Selain Bertemu Menteri ESDM, Bocah Penemu Listrik dari Pohon Kedondong Juga Silaturahmi dengan Panglima TNI

Selain Bertemu Menteri ESDM, Bocah Penemu Listrik dari Pohon Kedondong Juga Silaturahmi dengan Panglima TNI
Menteri Jonan saat menerima Naufal di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat 19 Mei 2017 (Dokumentasi Kementerian ESDM)
Minggu, 04 Juni 2017 07:22 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Safari Ramadhan 1438 H yang diselenggarakan di Kodam IM, Rabu (31/5/2017) lalu, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo didampingi Ketua Darma Pertiwi berkesempatan berbicara langsung kepada Naufal Raziq bocah asal Kota Langsa, Aceh.

Naufal Raziq merupakan salah satu bocah yang menemukan sumber listrik dari pohon kedondong. Walau hanya bocah Kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri, tapi dia adalah penemu energi listrik dari pohon kedondong (Spondias Dulcis Forst).

Pada kesempatan itu Naufal Raziq menyampaikan kepada Panglima TNI, bahwa untuk menghasilkan energi listrik (pada pohon kedondong), pohon itu dipasangi rangkaian yang terdiri pipa tembaga, batangan besi, kapasitor, dan dioda.

loading...
"Dari pohon kedondong itu, bisa menghasilkan daya sebesar 0,5–1 Volt per elektroda," jelas Naufal Raziq yang merupakan putra pertama dari tiga bersaudara pasangan Supriaman dan Deski.

Naufal menjelaskan, arus listrik yang dihasilkan sangat bergantung kepada kadar keasaman pohon. Melalui beberapa evaluasi dan perbaikan, penemuan pohon listrik itu telah mampu menerangi puluhan rumah di Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Langsa,  untuk pencahayaan lampu pada malam hari.

Penemuan Naufal ini memang tidak datang begitu saja. Bahkan tidak hanya dari sekolah. Dukungan sang ayah sangat membantu dalam percobaannya tersebut.

Sebelum bersilaturahmi dengan Panglima TNI, Naufal juga sudah bertemu dengan petinggi negeri ini. Salah satunya adalah Menteri ESDM.

Naufal didampingi ayahnya Supriaman, dan guru pembimbingnya Jamaliah bertatap muka langsung dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (19/5/2017).

Pada pertemuan tersebut Menteri ESDM berpesan kepada Naufal untuk tetap fokus dan semangat mengembangkan diri sebagai inventor (penemu), sehingga bisa mengembangkan temuannya lebih lanjut.

"Apapun penemuannya itu, diharapkan dapat bermanfaat untuk masyarakat dan jangan sampai hanya berfikir untuk kepentingan diri sendiri," ujar Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Komunikasi Publik, Hadi M. Djuraid, saat mendampingi Naufal memberikan keterangan pers.

Hadi menyampaikan bahwa Menteri Jonan juga mengarahkan bahwa ke depan akan ada anggaran dari Kementerian ESDM untuk pengembangan riset Naufal lebih lanjut. "Jadi nanti akan ada pendanaan pengembangan dari temuan dari Naufal ini menggunakan anggaran dari Kementerian ESDM," kata Hadi dalam rilis Kementerian ESDM.

Kepada Menteri ESDM, Naufal bercerita, penemuannya berawal dari kesukaannya akan pelajaran IPA. Saat SD, Naufal mencoba membuat listrik sederhana dari lempengan tembaga dan logam yang dimasukkan ke dalam kentang yang menghasilkan tegangan.

Jadi terpikir, di buah kan mengandung asam. Tentu saja di pohon juga mengandung asam. Tapi pohon apa?” ungkap Naufal yang kini duduk kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Langsa.

Dari situlah, lanjut Naufal, ditemukan listrik dari pohon kedondong ini. Sebelum pohon kedondong, Naufal bereksperimen dengan pohon mangga, belimbing, dan juga asam jawa. Waktu yang dibutuhkan meneliti semua itu sekurang-kurangnya 3 tahun.

"Kenapa saya menggunakan kedondong pagar, itu karena kedondong pagar memiliki batang yang besar. Mudah tumbuhnya. Jika kita buka kulitnya, dia tidak busuk. Malah menyembuhkan dirinya, recover," papar Naufal.

Menurut Naufal, sebagai sumber penerangan dibutuhkan sekitar 4 pohon kedondong pagar untuk satu lampu, dengan menggunakan jenis lampu Hannoch (jenis lampu emergency).

"Strukturnya kita ubah ke lampu DC dengan menggunakan inverter. Jadi hasil dari pohonnya pun kita sesuaikan dengan lampunya," ujarnya.

Sedangkan untuk pembuatan alat energinya, Naufal menjelaskan tembaga dan logam menjadi kunci penting yang berfungsi untuk mengubah asam menjadi listrik. Soal biaya yang dibutuhkan, Naufal menjelaskan untuk sekitar 2 lampu atau 1 rumah membutuhkan sekitar Rp 1,2 juta. ***
Sumber:berbagai sumber.
Kategori:GoNews Group, Pemerintahan, Aceh
wwwwww