Home > Berita > Umum

Sebagian Produser Musik di Aceh Gulung Tikar Akibat Hal Ini

Sebagian Produser Musik di Aceh Gulung Tikar Akibat Hal Ini
Rais Azhari (kanan) bersama penyanyi Aceh, A Bakar AR (kiri). [Ist].
Selasa, 06 Juni 2017 03:40 WIB
Penulis: Jamaluddin Idris
LHOKSUKON - Sebagian produser musik di Aceh mulai enggan memproduksi musik asli ciri khas Aceh. Karya seni mereka dianggap kurang diminati pada zaman dewasa ini akibat banyaknya produksi musik plagiat yang cenderung lebih diminati.

Hal itu disampaikan salah seorang produser musik ciri khas Aceh, Rais Azhary saat berbincang dengan GoAceh, Senin (5/6/2017). Dikatakan, era kekinian, masyarakat cenderung lebih suka dengan musik bernuansa komedi dan musik plagiat yang hanya diubah bahasa lirik menjadi bahasa Aceh, seperti yang diambil dari lagu India dan lagu nasional populer.

"Secara tidak langsung, para kami-kami (produser) ini gulung tikar alias enggan memproduksi musik yang benar-benar bernuansa adat dan budaya Aceh. Kalaupun? diproduksi, rugi kami," kata Raiz Azhari.

loading...
Masyarakat, kata Rais, tanpa mengetahui manfaatnya sudah terbawa arus menyukai musik plagiat saat ini. Sehingga dampaknya sangat berpengaruh terhadap para produser-produser seperti dirinya.

"Kemudian harga CD original pun sangat murah laku dijual di pasaran, yakni cuma Rp15 ribu per keping. Hal ini tidak cukup untuk jika disesuaikan dengan biaya produksi yang tentunya membutuhkan banyak biaya," imbuhnya.

Diharapkan, untuk memajukan musik asli daerah, pemerintah semestinya memperhatikan keberadaan dunia entertainment di Aceh saat ini. Hal itu tak terlepas dari pentingnya promosi karya seni yang bersifat memperkenalkan adat dan budaya Aceh pada dunia.
Kategori:Umum, Aceh Utara
wwwwww