang mengadopsi ricikan rujak Kutablang, namun olahan rujak manis milik Jakfar atau lebih dikenal dengan sapaan Pak Guru ini tentu jauh lebih nikmat dari puluhan pemilik rujak manis lainnya. 

Terlepas hadirnya sejumlah pedagang lain yang memadati kawasan itu, tetapi masyarakat kawasan Bireuen, Lhokseumawe dan Sigli, termasuk dari Banda Aceh sudah mengenal rujak manis ala Pak Guru. 

Rujak manis Kutablang, tak hanya didapat pada saat bulan Ramadan, namun ricikan rujak manis milik Jakfar ini juga tetap dijual dan laku dengan manis pada hari-hari biasa. 

Rujak manis Kutablang menyegarkan tenggorokan itu, ternyata mengandalkan gula putih murni tanpa campuran bahan pemanis lainnya. 

Menurut Jakfar kepada GoAceh, Kamis (8/6/2017) mengaku, untuk meramu buah-buahan menjadi rujak manis, maka satu hari akan menghabiskan gula pasir sekitar satu sak lebih. 

"Tapi kalau bulan puasa seperti tahun ini, takaran gula asli yang dibutuhkan bisa tiga kali lipat. Sebaliknya, bila cuaca kurang mendukung, musim penghujan, maka pelanggan dipastikan juga berkurang,” katanya. 
 
Selama bulan puasa, permintaan rujak memang meningkat, namun penjualannya tetap dilakukan sore harinya. 

Pantuan GoAceh menjelang berbuka, warga sudah memadati rujak milik Cekgu itu dengan harga jual Rp12 ribu per kantong plastik. 

Pada momen Ramadan, permintaan melonjak tinggi dari har-hari biasa. Hal ini ditandai banyaknya pembeli lokal atau luar daerah yang rela antre dari jam 4 sore hingga menjelang azan Magrib hanya untuk mendapatkan beberapa bungkusan rujak manis. 

Kendati banyak pedagang kaki lima lain yang memanfaatkan rujak manis Kutablang. Tentu cita rasanya sejauh berbeda, bahkan para pembeli sudah mengerti akan keaslian rujak Pak Guru itu. 

Kecuali samping kios Pak Guru, Muslem saudaranya sendiri ikut mengguluti usaha yang sama, membuka usaha rujak manis secara mendiri, meski sebelumnya ia berguru di tempat Pak Guru.   

Menurut Muslem, menu yang disediakan di kedai itu tidak beragam. Hanya segelas rujak manis. Namun, semua pelanggan cukup puas menikmati segelas rujak buah yang menyegarkan itu. 

"Ada perbedaan rasa dengan rujak manis lainnya. Tapi racikan rujak yang satu ini jauh berbeda, terutama aroma dan rasa yang disajikan menjadi rujak. Luar biasa nikmatnya,” ujar seorang warga Kota Juang, Bireuen, Herman.  
Ads
Editor:Kamal Usandi
Kategori:Ekonomi, Bireuen
wwwwww