Petani Gayo Lues Keluhkan Harga Cabai yang Terus Merosot

Petani Gayo Lues Keluhkan Harga Cabai yang Terus Merosot
Ilustrasi. [Foto Istimewa]
Jum'at, 02 Juni 2017 11:34 WIB
Penulis: Dosaino Ariga

BLANGKEJEREN – Para petani cabai di Gayo Lues (Galus) mengeluhkan harga jenis tanaman holtikultura ini. Pasalnya, para tengkulak maupun para toke yang membeli cabai langsung ke petani, hanya membeli dengan harga Rp2 ribu rupiah per kilogramnya.

"Bagaimana para petani cabai tidak mengeluhkan harga, tadi para tengkulak hanya mau membeli cabai kami seharga Rp2 ribu rupiah. Harga ini tentu jauh dari harapan, jangankan untung mau didapat, malah buntung yang ada. Sebab, dengan harga segitu modal tanam juga gak kembali," keluh salah satu petani cabai, Radianto, warga Bener Kecamatan Kutepanyang, Jumat (2/6/2017).

Dia meminta Pemkab setempat mengambil langkah bijak terkait harga cabai yang terus merosot tajam ini.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Gayo Lues, Nopal, mengakui harga cabai merah di Negeri Seribu Bukit ini terus merosot tajam. Bahkan ia mengkhawatirkan, jika harga cabai terus begini, para petani komoditi tersebut kemungkinan besar enggan menanamnya. Padahal Gayo Lues sudah ditetapkan sebagai kawasan sentra produksi cabai di Aceh.

“Kami sangat memahami keluhan para petani terkait harga yang terus merosot, tetapi tugas kami hanya untuk meningkatkan produksi dan Alhamdulillah sudah berhasil,  namun jika untuk harga dipasaran, itu tentu bukan ranah kami,” kata Nopal.

Namun demikian, hampir semua komoditi  pertanian harganya sangat ditentukan oleh hukum pasar, dalam artian, jika produksi naik dan permintaan tetap, maka harga akan turun.

Akan tetapi, khusus komoditi padi dan jagung ada harga pembelian pemerintah (HPP)-nya, sampai Nopal dan berharap, menyongsong Idul Fitri nanti, jangan sampai para petani cabai menghadapi duka lara, semoga ada kebijakan yang berpihak dan melindungi  para petani cabai Gayo Lues.

Sementara itu, Ketua LSM Topan RI, Norman Sembiring, yang juga pemerhati pasar ini menilai, untuk bisa mempertahankan harga cabai di level wajar, sebenarnya tak bisa dilepas ke mekanisme pasar, karena yang akan diuntungkan bukan para petani, tetapi para tengkulak, makelar, toke atau sejenisnya.

“Seharusnya Pemkab Gayo Lues dalam hal ini Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM setempat, tidak tutup mata dengan keluhan masyarakat, terutama keluhan para petani cabai terkait anjloknya harga, seharusnya mereka sudah bisa mengambil langkah - langkah guna  mengantisipasi dan menstabilkan harga komoditi pertanian dan perkebunan, dengan harapan, para petani tidak mengalami kerugian dan berimbas pada perekonomian masyarakat petani,” tegas Sembiring.

Menurutnya, sudah saatnya Gayo Lues mempunyai badan usaha untuk melindungi harga komoditi pertanian dan perkebunan, sehingga petani bisa sejahtera. Bukan seperti sekarang, hanya para tengkulak yang kaya, sedangkan para petani untuk keperut saja susah.

“Inovasi itu penting untuk kesejahteraan petani," tandasnya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan nomor, 63/M-DAG/PER/9/2016, tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen, yaitu harga cabai merah besar dibeli dari petani sebesar Rp15 ribu kemudian dijual ke konsumen seharga Rp28.500.

Editor:Kamal Usandi
Kategori:Gayo Lues, Ekonomi
wwwwww